Rejang Lebong

by : Taufik Rahzen
REJANG Lebong, kabupaten di Bengkulu yang pusat pemerintahannya berada di Bukit Besar, memiliki kedekatan dengan angka “empat”, seperti “Empat Ajai” dan “Rejang Empat Petulai”. Konsepsi macam itu bisa menandai orang-orang Rejang memiliki wawasan geopolitik mengenai ruang persebaran mereka di Bengkulu.Suku bangsa Rejang, salah satu suku dengan sebaran populasi yang terbesar di Bengkulu, berasal dari kawasan ini. Sebelum terkenal dengan nama Rejang Lebong, kawasan ini menyandang beberapa nama, di antaranya adalah Renah Sekawi, Pinang Belapis atau kerap juga disebut Kutai Belek Tebo.

Sebelum mengenai tata sosial yang relatif rapi, orang-orang Rejang di Lebong hidup dengan cara nomadik. Dalam tambo orang-orang Rejang, periode ini kerap disebut sebagai masa “Meduro Kelam”.

Tatanan sosial mulai rapi setelah orang-orang Rejang mengenal institusi yang disebut “Ajai”. Secara sederhana, Ajai merupakan sosok yang dihormati oleh orang-orang Rejang. Seseorang ditetapkan sebagai Ajai melalui permufakatan komunal. Dialah yang memimpin orang-orang Rejang.

Tambo orang-orang Rejang mengenal empat orang Ajai yang paling masyhur. Mereka adalah Ajai Bintang yang memimpin di Pelabai, Ajai Siang yang memimpin di Siang Lekat, Ajai Begelan Mato yang memimpin di Kutai Belek Tebo, dan Ajai Malang yang memimpin di Bandar Agung/Atas Tebing.

Orang-orang Rejang memang akrab dengan angka “empat”. Selain mengenal empat Ajai legendaris tadi, orang-orang Rejang juga mengenal semacam konsepsi geopolitik yang disebut dengan “Rejang Empat Petulai”. Tambo orang-orang Rejang menyebut dari dari konsepsi “Rejang Empat Petulai” inilah nama “Lebong” akhirnya muncul.

Konsep “Rejang Empat Petulai” ini muncul pada masa kepemimpinan para Ajai tadi, terutama setelah kedatangan empat orang biku/biksu dari tlatah Jawa, disebut-sebut diutus oleh penguasa Majapahit. Kemungkinan karena dari Majapahit itulah empat orang biku tadi awalnya ditolak orang-orang Rejong yang khawatir mereka akan dijadikan wilayah kekuasaan Majapahit dan kelak diwajibkan menyetor pajak dan upeti. Mereka juga khawatir kebudayaan dan bahasa Jawa akan dipaksakan untuk diterapkan.

Tetapi empat biku itu ternyata bersikap amat kooperatif. Karakter dan laku keseharian mereka malah berhasil memikat orang-orang Rejang yang terbagi ke dalam empat wilayah tadi dan bahkan dipercaya untuk memimpin masing-masing wilayah. Dari situlah konsepsi “Rejang Empat Petulai” itu muncul.

Petulai sendiri secara sederhana bisa dianggap sebagai sebuah model dari sistem kekerabatan khas orang-orang Rejang. Dalam versi yang lain, petulai bagi orang-orang Rejang kadang diartikan sebagai tiang. Rejang Empat Petulai, dalam definis terakhir tadi, bisa dipahami sebagai “empat tiang yang menyangga dan memersatukan orang-orang Rejang”. Konsep ini penting mengingat orang-orang Rejang sendiri tersebar di beberapa wilayah yang lumayan berjauhan.

Orang-orang Rejang kini tersebar di beberapa kabupaten di Bengkulu, dari mulai Kabupaten Lebong, wilayah Merigi dan terutama di Rejang Lebong sendiri. Khusus di Kabupaten Rejang Lebong, orang-orang dari suku Rejang paling banyak berkumpul di Kecamatan kecamatan Kota Padang, Padang Ulak Tanding, dan Sindang Kelingi.

Orang-orang Rejang sendiri sempat berhasil membangun sebuah kerajaan kecil yang beberapa sumber menyebutnya sebagai Kerajaan Sungai Lebong. Diperkirakan, Kerajaan Sungai Lebong ini muncul sekitar abad 14, kurang lebih hampir bersamaan dengan Majapahit di Jawa. Pusat pemerintahannya berada di Curup yang sekarang menjadi ibukota Kabupaten Rejang Lebong.

Kendati demikian, Curup sempat tenggelam. Sewaktu kawasan Rejang Lebong diberi status sebagai Afdeling Rejang Lebong, pemerintah kolonial Hindia Belanda menunjuk Kepahiang sebagai ibukota Afdeling Rejang Lebong. Kepahing kini menjadi ibukota Kabupaten Lebong yang merupakan hasil pemekaran dari Kabupaten Rejang Lebong.

Sumber:http://jurnalnasional.com/?med=tambahan&sec=Nusantara&rbrk=&id=41997&detail=Jurnal%20Republik

Berpaling pada Kekayaan Lokal

by : Dodi Ahmad Fauji

Globalisasi sudah di depan mata, dan siapa pun susah menapis angin globalisasi yang berembus begitu kencang. Imbasnya memang keseragaman yang berhasil dimainkan dengan gemilang melalui mesin-mesin kapitalisme. Semua sedang menuju ke ‘seragaman’. Makanan seragam: Coca Cola atau Mc Donald. Selera musik didikte: Pop, R&B, Rock, Jazz, pokoknya musik serba pop culture.

Suka Hardjana lewat buku Corat-Coret Musik Kontemporer Dulu dan Kini (MSPI: 2003), memberi istilah untuk globalisasi musik dengan bahasa satir: “penjajahan selera”. Di sebalik penjajahan selera ini, yang diuntungkan ialah pemodal yang bergerak di bidang industri musik hiburan. Tak terlintas dalam benak mereka wacana apresiasi atau penghayatan atas musik tradisi yang sesuai dengan kepribadian bangsa. Bagi mereka, semakin banyak orang mendengar Britney Spears, semakin gemerincing fulus mengalir ke celengan mereka.

Tetapi, globalisasi akan sampai pada titik jenuh ketika semua serba seragam. Orang akan kembali melirik yang unik, menengok tradisi. Musisi Eropa sudah lama menyadari hal itu, dan sudah mulai melirik musik-musik di luar Barat, atau dalam bahasa sopan menyebut musik tradisi dengan world music, atau from another world. Muncullah para musisi yang melakukan eksperim-eksperimen dengan bunyi, tempo, nada, dan tone.

“Para musisi Eropa sekarang sedang mengumpulkan sebanyak-banyaknya tuning dari berbagai bangsa, termasuk dari kita. Mereka sudah bosan dengan musik modern. Tapi kita malah ingin jadi Barat, main musik pop terus,” kata musisi Fahmi Alatas, Kamis lalu.

Menurut Fahmi, sekaranglah saatnya musisi Indonesia untuk tampil di dunia
internasional, sebab kita memiliki begitu banyak tune musik di berbagai daerah. “Di Pulau Jawa saja, yang basik musiknya pelog dan slendro, ternyata ada ratusan tune. Tiap daerah memiliki tune masing-masing.”

Tune yang dimaksud, bila disederhanakan artinya tangga nada. Namun kebanyakan dari kita menyebut tangga nada untuk musik-musik Nusantara dengan istilah pentatonik (lima tangga nada).

Tetapi ada banyak kendala dalam belantika musik di Tanah Air. Kita sudah terlampau dijajah oleh selera pop, sehingga seakan pop itu adalah musik yang universal dan bisa didengarkan oleh sebanyak-banyaknya kuping bangsa ini. Pengamat musik Ben Pasaribu membenarkan bahwa memang ada penjejalan selera itu. Meski demikian, ia menuturkan, “Musik itu sama dengan rumah makan. Pengunjung akan memilih menu yang sesuai dengan seleranya,” katanya, Kamis kemarin.

Barangkali benar kita tidak musti membicarakan mau main musik pop atau tradisi,
dangdut atau klasik, yang penting bermain musik dengan benar. Tetapi ada suatu
kekhawatiran jika kita terus mengikuti selera orang luar, kita hanya menjadi pengguna dan penikmat produk mereka. Uang mengalir terus ke negara-negara yang sudah sejahtera. Sementara musik tradisi kita, karena kurang dipertarungkan, akhirnya malah bisa mati ditelan gelora zaman.

“Dari sisi itu memang ada benarnya. Tetapi sulit kita menyodorkan selera musik
tradisi Nusantara ke masyarakat, kecuali pendidikan apresiasi terhadap musik di
sekolah-sekolah dapat diajarkan dengan benar,” kata Ben.

Pendidikanlah memang yang menjadi tumpuan perbaikan bangsa ini, perbaikan selera maupun perbaikan nasib perekonomian. Dan pendidikan tidak cukup hanya melalui sekolah-sekolah formal.

“Aku terus berjuang mengajak para seniman, terutama seniman tradisi agar mau membuka diri. Mau belajar, dan memenuhi bagasi mereka dengan berbagai bebunyian. Ini bagian dari pendidikan juga,” demikian Fahmi berpendapat.

Fahmi merasa optimis bahwa musik kita bakal maju dan dilirik bangsa luar jika kita sanggup memodernisasi musik tradisi. Mengapa tradisi, sebab seperti dituturkan Fahmi di atas, hasanah musik tradisi kita amat kaya corak dan bunyi, dan justru ini memikat orang luar. Musik tradisi bisa diolah dalam bentuk eksperimental.

“Anehnya, justru musisi kita ingin menjadi Barat ketika musisi Barat ramai-ramai
mempelajari musik tradisi dari berbagai belahan bangsa lain untuk memperkaya musik mereka,” kata Fahmi.

Dalam pada itu, Fahmi menyayangkan para musisi tradisi juga terlalu bersikukuh
dengan pakem-pakem mereka selama ini, dan kurang terbuka untuk menerima musik dari luar. Mereka selalu mendikotomikan antara musik modern dan musik tradisi.

“Akhirnya saya bilang ke mereka, nah itu kau bisa berkomuniksai dengan bahasa Jawa lewat handphone. Tak musti bicara dalam bahasa Finlandia sekalipun handphone yang kita gunakan merupakan produk Finlandia. Dengan kata lain, kita bisa memainkan musik tradisi sekalipun menggunakan instrumen dari Barat seperti gitar.”

Analogi itu digunakan Fahmi untuk menjelaskan, bahwa dikotomi musik modern dan tradisi hanya berlaku untuk badan, peralatan, dan tidak berurusan dengan jiwa. Kita boleh bermusik dengan instrumen modern, tetapi jiwa ini harus tetap berpihak pada tradisi.

Kata Fahmi, bermain musik tradisi dengan instrumen modern, atau mengawinkan musik tradisi dan modern, bisa disebut bereksperimentasi. Namun Ben yang akademisi itu menerangkan musik eksperimental lebih teoretis. Menurut Ben, musik eksperimental adalah yang bersifat percobaan-percobaan seperti yang dilakukan tahun 70-an oleh Harry Rusli, Amir Pasaribu, Otto Sidharta, Suka Harjana, Slamet Abdul Syukur, atau sekarang dilakukan oleh I Wayan Sadra, Rahayu Supanggah, dan lain-lain.

“Namun yang paling utama bukan musik ekperimen yang musti kita bicarakan, tatapi membina apresiasi jauh lebih penting,” kata Ben. Doddi Ahmad Fauji

Sumber: http://jurnalnasional.com/?med=tambahan&sec=OASE%20BUDAYA&rbrk=&id=38065&detail=OASE%20BUDAYA

Tak Melulu Daun Setawar

by : Sjifa Amori
Perpuisian Indonesia mengalami perkembangan yang, sederhananya, dibagi dalam tiap dekade. Namun pengaruh syair pola pantun masih saja lekat, sadar atau tak sadar.

Di awal tahun 2000-an, ketika masih di tingkat awal bangku SMA, bekal pengetahuan saya akan pantun samalah halnya dengan kebanyakan anak sekolahan seusia itu. Dari pelajaran Bahasa Indonesia, pantun diidentifikasi sebagai sebentuk sajak empat baris dengan sampiran di dua baris pertama dan isi pada dua baris berikutnya.

Dalam adu pantun tingkat kelas, meski hanya untuk saling melempar canda dan menghibur hati di tengah penatnya jam pelajaran, karmina, talibun, dan pantun, seringkali dimanfaatkan. Apa pun nama dan kegunaannya, saya sadar benar bahwa rima a-a ataupun a-b-a-b, dan kesamaan bentuk akhir lainnya yang enak didengar sudah jadi bagian dari bahasa pergaulan yang elok benar.

Walau tak adalah satupun di antara kami yang tahu benar tentang pantun seperti yang diutarakan akademisi sastra Maman Mahayana di bawah ini,

“Pantun itu kesenian tradisional, terutama yang berkembang di wilayah Melayu. Kemudian menyebar ke wilayah nusantara dengan nama yang berbeda-beda. Pantun dipakai tak hanya sebagai kegiatan upacara saja, tapi di semua aspek kehidupan. Karena itu ada pantun anak-anak, pantun kelakar, pantun perkawinan. Jadi pantun itu tidak dibatasi usia, ruang, dan waktu. Perkembangannya dalam perpuisian Indonesia modern begitu kuat karena polanya menekankan pada kesamaan bunyi akhir a-b-a-b.”

Pantun menuntun

Pengertian dasarnya saja tak paham. Apalagi menyerapi maknanya secara filosofis. Seperti yang diungkapkan penggiat pantun Tanjung Pinang, Tusiran Suseno, “Dalam bahasa daerah kita, termasuk Melayu sendiri, kata dasar pantun terdiri dari bunyi tun, yang berasal dari kata menuntun. Jadi pengertian pantun bisa juga mengajak orang dalam kebaikan. Kemudian ajakan ini berkembang tak hanya sebagai karya sastra lisan saja, tapi juga dalam bentuk komunikasi untuk menyampaikan pemikiran.”

Menurut Tusiran yang juga tinggal di Negeri Pantun, Tanjung Pinang, orang Melayu punya tradisi menyampaikan sesuatu dengan tidak blak-blakan, tapi dengan kiasan. Ini terasa lebih indah. Bahkan mengkritik atau marah sekalipun, menggunakan kata berkias. “Kalau orang Melayu memarahi anak, dia nggak akan bilang anaknya kurang ajar. Tapi dibilangnya anak bertuah. Itu artianya anak baik. Pantun punya proses filosofis mengajarkan orang menuju sesuatu yang baik.”

Tapi Maman tak mengingkari bahwa sebaik apa pun nilai yang dimuat sebuah pantun sebagai bentuk kearifan masyarakat, jiwa seniman takkan mungkin dikekang. Artinya, mereka yang menghasilkan karya pasti ingin berinovasi dan mengukir jejak eksistensinya dengan menawarkan sesuatu yang baru. Meski harus bergelut antara konsensi dan mendobrak tradisi. “Memang sastrawan berada dalam ketegangan untuk melakukan inovasi karena pantun dianggap begitu ketat aturannya. Pola larik dan bunyi akhir juga terikat. Ini dianggap menghambat kreativitas.”

Itulah yang kemudian berkembang sebagai semangat puisi modern. Termasuk juga puisi-puisi Pujangga Baru yang sudah bercerita tentang masalah sosial. Meski, kata Maman, tetap ada pola persajakan dengan kesamaan bunyi. Walau tak ada lagi lampiran dan isi.

“Jadi puisi tradisional, tanpa sadar dan tak langsung, tidak bisa dihilangkan begitu saja dalam perkembangan perpuisian di Indonesia. Puncak “perpisahan” puisi tradisional dan modern itu terjadi saat Chairil Anwar muncul. Meskipun dalam beberapa puisi, dia juga masih memperlihatkan persajakan pola pantun. Kemudian baru Sitor Situmorang, pada 50-an, mencoba manfaatkan pantun lagi dalam puisinya,” tutur Maman yang banyak melakukan penelitian ilmiah ilmu budaya dan mendapat banyak penghargaan ini.

Kalau di mata Maman, pengaruh Baratlah yang memberi peluang pada penyair untuk mengeksplorasi diri masing-masing sehingga banyak yang mencoba berpaling dari puisi tradisional. “Padahal dalam puisi tradisional itu tersimpan kekayaan persajakan yang luar biasa. Pokoknya kalau mau menciptakan puisi monumental, saya kira harus mempelajari juga puisi tradisional. Seperti yang dilakukan Sutardji dan Zawawi Imron. Dan juga penyair Riau, seperti Taufik Ikram Jamil.”

Kalau Tusiran lain lagi. Ia memandang keinginan penyair modern untuk lepas dari ikatan larik dan rima pantun mungkin merupakan bagian dari pelarian atas ketidakmampuan kearifan pantun untuk menangani kepentingan di masa ini. Meski ini bukan sesuatu yang mutlak. Misalnya demonstrasi dengan pantun memprotes kebijakan pemerintah, tentulah akan lebih enak dengan pantun sehingga jauh pula dari anarki. Tapi mungkin pejabat sekarang sudah harus diteriaki dengan kata-kata yang keras. “Ya, marah sedikit biasalah. Hahaha.”

Namun dalam masyarakat Melayu, pantun masih jadi bagian keseharian sampai saat ini. “Jadi wajar saja kalau Tanjung Pinang mengklaim diri sebagai Negeri Pantun. Makanya saya tak ingin pantun ini jadi semacam karya lidah saja yang tak bisa dipertanggungjawabkan siapa pengarangnya. Saya sekarang sedang berusaha supaya karysa satra lisan ini bisa jadi karya tulisan. Dengan begini bisa menghindari, misalnya, klaim Malaysia kemarin,” tutur Tusiran yang karyanya Mutiara Karam meraih juara kedua Sayembara Novel DKJ 2006.

Makin mengena

Bagaimana bisa kita tak memelihara pantun, jika sastra ini berisi banyak petuah dan kebajikan, termasuk kebersamaan dan silaturrahmi. Makanya sering pula dijadikan alat memanipulasi maksud sehingga jadi lebih tersembunyi, atau malah jadi makin “mengena” atau “menyentuh”,

Datuk laksamana pergi berlayar. Isi muatan beribu-ribu. Tiga hari perutku lapar. Mohonlah berikan duit seribu. Dengan untaian seperti itu, orang bisa tak sampai hati untuk tidak memberikan,” tambah Tusiran menyontohkan.

Kini, zaman sudah modern dan tema dalam pantun semakin luas. Sampiran tak melulu memuat daun sedingin dan daun setawar, serta herba dan pepohonan lain yang, bagi Tusiran, punya makna filosofis buat masyarakat Tanjung Pinang. Jika Jakarta akrab dengan kata “dong“. Itu pun bisa masuk dalam sajak berima:

“Mari kita makan kedondong. Hati-hati dong. Ini adalah karmina, tak sesulit aturan pantun, tapi aturan persajakan dan persamaan bunyi akhir tetap memupuk kreativitas seseorang dan pengungkapannya menunjukkan kualitas si pemantun,” ujar Maman.

Pujangga Baru saja tak lepas dari pantun. Usia belasan saya juga tak luput dari “jajahan” pantun. Meski diam-diam, saat guru matematika mengajar, kertas yang dilempar dari meja ke meja itu adalah bentuk balas pantun. Bukti bagi pemantun yang paling kreatif di kelas. Paling cepat, paling dahsyat memilih kata, dan paling banyak mengundang tawa. Ular Kadut Masuk Desa.Abu Gendut Banyak Dosa.

Karmina di atas adalah pemenangnya. Hingga hampir 10 tahun masa itu terlalui, karmina ini terus mengingatkan betapa matematika sangat membosankan dan betapa teman saya Abu memang gendut. Kata-kata di dalamnya tak disangka ternyata mampu menyaingi kesan visual yang ditangkap sebuah kamera. Yang terpenting, kini saya baru menyadari bahwa bahasa adalah “senjata”. Dan dia yang menguasai bahasa dalam pantun, dengan aturan yang begitu mengikat, adalah “jagoannya”. Dia pasti cerdas, berilmu, dan tentu saja peka akan segala yang ada dan berlangsung di sekitarnya. Apalagi yang diragukan dari kualitas pemantun handal? Syifa Amori

Sumber: http://jurnalnasional.com/?med=tambahan&sec=Nusantara&rbrk=&id=41997&detail=Jurnal%20Republik