16 Perambah TWA Ditangkap Merambah Sejak 2000

Senin, 12-Mei-2008

http://www.harianrakyatbengkulu.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=1200

SINDANG DATARAN – Setelah beberapa waktu lalu, 84 orang ditahan karena merambah TNKS (Taman Nasional Kerinci Seblat), kemarin (11/5) kembali 16 orang diamankan polisi karena melakukan perambahan hutan TWA (Taman Wisata Alam) Bukit Kaba. Tepatnya di wilayah Register 4/50 Desa 4 Suku Menanti Kecamatan Sindang Dataran.


Sebenarnya masih ada ratusan perambah lainnya di sana, namun saat disergap Polhut KSDA, Polhut TNKS dan Dishutbun RL yang berkoordinasi dengan Reskrim Polres RL, hanya 16 orang yang berhasil diamankan. Sedangkan ratusan orang sisanya tidak ada di kebun saat disergap.

Kapolres RL, AKBP. Joni Triharto, SH melalui Wakapolres Kompol Iis Kristian, S.IK melalui Kasat Reskrim, AKP. Syarif Hidayat, S.IK membenarkan penangkapan ini. “Kalau soal merambah hutan terlarang itu orang Polhut tahu persis. Hanya saja saat koordinasi Polhut mengatakan jika kawasan yang dijadikan kebun oleh perambah ini adalah wilayah terlarang,” ujar Syarif.

Guna proses penyidikan selanjutnya, 16 warga yang mayoritas berasal dari Bengkulu Selatan dan Kaur ini ditahan di Mapolres RL. Sementara itu, Kasubdin Keamanan dan Penyuluhan Dishutbun RL, Amir Hamzah Idji menyatakan 16 warganya dipastikan melakukan perambahan hutan terlarang. “Untuk diketahui, dari batas wilayah TWA ini kebun mereka berada sekitar 3 kilometer dari batas. Makanya sudah pasti mereka ini melakukan perambahan hutan terlarang,” ujar Amir.

Amir sendiri mengakui jika proses perambahan ini berlangsung sejak tahun 2000. Namun sudah sejak lama Dishutbun yang bekerjasama dengan Polhut melakukan sosialisasi jika kawasan tersebut dilarang. “Tapi tetap saja mereka acuh dengan sosialisasi tersebut.

Memang mereka ini masuk ke hutan itu tidak seizin dari Kades setempat. Karena sudah disosialisasi masih saja melakukan perambahan, hari ini (kemarin, Red) kita lakukan penangkapan dengan berkoordinasi dengan KSDA, TNKS, serta juga Polres,” papar Amir.

Ditanya mengenai ratusan perambah lainnya yang belum berhasil diamankan kemarin, Amir berjanji akan menjemput mereka. Hanya saja, kata Amir, pihak Lembaga Pemasyarakatan harus menyiapkan ruangan yang banyak untuk perambah ini.

Para perambah hutan TWA ini akan dijerat dengan Undang-Undang Nomor 40 tahun 1999 Tentang Kehutanan. Tepatnya diatur dalam Pasal 50 ayat 3 dengan acaman kurungan penjara maksimal 10 tahun dan denda sebesar Rp 5 miliar.

Perambah Mengaku Tidak Tahu
Sementara itu, dua orang perambah yang ditangkap Evandri (26) dan Tarman (49) mengaku tidak tahu jika kebun itu adalah wilayah terlarang. Dijelaskan Tarman, sebelumnya kebun yang mereka miliki saat ini adalah milik PT. Kepahiang Indah.“PT. Kepahiang Indah berdiri tahun 1986 dan tutup tahun 1998. Setelah PT tutup lahan itu kami kelola untuk pertanian,” jelas Tarman.

Diakuinya, kebun-kebun ini ditanami kopi. Selain itu mereka juga menanam cabai. Saat ini kopi yang mereka tanam sudah mulai panen. Namun belum sempat mereka menikmati hasil kebunnya, jeruji tahanan sudah menunggu mereka.“Sebelum ini tidak ada pemberitahuan. Kalau saja ada pemberitahuan pasti tidak akan terjadi seperti ini. Selama ini kami berkebun disana aman-aman saja. Tapi hari ini (kemarin, Red) tanpa kami tahu sebelumnya, kami dibawa ke kantor polisi,” tambah Tarman.

Ditambahkan Evandri yang mengaku dari Bengkulu Selatan ini, selama ini pihak Polhut sudah lama mengetahui keberadaan mereka. “Dulu kan Polhut sering mengawasi kalau ada orang nebang pohon. Makanya mereka tahu keberadaan kami. Tapi saat itu mereka tidak mengatakan kalau kebun kami itu dilarang,” ungkap Evandri.(pie)

Brimob Curup Temukan 6 Kubik Kayu Di Wilayah Hutan TNKS

Senin, 12-Mei-2008

http://www.harianrakyatbengkulu.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=1201

CURUP – Jajaran Brimob Kompi Pelopor 2 Curup berhasil menemukan sekitar 6 kubik kayu yang tak bertuan. Kayu yang seluruhnya berjenis Meranti/Balam ini ditemukan di hutan TKNS berdekatan dengan Desa Susup Kecamatan Pagar Jati Kabupaten Bengkulu Utara. Brimob berhasil mengamankan temuan ini pada Jumat (9/5) lalu sekitar pukul 22.00 WIB.
Saat ditemukan, kayu-kayu ini dalam kondisi siap diangkut. Karena sudah dalam bentuk kayu balok dan juga papan. Rincian jumlahnya, 73 batang ukuran 7x14x4 meter, 55 batang ukuran 10x10x4 meter, 4 batang balok kaleng, 3 keping papan ukuran 3x25x4 meter serta 1 keping papan ukuran 5x25x4 meter.

Disampaikan Wadanki Kompi Pelopor 2 Curup, Ipda. Doli. M. Tanjung temuan ini berkat informasi yang disampaikan masyarakat kepada persone Brimob yang melakukan pengamanan di PLTA Musi Ujan Mas Kepahiang. “Dari informasi itu, kita langsung melapor kepada Kasat Brimobda Bengkulu, bapak AKBP. Gatot Haribowo, S.IK dan beliau memerintahkan untuk segera mengamankan kayu-kayu itu. Kemudian kita juga berkoordinasi dengan Kasat Polres Kepahiang dan Polres Bengkulu Utara,” ujar Doli kemarin (11/5).

Sayangnya saat sampai di lokasi tersebut, tim Briob dengan kekuatan 15 persone ini tidak menemukan pemilik kayu. Setelah memastikan jika kayu-kayu itu hasil ilegal logging, tim langsung mengamankannya di Pos Satpam Power House yang merupakan pos terdekat dari titik temuan kayu. Setelah berhasil diamankan, kita kembali melakukan koordinasi dengan Polres Bengkulu Utara untuk tindak lanjut temuan ini.

Karena wilayah tempat ditemukannya kayu-kayu ini masuk wilayah Bengkulu Utara, makanya BB (barang bukti) kita serahkan ke Polres Bengkulu Utara,” tambah Doli.

Berdasarkan penuturan Doli, lokasi ditemukannya kayu-kayu ini cukup jauh. Untuk sampai di lokasi tim harus berjalan kaki sekitar 1 jam dari PLTA Musi. Pasalnya, jalan yang ada hanya jalan setapak, jadi tidak memungkinkan jika menggunakan kendaraan motor.“Untuk mengamankan kayu-kayu ke Pos Satpan, kita harus menurunkannya dari daerah perbukitan tempat penemuan.

Kita menggunakan jalur sungai untuk sampai di Pos Satpam. Namun yang pasti, tempat ditemukankannya kayu-kayu ini adalah hutan TNKS,” timpal Doli.(pie)

Bupati Tidak Tolerir Perambah TNKS

RB/Jumat, 11-April-2008

CURUP – Bupati RL, H. Suherman, MM mengatakan, tidak ada toleransi bagi masyarakat yang merambah hutan TNKS (Taman Nasional Kerinci Sebelat). Alasannya, dalam undang-undang sudah dijelaskan, jika hutan TNKS termasuk hutan lindung yang tidak boleh dirambah.“Itu kan hutan lindung. Sudah tahu hutan lindung, tapi masih saja digarap, ya… tanggung sendiri risikonya.

Silakan penegak hukum meneruskan prosesnya,” ujar Bupati Suherman kepada wartawan kemarin (10/4).
Para perambah yang tertangkap kepada RB beberapa hari lalu mengatakan jika mereka tidak tahu bahwa lahan yang digarapnya tersebut adalah hutan TNKS yang dilindungi negara. Menanggapi keterangan warga ini, bupati menyerahkan sepenuhnya kepada penyelidik.

“Kalau mereka mengaku tidak tahu, pasti aparat penegak hukum lebih tahu apakah mereka benar-benar tidak tahu, atau bagaimana,” jelasnya.
Bupati juga mengatakan jika beberapa waktu lalu dia pernah mengusulkan kepada pemerintah pusat agar hutan TKNS tersebut dialihfungsikan. Maksudnya, jika hutan TNKS itu alihstatus, maka masyarakat sekitar bisa memanfaatkannya.

Namun usaha ini gagal. Pasalnya, pemerintah pusat tidak mengabulkan permintaan bupati ini. “Bukannya kita tidak memikirkan masyarakat, tapi sepertinya sulit sekali untuk merubah statusnya agar masyarakat bisa memanfaatkannya. Jadi bukan saya tidak memikirkan nasib rakyat,” ungkapnya.

Walaupun hutan TNKS ini dilindungi negara, namun sejauh ini pemerintah Rejang Lebong belum memperoleh dana kompensasi. Ditanya mengenai kompensasi ini, bupati hanya menjawab jika dia tidak mau mengatur pemerintah pusat.

Dalam pemberitaan RB beberapa waktu lalu, wilayah hutan TNKS ini berada di Desa Bandung Marga Kecamatan Bermani Ulu. Namun setelah diteliti, wilayah ini masuk ke dalam Kecamatan Bermani Ulu Raya.
Camat Bermani Ulu Drs. Arman Kusnandar yang menyampaikan masalah ini. “Dulunya memang masuk Kecamatan Bermani Ulu. Tapi setelah pemekaran, Desa Bandung Marga itu masuk dalam Kecamatan Bermani Ulu Raya,” ujar Arman.(pie)