AMARTA

Sejarah Singkat AMARTA

Aliansi Masyarakat Adat Rejang Tapus Pat Petulai (AMARTA) adalah organisasi masyarakat adat Rejang yang dibentuk oleh beberapa tokoh dan pemuda adat Jurukalang melalui Basen Kutai (Bahasa dan Metode Lokal di Jurukalang untuk menyebutkan musyawarah adat) pada Tahun 1999 bertempat di Desa Tapus Kecamatan Rimbo Pengadang Kabupaten Lebong. Awalnya AMARTA adalah singkatan dari Aliansi Masyarakat Adat Rejang Tapus, kemudian pada tahun 2003 dari proses diskusi ketika dilaksanakannya Sosialisasi Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) di Desa Suka Negeri yang di fasilitasi oleh beberapa aktivis pendukung gerakan masyarakat adat di Bengkulu, setelah kegiatan sosialisasi ini dilakukan ada desakan dari beberapa tokoh dari luar Komunitas Marga Jurukalang mendesak untuk menambah Pat Petulai kepada pengurus AMARTA ketika itu, dengan perubahan nama tersebut akan mengikat kesatuan masyarakat hukum adat Rejang selain Marga Jurukalang

Maka pada Akhir tahun 2003 dilaksanakan Basen Kutai (musyawarah adat) oleh perwakilan masyarakat adat yang tersebar di 15 Kecamatan di lingkup Kabupaten Lebong, Rejang Lebong dan Kepahiang berkumpul di Desa Tapus yang di set dalam bentuk kegiatan Mulang Apei (Kembali ke tanah leluhur) dan menyepakati perubahan nama menjadi Aliansi Masyarakat Adat Rejang Tapus Pat Petulai (AMARTA).

AMARTA pada tahun 2004 menjadi satu-satunya Organisasi masyarakat adat di Bengkulu turut dalam pendukung dan menginisisasi terbentuknya Aliansi Masyarakat Adat Bengkulu AMA Bengkulu).  Saat ini banyak NGO yang ada di Bengkulu menjadi Pendukung bagi gerakan yang dilaksanakan oleh AMARTA antara lain; AKAR Foundation, WALHI Bengkulu, Yayasan Konservasi untuk Sumatera, LPMAL KALAM, POKJA PSDA, KarTI, YMD, LAYAK, Genesis dan lain-lain.

Selain melakukan Advokasi bagi Hak-Hak Adat AMARTA juga aktif memberdayakan adat dan budaya rejang, saat ini AMARTA mempunyai sanggar seni yang dikelola secara swadaya, sanggar ini juga berada di Desa Tapus. 

Visi AMARTA

Memperjuangkan hak akses dan kontrol masyarakat adat Rejang terhadap wilayah adat secara demokratis, berkeadilan dan beradat.

Misi AMARTA

  1. Membangun dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia masyarakat adat Rejang
  2. Mendokumentasikan sistem dan kearifan lokal
  3. Membangun dan meningkatkan keadilan sosial dan ekonomi
  4. Melakukan pengorganisasian masyarakat adat yang produktif
  5. Mengalang dukungan dan jaringan atas kemandirian dan ke swadayaan organisasi

Alamat dan Kontak AMARTA

Hendri S Basrin (Ketua AMARTA)

Jl. Setangai Panjang No 6 Desa Suka Negeri Kecamatan Rimbo Pengadang Kabupaten Lebong Propinsi Bengkulu 39161, Hp: 085273649192 E-mail adat.jang@telkom.net, Web Blog https://amarta.wordpress.com

Iklan

9 comments on “AMARTA

  1. Sering membuat saya sedih ketika mengetahui dalam satu komunitas adat ada saja orang yang seolah ingin melestarikan adatnya, sementara mereka sendiri dalam kehidupannya jauh dari upaya melestarikannya.

    Pernah dalam satu pertemuan dengan pengurus Pusat AMAN di Jakarta, salah satu mereka bercerita kalau salah satu aktivisnya ditolak oleh pemuka adat dan masyarakat tempat kelahirannya karena ia menggunakan celana jeans. Kalau dipikir-pikir benar juga, dari pakaian saja sudah mencerminkan ada satu infiltrasi budaya asing yang dari sana mulai mengikis hal-hal lainnya.

    Lebih jauh, pembangunan Indonesia sejak masa pasca Soekarno telah meluluh lantakkan tatanan adat dengan konsep developmentalism yang dipaksakan oleh World Bank dan lembaga keuangan dunia lain.

    Semoga Amarta bisa membuktikan bahwa ia merupakan lembaga yang bisa mempertahankan kekayaan budaya Rejang yang kita cintai.

    Oh ya, ikut gabung jadi kontributor Simpang Limo yo. Kita coba mengenalkan Bengkulu ke dunia yang lebih luas. Paling tidak mengenai Rejang di blog Simpang Limo bisa ditulis oleh teman-teman dari Amarta ini.

  2. Assalamualaikaum, wr, wb,
    Jano khabar sanok? gen khabar udi sekeluargo. Kondisi Lebong semakin parah, Dalhadi Umar, harusne meker gen akuak ro lak kembang ekonomi kerakyatan, tapi justru sebalikne. Dalhadi sibuk ngen urusan ne, sibuyk melakukan mutasi pejabat pemkab. Gen akauk pejabat o lok kerjo tenang, klang de cang gnitei. Dio menunjukkan nak lem penempatan pejabat o, samo sekilai coa gen perencanaan do mateng.

    Keadaan masyarakat “pribumi” semakin terdesak, lahan semakin sempit, seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk. Sementaro mata pencarian do luyen coa gen. Pola pertanian masiak pola tradisional do mengandalkan luas lahan, iso tehnologi.

    Komoditas pertaniaqn rato-rato jangka panjang, sehinggo sangat rawan paceklik.

    Perlu ade terobosan nak lem hal pertanian, perlu adene Revitalisasi pertanian, dengan terobosan-terobosan do jitu.

    Dengan kjondisi do ade uyo akan sangat rawan konflik horizontal maupun vertikal.
    Gemne? resistensi masyarakat terhadap kebijakan pemriteak lekat.
    Sebagio contoh kasus, kasus pembacokan oleh Mada terhadap Satpol-PP.

    Persoalanne, keadilan te4rhadap masyarakat coa gen, arah kebijakan pembangunan ekonomi kerakyatan samo sekilai coa gen. Padahal dengan kondisi alam dan cuaca yang sangat mendukung terhadap agropolitan-holtikultura. Dio sebeneane potensi untuk dikembangkan.

    Nak ipe posisinu uyo? sadei, bkulau atau?

    Uku uyo nak bangka tapi uku selalu mengikuti perkembangan Bkulau-Lebong, terutamo melalui Internet dan RB Online.

    Salam ngen kuat-kuat, smoga lain waktau ide dapet smamung diskusi lbiak “gayeng” igai.
    Salam ngen tobo wok nak topos, ngen Sugian, Ngen mami.
    Wassalamualaikum ….

    Fakhruddin Halim
    TL Baru

  3. RA.Kartini Seorang Feminis?
    Oleh: Fakhruddin Halim
    Jurnalis Tinggal di Kota Pangkalpinang

    Sejarah, penggal waktu yang telah ditinggalkan. Sejarah, hanyalah saksi bisu yang bergantung pada kacamata manusia untuk membacanya. Sejarah bisa berarti beda jika kacamata baca manusia juga berbeda. Adalah sebuah keharusan untuk membaca sejarah secara obyektif berdasarkan fakta.
    Demikian halnya dengan perjuangan Kartini. Benarkah Kartini pejuang emansipasi dan feminisme? Atau tidak ada hubungannya sama sekali? Maka kita perlu meninjau kembali perjuangan beliau.
    Tangal 21 April bagi wanita Indonesia, adalah hari yang khusus untuk memperingati perjuangan RA Kartini. Tapi sayangnya, peringantan tersebut sarat dengan simbol-simbol yang berlawanan dengan nilai yang diperjuangkan Kartini (misalnya, penampilan perempuan berkebaya atau bersanggul, lomba masak dan sebagainya yang merupakan simbol domestikisasi perempuan).
    Kartini besar dan belajar di lingkungan adat istiadat serta tata cara ningrat Jawa, feodalisme, ia hanya boleh bergaul dengan orang-orang Belanda atau orang-orang yang terhormat dan tidak boleh bergaul dengan rakyat kebanyakan. Kartini tidak menyukai lingkungan yang demikian, ini terlihat dari isi suratnya yang ditujuka kepada Stella, tanggal 18 Agustus 1899 diantaranya: “Peduli apa aku dengan segala tata cara itu, segala peraturan-peraturan itu hanya menyiksa diriku saja”
    Kartini mendobrak adat keningratan, karena menurutnya setiap manusia sederajat dan mereka berhak untuk mendapatkan perlakuan sama. Itu beliau lakukan pada masa di mana seseorang diukur dengan darah keningratan. Semakin biru darah ningratnya semakin tinggi kedudukannya. Ini terlihat dalam suratnya pada Stella tanggal 18 Agustus 1899: “Bagi saya hanya ada dua macam keningratan: Keningratan Pemikiran (Fikrah) dan Keningratan Budi (Akhlaq). Tidak ada yang lebih gila dan bodoh menurut persepsi saya daripada melihat orang yang membanggakan asal keturunannya. Apakah berarti sudah beramal sholeh, orang yang bergelar Graff atau Baron!”
    Kartini memag berupaya untuk memajukan kaum wanita di masanya (masa penjajahan). Pada saat itu wanita tidak mendapatkan hak pendidikan yang sama denga lakli-laki, namum memberi kontribusi bagi perbaikan masyarakat. Cita-citanya ini diungkapkan melalui suratnya kepada Prof Anton dan nyonya, pada tanggal 4 Oktober 1902: “Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak perempuan. Bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak permpuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tetapi, karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali terhadap kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam (sunatullah) sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama”. Dengan demikian perjuangan Kartini bukan hanya untuk kepentingan wanita, namun jauh lebih luhur lagi adalah bagi perbaikan tatanan kehidupan.
    Pada awalnya, perjuangan Kartini banyak dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran yang berasal dari luar Islam, ia belum paham Islam secara benar.Hanya mengaji dan membaca al-Qur’an tapi tidak dapat memahami isinya, sehingga ia tidak bisa merealisasikan di dalam kehidupannya. Bahkan sebaliknya ia sangat membenci Barat, ini terlihat dari isi suratnya yang ditujukan kepada nyonya Abendon, tanggal 27 Oktober 1902: “Sudah lewat masanya, tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik, tiada taranya. Ma’afkan kami, tetapi apakah ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa di balik hal yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal-hal yang sama sekali tidak patut disebut peradaban.”
    Selanjutnya di tahun-tahun terakhir sebelum wafat ia menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang bergolak di dalam pemikirannya. Ia mencoba mendalami ajaran yang dianutnya, yaitu Islam. Pertemuannya dengan KH. M. Sholeh bin Umar, seorang ulama besar dari Darat, Semarang, telah merubah segalanya. Pada saat Kartini mempelajari Al-Qur’an melalui terjemahan bahasa Jawa, Kartini menemukan dalam surat Al-Baqarah:257, Firman Allah SWT yang artinya:
    “Allah pemimpin orang-orang yang beriman. Dia mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya. Dan orang-orang kafir pemimpin mereka ialah Thagut, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan. Mereka itu adalah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya”.
    “Kyai, selam kehidupanku baru kali inilah aku sempat mengerti makna dan arti surat pertama dan induk al-Quran,yang isisnya begitu indah menggetarkan sanubariku.Maka bukan bualan rasa syukur hatiku kepada Allah Swt. Namun aku heran tak habis-habisnya, mengapa para ulama saat ini melarang keras penerjemahan dan penafsiran al-Quran dalam bahasa Jawa? Bukankah al-Quran itu justru kitab pimpinan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?” Tanya Kartini pada Kyai Sholeh Darat gurunya.
    Dalam banyak suratnya sebelum wafat. Kartini banyak mengulang kata-kata Dari Gelap Kepada Cahaya, namun makna ini bergeser tatkala Armin Pane menerjemahkannya dari bahasa Belanda menjadi “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Kalimat ini sedikit demi sedikit telah menghilangkan makna yang dalam, menjadi sesuatu yang puitis namun tidak memilki arti ruhiyah.
    Namun sangat disayangkan refleksi perjuangan Kartini saat ini, banyak disalah artikan oleh wanita-wanita Indonesia dan telah dimanfaatkan oleh pejuang-pejuang feminisme untuk menipu para wanita, agar mereka beranggapan bahwa perjuangan feminisme memiliki akar di negerinya sendiri, yaitu perjuangan Kartini. Mereka berusaha menyaingi laki-laki dalam berbagai hal, yang kadangkala sampai di luar batas kodrat sebagai wanita. Tanpa disadari, wanita-wanita Indonesia telah diarahkan kepada perjuangan feminisme dengan membawa ide-ide kapitalisme-sekularisme yang pada akhirnya merendahkan, menghinakan derajat wanita itu sendiri.
    Kalangan feminis hanya mengukur standar kemuliaan wanita pada seberapa besar peran wanita dalam ranah publik, mereka menuntut keikutsertaan wanita dalam semua bidang kehidupan mulai dari tukang becak sampai kalangan birokrat. Wanita dinilai tidak lebih hanya sebagai barang komoditi. Padahal, solusi yang mereka tawarkan justru malah menimbulkan problem baru bagi perempuan. Tingginya tingkat pemerkosaan perempuan, pelecehan seksual, trafficking perempuan, dan sebagainya, tidak lain disebabkan oleh hal tersebut. Sebenarnya kalau kita jeli, mereka yang menamakan diri sebagai feminis tak lebih dari orang-orang yang kecewa dan putus asa terhadap kehidupan yang kapitalistik ini. Mereka mencoba melakukan pemberontakan pada kehidupan kapitalistik yang memang menindas serta mengeksploitasi kaum wanita. Hal ini jelas akan sangat berbeda dengan kehidupan Islam yang justru meletakkan kemuliaaan pada wanita.
    Maka, upaya meneladani perjuangan Kartini bukanlah kembali pada ide-ide feminis yang absurd melainkan kembali pada ideologi Islam, yang dalam rentang masa kepemimpinannya selama 13 Abad mampu memposisikan wanita pada kedudukannya yang teramat mulia, maka wajar bila desas desus diskriminasi perempuan tak pernah terdengar. Wallahu’alam Bishowab.

  4. Bapak, Fakhrudin Halim tulisan nu uku posting nak blog AMARTA, menarik tulisan nu yo, membedah persoalan ‘kartinisme’ dan dio memang perlu diluruskan ketiko persoalan gender, feminisme do bias dengan sistem lokal nak Indonesia….. Salam kwat

  5. Amen nam..
    Udi o majok kaum uai untuk namen riwayat cerito yo,
    Supayo maso mendatang o,
    Ade penerus cerito Ne,,
    Tp amen udi bae namen,
    Do’o hanya percuma..
    By Nopis Widoka MA’ALLUDiN TOPOS

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s