Kampung itupun kemudian bernama Topos

Oleh Erwin Basrin

Pagi itu menunjukan pukul 08.15 WIB, udaranya masih terasa segar dan dingin, matahari sepertinya terlambat muncul karena harus melawati gugusan bukit barisan yang terletak sebelah Timur Topos. pagi itu adalah pagi Senen, masyarakat Topos biasa menyebutnya sebagai  Bilai Beken (Hari Pekan/Hari Pasar Desa). Tidaklah terlalu sulit untuk mencapai ke Topos, hanya memerlukan 4 Jam dari Ibu Kota Propinsi Bengkulu  dan 1,5 jam dari Curup Ibu Kota  Kabupaten Rejang Lebong,  hanya 10 menit dari Rimbo Pengadang yang jaraknya hanya 10 Km dari  salah satu kelurahan yang berada jalan raya lintas Curup-Muara Aman ini. Topos adalah salah satu Desa Administratif dan kemudian menjadi Kelurahan seiring dengan terbentuk Kelurahan Topos. Secara fisik Topos terletak di bagian Timur Kabupaten Lebong, berada tepat di Hulu Sungai Ketahun dengan ketinggian 900-1.400 dpl dan berada lereng pengunungan Bukit Barisan, perkampungannya memanjang dari Utara-Selatan.

Dari beberapa catatan sejarah, Topos adalah salah satu tempat yang dipercayai sebagai salah satu perkampungan tertua di Kabupaten Lebong, yang juga dipercayai sebagai salah satu tempat sebagai besar asal usul Masyarakat Suku Rejang. Pepatah “Serambeak Bepun; Topos, Teluk Diyen, Amen, Semelako, Plabai, Das Tebing” salah satu Sastra yang menegaskan tentang asal usul dan paling tidak menjelaskan nama-nama perkampungan yang dianggap tua dalam sejarah Rejang. Tidak ada data pasti kapan perkampungan ini didirikan, dari cerita tetua kampung tahun 1866 Residen Belanda pernah berkedudukan di Topos, seiring bertambahnya penduduk kampung ini kemudian berkembang menjadi beberapa kampung diantaranya; Kutai Donok, Talang Balau, Suko Negerai, Tik Sirong dan Ajai Siang.

Topos ini berasal dari nama kayu, konon diceritakan, ketika pertama kali tempat ini dijadikan perkampungan, salah seorang pendirinya menancapkan tongkatnya kemudian orang tersebut diketahui bernama Bikau Bembo, dan tongkat tersebut tumbuh menjadi sebatang kayu ‘Topos’ maka mulai saat itulah perkampungan ini bernama Topos. Bikau Bembo bukanlah orang asli Rejang, dia dipercayai berasal dari daerah Kerajaan Rum  yang berada di Asia Minor Turki yang menikah dengan Putri Ajai Siang, sedangkan Ajai Siang ini adalah pribumi dan pimpinan komunitas kampung yang ada di daerah Topos.

Beberapa keturunan Bikau Bembo inilah kemudian banyak menyebar di wilayah Rejang dan membentuk kesatuan adat Jurukalang, menurut Bapak Salim Senawar, beliau adalah tokoh adat di Topos, masyarakat Topos dulunya mengenal sistem perkawinan eksogami, eksogami ini larangan perkawinan satu kampung. Sistem budayapun berkembang dan larangan tersebut sudah mulai ditinggalkan, dan bergeser kepada sistem perkawinan Islam sehingga saat ini tidak ada larangan untuk menikah dengan satu kampung seperti sistem perkawinan eksogami tersebut, dan sistem ini kemudian membuat semua masyarakat Topos seperti keluarga besar, diantara mereka dipastikan memiliki hubungan kekerabatan bahkan kekeluargaan yang kuat.

Secara asal usul penduduk Desa Topos atau Tun Topos bisa ditelusuri melalui Tambo, dari Tambo yang disusun beberapa keluarga di Topos mereka mengakui berasal dari keturunan salah satu keturunan Bikau Bembo yaitu anak dari Keturunan Raja Anumtiko mereka adalah Kapuak, Royot, Kela’ei dan Bu’en.  Sehingga saat ini sistem asal usul masih bisa dilihat dari kontruksikan tertib sosial melalui sistem Kutai, di Topos hanya terdapat 4 Kutai/Sukau yang representatif dari 4 keturunan tersebut.

Sebagai wilayah tertua, di Topos terdapat beberapa situs sejarah yang dikeramatkan oleh warganya. Keramat Topos dipercayai sebagai makam Anak Bikau Bembo yang paling bungsu bernama Tuanku Diwo Setangai Panjang,  Keramat Tebo Kenei dipercayai sebagai benteng pertahanan yang dijaga oleh Ulubalang IX,  Situs ‘Kubua Penungea” adalah areal pemakan Tua dimana setiap tahun dan hari-hari tertentu dilakukannya ritual ‘cemucua biyoa’ atau tabur bunga oleh warga Topos. Selain situs-situs yang di keramatkan di wilayah Topos terdapat juga tempat-tempat  yang mempunyai nilai-nilai sejarah mitologi, ada tanah Majapahit berada di sebelah Barat Topos, menurut sejarahnya tanah tersebut dibawa dari kerajaan Majapahit dan dipercayai di areal tersebut tidak bergetar ketika terjadi gempa. Sedangkan di sepanjang sungai Ketahun juga banyak ditemukan situs-situs mitologi, ada susunan kayu peninggalan si Pahit Lidah, terowongan “Lubuk Menggong” terowongan bawah tanah sebagian mempercayai kutub yang lain berada di Danau Tes, Perkampungan Tua “Monok Micor” berada di hulu ketahun dan beberapa situs lainnya.

Masyarakat Topos umumnya adalah Petani dengan komoditi utamanya adalah padi, kopi, kulit manis dan tanaman palawija, sehari-hari mereka berkomunikasi dengan mengunakan basaha Rejang dengan logat Lebong dan penganut Islam yang taat,  pengaruh Islam ini bisa dilihat dari ritual dan adat istiadat, mereka sering menyebut Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabulah, beberapa prosesi Ritual Adat sering di dahulukan kemudian di akhiri oleh Agama, Ritual ini bisa dilihat dari proses perkawinan, Mbin Cupik Moi Munen (ritual memandikan bayi), Panen hasil pertanian, maupun Kedurai Agung (sejenis ritual cuci diri dan cuci kampung) dan beberapa ritual lainnya. Karena sistem kekerabatan yang kuat menjadikan masyarakat Topos menjadi masyarakat yang terbuka, mengutaman musyawarah dengan pola’berjenjang naik bertanggo turun” untuk menyelesaikan sengketa diantara mereka dan mereka mempunyai keungulan diplomasi, pandai mengunakan bahasa-bahasa yang figuratif dan metapora jika dibandingkan dengan masyarakat Rejang lainnya.

Masyarakat Topos atau Tun Topos, saat ini juga mulai beradaptasi dengan moderenisme, ada beberapa sarana pendukung selain terdapat beberapa spot komunikasi, juga terdapat tempat pendidikan dari Taman Kanak-Kanak sampai Sekolah Menengah Atas (SMA), setelah menamatkan SMA umumnya mereka melanjutkan pendidikan di beberapa tempat di Indonesia sebagian juga ada yang menempuh pendidikan di Luar Negeri. Masyarakat Topos yang berada di luar Topos juga memanfaatkan teknologi untuk menguatkan sistem kekerabatan mereka, baik bentuknya web site maupun jejaringan sosial baik individu maupun group komunitas Tun Topos, pada hari Lebaran mereka melaksanakan ritual “Mulang Apei”, ritual kembali ke tanah leluhur. Pada saat itulah masyarakat Topos secara bersama-sama mengimplementasi sistem kekerabatan mereka. Mereka seperti bermimikri, mengambil nilai baik dari moderenisme dan tetap berpijak pada nilai-nilai yang ditinggalkan oleh leluhur mereka, mereka seperti dahan-dahan yang tidak mau terlepas dari batang, sebagain seperti memberikan nutrisi bagi tumbuh kembangnya pohon yang kemudian mereka sebut dengan Topos.

Iklan

One comment on “Kampung itupun kemudian bernama Topos

  1. kalau kami lihat dari bahasa rejang…banyak sekali kesamaan dengan bahasa kerinci…..sepertinya kedua daerah tsb saling berhubungan….ditambah lagi dengan bentuk topografi daerah kerinci yang klihatan mirip sekali dg topografi daerah lebong yang dikelilingi oleh blukit barisan…harapan kami kepada penulis…kiranya bisa menemukan dan kemudian memaparkan kedalam tulisan selanjutnya tentang hubungan kedua suku tersebut…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s