Dikecam! Papan Merek Mesjid Dicabut

RB/Senin, 02 Maret 2009

Anggota DPRD Lebong, Basing Ado mengecam tindakan aparat yang BU mencabut papan merek mesjid. Menurutnya, tindakan tersebut sangat tidak etis dan tidak beradab. Karena itu, BU diminta agar memasangnya kembali. Sebelum masalah pencabutan tersebut berkembang menjadi masalah agama.

‘’Ingat. Konflik yang terjadi adalah konflik batas. Bukan konflik agama. BU mestinya bisa membedakan dengan arif dan bijaksana. Sangat disayangkan bila ternyata BU rela menjadikan rumah Allah sebagai tempat pelampiasan. Apalagi, saya yakin, yang mencabutnya juga umat Islam,’’ kata Basing.

Diakui Basing, DPRD Lebong telah lebih dahulu menyatakan siap mempertahankan wilayah Lebong sampai tetesan darah penghabisan. Dengan begitu, baik Lebong dan BU harus siap memperlihatkan kekuatannya masing-masing. Berarti sudah saatnya Lebong dan BU membuktikan kekuatannya guna menyelesaikan masalah batas tersebut, kata Basing.

Tak hanya dari DPRD, Kepala Kantor Kesatuan Bangsa, Politik dan Perlindungan Masyarakat Kabupaten Lebong Drs. Ruslan Ariyanto pun menyatakan tidak akan mundur dalam mempertahankan wilayahnya.

Apa pun yang terjadi, Pemkab Lebong akan menghadapinya. Bahkan, dihadapkan dengan moncong senjata pun Lebong tidak akan gentar. Apalagi akan mundur. Lebong tetap akan terus berjuang untuk mempertahankan wilayahnya sampai kapan pun juga.

Kalau BU akan mempertahankan sampai titik darah penghabisan, Lebong lebih dari itu. Sampai kapan pun juga Lebong tidak akan pernah mundur, kata Ruslan.

Hanya saja, lanjut Ruslan, sebelum membicarakan sampai titik darah penghabisan, mestinya BU mengembalikan terlebih dahulu papan merek kecamatan Padang Bano yang telah diambil. Kalau memang BU mengaku melakukan segala tindakan berdasarkan aturan, mestinya BU tidak mengambil papan merek tersebut.

Karena tindakan tersebut bisa dikategorikan tindakan main hakim sendiri. Kalau Lebong tidak akan melakukan perbuatan seperti itu. Mengapa ? Karena perbuatan seperti itu bukanlah perbuatan orang dewasa. Melainkan perbuatan anak-anak, kata Ruslan.

Ruslan juga meminta agar Polda Bengkulu menepati janji untuk memfasilitasi BU mengembalikan papan merek tersebut seperti saat dia menemui Kapolda pada Senin lalu (23/2). Jika tidak segera dikembalikan dikhawatirkan akan semakin memperuncing situasi. Sebab, keberadaan papan merek tersebut merupakan simbol harga diri Lebong.

Selama tidak dikembalikan, bisa diartikan BU ingin melecehkan harga diri Lebong. Harga diri adalah sesuatu yang tertinggi dimiliki orang perorangan atau pun kelompok. Nah, kalau harga diri seseorang atau sekelompok orang sudah direndahkan, tentu akan menimbulkan dampak negatif, kata Ruslan. (dmi)

http://www.harianrakyatbengkulu.com/ver3/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&cid=8&artid=961

By Akar Foundation Posted in Lebong

One comment on “Dikecam! Papan Merek Mesjid Dicabut

  1. Sebenarnya masalah perbatasan (teritorial) antara Kab. Lebong dengan Kab. Bengkulu Utara tak perlu di bawa ke arah konflik fisik, seperti yang di katakan oleh Basing Ado. Jangan mudah “TERPROVOKATOR” dengan hal-hal yang bersifat memecah belah, amati dan analisis dari berbagai aspek baru komentari.
    HATI boleh “PANAS”,tapi KEPALA tetap dingin. Duduk bersama antara Aparat pemerintah (Provinsi, Kab. Lebong dan BU) serta tokoh masyarakat yang ada di sekitar daerah yang menjadi “konflik” tersebut.
    Mengapa demikian, antara penduduk Kab. Lebong terutama daerah Lebong Atas (Daed) dengan penduduk BU masih punya pertalian darah/asal-usul nenek moyang yang sama. Sebagai contoh, bahasa, seni dan budaya mempunyai persamaan yang besar. Jangan hanya karena KEPENTINGAN yang tak jelas juntrungannya, melibat masyarakat secara luas yang pada dasarnya tidak peduli dengan perbatasan dan jangan memperuncing serta membesar-besarkan masalah yang ada. Sebenarnya, masalah perbatasan inikan telah menjadi masalah yang lama, ketika Kab. Lebong masih bergabung dengan kabupaten Induk(Kab. Rejang Lebong). Namun sayang, waktu itu KADIRMAN, SH. sewaktu menjadi SEKDA Kab. Rejang Lebong tidak pernah melontarkan masalah perbatasan.
    Dan juga sewaktu awal Kab. Lebong di definitifkan tidak pernah terbahas. Hal ini saya ketahui saat pulang kampung (ke Kelurahan Kampung Jawa) dan bertemu dengan tokoh-tokoh masyarakat Kampung Jawa, Desa Tunggang, Desa Lebong Donok dan Desa Gunung Alam, ini tidak terbahas. Ketika pada tahun 2002 sedang santer-santernya pemekaran/pembentukan Kab. Lebong, masalah perbatasan terabaikan. Sebelumnya tak ada masuk agenda padahal masalah perbatasan wilayah (teritori)sangat urgen untuk pengembangan potensi yang ada yang berujung kepada kesejahteran masyarakat. Tapi hal itu “dilupakan”. Koq sekarang pada RIBUT, berarti pembentukan Kab. Lebong karena KEPENTINGAN orang Lebong yang merasa PINTARkan dan “haus” kekuasaan ketika di tempat lain tak sanggup “bersaing”kan?
    Ini sebuah jawaban untuk Dang Basing Ado.
    Wassalam Anok Jang Kampung Jawai Neak Ratau.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s