Tak Melulu Daun Setawar

by : Sjifa Amori
Perpuisian Indonesia mengalami perkembangan yang, sederhananya, dibagi dalam tiap dekade. Namun pengaruh syair pola pantun masih saja lekat, sadar atau tak sadar.

Di awal tahun 2000-an, ketika masih di tingkat awal bangku SMA, bekal pengetahuan saya akan pantun samalah halnya dengan kebanyakan anak sekolahan seusia itu. Dari pelajaran Bahasa Indonesia, pantun diidentifikasi sebagai sebentuk sajak empat baris dengan sampiran di dua baris pertama dan isi pada dua baris berikutnya.

Dalam adu pantun tingkat kelas, meski hanya untuk saling melempar canda dan menghibur hati di tengah penatnya jam pelajaran, karmina, talibun, dan pantun, seringkali dimanfaatkan. Apa pun nama dan kegunaannya, saya sadar benar bahwa rima a-a ataupun a-b-a-b, dan kesamaan bentuk akhir lainnya yang enak didengar sudah jadi bagian dari bahasa pergaulan yang elok benar.

Walau tak adalah satupun di antara kami yang tahu benar tentang pantun seperti yang diutarakan akademisi sastra Maman Mahayana di bawah ini,

“Pantun itu kesenian tradisional, terutama yang berkembang di wilayah Melayu. Kemudian menyebar ke wilayah nusantara dengan nama yang berbeda-beda. Pantun dipakai tak hanya sebagai kegiatan upacara saja, tapi di semua aspek kehidupan. Karena itu ada pantun anak-anak, pantun kelakar, pantun perkawinan. Jadi pantun itu tidak dibatasi usia, ruang, dan waktu. Perkembangannya dalam perpuisian Indonesia modern begitu kuat karena polanya menekankan pada kesamaan bunyi akhir a-b-a-b.”

Pantun menuntun

Pengertian dasarnya saja tak paham. Apalagi menyerapi maknanya secara filosofis. Seperti yang diungkapkan penggiat pantun Tanjung Pinang, Tusiran Suseno, “Dalam bahasa daerah kita, termasuk Melayu sendiri, kata dasar pantun terdiri dari bunyi tun, yang berasal dari kata menuntun. Jadi pengertian pantun bisa juga mengajak orang dalam kebaikan. Kemudian ajakan ini berkembang tak hanya sebagai karya sastra lisan saja, tapi juga dalam bentuk komunikasi untuk menyampaikan pemikiran.”

Menurut Tusiran yang juga tinggal di Negeri Pantun, Tanjung Pinang, orang Melayu punya tradisi menyampaikan sesuatu dengan tidak blak-blakan, tapi dengan kiasan. Ini terasa lebih indah. Bahkan mengkritik atau marah sekalipun, menggunakan kata berkias. “Kalau orang Melayu memarahi anak, dia nggak akan bilang anaknya kurang ajar. Tapi dibilangnya anak bertuah. Itu artianya anak baik. Pantun punya proses filosofis mengajarkan orang menuju sesuatu yang baik.”

Tapi Maman tak mengingkari bahwa sebaik apa pun nilai yang dimuat sebuah pantun sebagai bentuk kearifan masyarakat, jiwa seniman takkan mungkin dikekang. Artinya, mereka yang menghasilkan karya pasti ingin berinovasi dan mengukir jejak eksistensinya dengan menawarkan sesuatu yang baru. Meski harus bergelut antara konsensi dan mendobrak tradisi. “Memang sastrawan berada dalam ketegangan untuk melakukan inovasi karena pantun dianggap begitu ketat aturannya. Pola larik dan bunyi akhir juga terikat. Ini dianggap menghambat kreativitas.”

Itulah yang kemudian berkembang sebagai semangat puisi modern. Termasuk juga puisi-puisi Pujangga Baru yang sudah bercerita tentang masalah sosial. Meski, kata Maman, tetap ada pola persajakan dengan kesamaan bunyi. Walau tak ada lagi lampiran dan isi.

“Jadi puisi tradisional, tanpa sadar dan tak langsung, tidak bisa dihilangkan begitu saja dalam perkembangan perpuisian di Indonesia. Puncak “perpisahan” puisi tradisional dan modern itu terjadi saat Chairil Anwar muncul. Meskipun dalam beberapa puisi, dia juga masih memperlihatkan persajakan pola pantun. Kemudian baru Sitor Situmorang, pada 50-an, mencoba manfaatkan pantun lagi dalam puisinya,” tutur Maman yang banyak melakukan penelitian ilmiah ilmu budaya dan mendapat banyak penghargaan ini.

Kalau di mata Maman, pengaruh Baratlah yang memberi peluang pada penyair untuk mengeksplorasi diri masing-masing sehingga banyak yang mencoba berpaling dari puisi tradisional. “Padahal dalam puisi tradisional itu tersimpan kekayaan persajakan yang luar biasa. Pokoknya kalau mau menciptakan puisi monumental, saya kira harus mempelajari juga puisi tradisional. Seperti yang dilakukan Sutardji dan Zawawi Imron. Dan juga penyair Riau, seperti Taufik Ikram Jamil.”

Kalau Tusiran lain lagi. Ia memandang keinginan penyair modern untuk lepas dari ikatan larik dan rima pantun mungkin merupakan bagian dari pelarian atas ketidakmampuan kearifan pantun untuk menangani kepentingan di masa ini. Meski ini bukan sesuatu yang mutlak. Misalnya demonstrasi dengan pantun memprotes kebijakan pemerintah, tentulah akan lebih enak dengan pantun sehingga jauh pula dari anarki. Tapi mungkin pejabat sekarang sudah harus diteriaki dengan kata-kata yang keras. “Ya, marah sedikit biasalah. Hahaha.”

Namun dalam masyarakat Melayu, pantun masih jadi bagian keseharian sampai saat ini. “Jadi wajar saja kalau Tanjung Pinang mengklaim diri sebagai Negeri Pantun. Makanya saya tak ingin pantun ini jadi semacam karya lidah saja yang tak bisa dipertanggungjawabkan siapa pengarangnya. Saya sekarang sedang berusaha supaya karysa satra lisan ini bisa jadi karya tulisan. Dengan begini bisa menghindari, misalnya, klaim Malaysia kemarin,” tutur Tusiran yang karyanya Mutiara Karam meraih juara kedua Sayembara Novel DKJ 2006.

Makin mengena

Bagaimana bisa kita tak memelihara pantun, jika sastra ini berisi banyak petuah dan kebajikan, termasuk kebersamaan dan silaturrahmi. Makanya sering pula dijadikan alat memanipulasi maksud sehingga jadi lebih tersembunyi, atau malah jadi makin “mengena” atau “menyentuh”,

Datuk laksamana pergi berlayar. Isi muatan beribu-ribu. Tiga hari perutku lapar. Mohonlah berikan duit seribu. Dengan untaian seperti itu, orang bisa tak sampai hati untuk tidak memberikan,” tambah Tusiran menyontohkan.

Kini, zaman sudah modern dan tema dalam pantun semakin luas. Sampiran tak melulu memuat daun sedingin dan daun setawar, serta herba dan pepohonan lain yang, bagi Tusiran, punya makna filosofis buat masyarakat Tanjung Pinang. Jika Jakarta akrab dengan kata “dong“. Itu pun bisa masuk dalam sajak berima:

“Mari kita makan kedondong. Hati-hati dong. Ini adalah karmina, tak sesulit aturan pantun, tapi aturan persajakan dan persamaan bunyi akhir tetap memupuk kreativitas seseorang dan pengungkapannya menunjukkan kualitas si pemantun,” ujar Maman.

Pujangga Baru saja tak lepas dari pantun. Usia belasan saya juga tak luput dari “jajahan” pantun. Meski diam-diam, saat guru matematika mengajar, kertas yang dilempar dari meja ke meja itu adalah bentuk balas pantun. Bukti bagi pemantun yang paling kreatif di kelas. Paling cepat, paling dahsyat memilih kata, dan paling banyak mengundang tawa. Ular Kadut Masuk Desa.Abu Gendut Banyak Dosa.

Karmina di atas adalah pemenangnya. Hingga hampir 10 tahun masa itu terlalui, karmina ini terus mengingatkan betapa matematika sangat membosankan dan betapa teman saya Abu memang gendut. Kata-kata di dalamnya tak disangka ternyata mampu menyaingi kesan visual yang ditangkap sebuah kamera. Yang terpenting, kini saya baru menyadari bahwa bahasa adalah “senjata”. Dan dia yang menguasai bahasa dalam pantun, dengan aturan yang begitu mengikat, adalah “jagoannya”. Dia pasti cerdas, berilmu, dan tentu saja peka akan segala yang ada dan berlangsung di sekitarnya. Apalagi yang diragukan dari kualitas pemantun handal? Syifa Amori

Sumber: http://jurnalnasional.com/?med=tambahan&sec=Nusantara&rbrk=&id=41997&detail=Jurnal%20Republik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s