Berpaling pada Kekayaan Lokal

by : Dodi Ahmad Fauji

Globalisasi sudah di depan mata, dan siapa pun susah menapis angin globalisasi yang berembus begitu kencang. Imbasnya memang keseragaman yang berhasil dimainkan dengan gemilang melalui mesin-mesin kapitalisme. Semua sedang menuju ke ‘seragaman’. Makanan seragam: Coca Cola atau Mc Donald. Selera musik didikte: Pop, R&B, Rock, Jazz, pokoknya musik serba pop culture.

Suka Hardjana lewat buku Corat-Coret Musik Kontemporer Dulu dan Kini (MSPI: 2003), memberi istilah untuk globalisasi musik dengan bahasa satir: “penjajahan selera”. Di sebalik penjajahan selera ini, yang diuntungkan ialah pemodal yang bergerak di bidang industri musik hiburan. Tak terlintas dalam benak mereka wacana apresiasi atau penghayatan atas musik tradisi yang sesuai dengan kepribadian bangsa. Bagi mereka, semakin banyak orang mendengar Britney Spears, semakin gemerincing fulus mengalir ke celengan mereka.

Tetapi, globalisasi akan sampai pada titik jenuh ketika semua serba seragam. Orang akan kembali melirik yang unik, menengok tradisi. Musisi Eropa sudah lama menyadari hal itu, dan sudah mulai melirik musik-musik di luar Barat, atau dalam bahasa sopan menyebut musik tradisi dengan world music, atau from another world. Muncullah para musisi yang melakukan eksperim-eksperimen dengan bunyi, tempo, nada, dan tone.

“Para musisi Eropa sekarang sedang mengumpulkan sebanyak-banyaknya tuning dari berbagai bangsa, termasuk dari kita. Mereka sudah bosan dengan musik modern. Tapi kita malah ingin jadi Barat, main musik pop terus,” kata musisi Fahmi Alatas, Kamis lalu.

Menurut Fahmi, sekaranglah saatnya musisi Indonesia untuk tampil di dunia
internasional, sebab kita memiliki begitu banyak tune musik di berbagai daerah. “Di Pulau Jawa saja, yang basik musiknya pelog dan slendro, ternyata ada ratusan tune. Tiap daerah memiliki tune masing-masing.”

Tune yang dimaksud, bila disederhanakan artinya tangga nada. Namun kebanyakan dari kita menyebut tangga nada untuk musik-musik Nusantara dengan istilah pentatonik (lima tangga nada).

Tetapi ada banyak kendala dalam belantika musik di Tanah Air. Kita sudah terlampau dijajah oleh selera pop, sehingga seakan pop itu adalah musik yang universal dan bisa didengarkan oleh sebanyak-banyaknya kuping bangsa ini. Pengamat musik Ben Pasaribu membenarkan bahwa memang ada penjejalan selera itu. Meski demikian, ia menuturkan, “Musik itu sama dengan rumah makan. Pengunjung akan memilih menu yang sesuai dengan seleranya,” katanya, Kamis kemarin.

Barangkali benar kita tidak musti membicarakan mau main musik pop atau tradisi,
dangdut atau klasik, yang penting bermain musik dengan benar. Tetapi ada suatu
kekhawatiran jika kita terus mengikuti selera orang luar, kita hanya menjadi pengguna dan penikmat produk mereka. Uang mengalir terus ke negara-negara yang sudah sejahtera. Sementara musik tradisi kita, karena kurang dipertarungkan, akhirnya malah bisa mati ditelan gelora zaman.

“Dari sisi itu memang ada benarnya. Tetapi sulit kita menyodorkan selera musik
tradisi Nusantara ke masyarakat, kecuali pendidikan apresiasi terhadap musik di
sekolah-sekolah dapat diajarkan dengan benar,” kata Ben.

Pendidikanlah memang yang menjadi tumpuan perbaikan bangsa ini, perbaikan selera maupun perbaikan nasib perekonomian. Dan pendidikan tidak cukup hanya melalui sekolah-sekolah formal.

“Aku terus berjuang mengajak para seniman, terutama seniman tradisi agar mau membuka diri. Mau belajar, dan memenuhi bagasi mereka dengan berbagai bebunyian. Ini bagian dari pendidikan juga,” demikian Fahmi berpendapat.

Fahmi merasa optimis bahwa musik kita bakal maju dan dilirik bangsa luar jika kita sanggup memodernisasi musik tradisi. Mengapa tradisi, sebab seperti dituturkan Fahmi di atas, hasanah musik tradisi kita amat kaya corak dan bunyi, dan justru ini memikat orang luar. Musik tradisi bisa diolah dalam bentuk eksperimental.

“Anehnya, justru musisi kita ingin menjadi Barat ketika musisi Barat ramai-ramai
mempelajari musik tradisi dari berbagai belahan bangsa lain untuk memperkaya musik mereka,” kata Fahmi.

Dalam pada itu, Fahmi menyayangkan para musisi tradisi juga terlalu bersikukuh
dengan pakem-pakem mereka selama ini, dan kurang terbuka untuk menerima musik dari luar. Mereka selalu mendikotomikan antara musik modern dan musik tradisi.

“Akhirnya saya bilang ke mereka, nah itu kau bisa berkomuniksai dengan bahasa Jawa lewat handphone. Tak musti bicara dalam bahasa Finlandia sekalipun handphone yang kita gunakan merupakan produk Finlandia. Dengan kata lain, kita bisa memainkan musik tradisi sekalipun menggunakan instrumen dari Barat seperti gitar.”

Analogi itu digunakan Fahmi untuk menjelaskan, bahwa dikotomi musik modern dan tradisi hanya berlaku untuk badan, peralatan, dan tidak berurusan dengan jiwa. Kita boleh bermusik dengan instrumen modern, tetapi jiwa ini harus tetap berpihak pada tradisi.

Kata Fahmi, bermain musik tradisi dengan instrumen modern, atau mengawinkan musik tradisi dan modern, bisa disebut bereksperimentasi. Namun Ben yang akademisi itu menerangkan musik eksperimental lebih teoretis. Menurut Ben, musik eksperimental adalah yang bersifat percobaan-percobaan seperti yang dilakukan tahun 70-an oleh Harry Rusli, Amir Pasaribu, Otto Sidharta, Suka Harjana, Slamet Abdul Syukur, atau sekarang dilakukan oleh I Wayan Sadra, Rahayu Supanggah, dan lain-lain.

“Namun yang paling utama bukan musik ekperimen yang musti kita bicarakan, tatapi membina apresiasi jauh lebih penting,” kata Ben. Doddi Ahmad Fauji

Sumber: http://jurnalnasional.com/?med=tambahan&sec=OASE%20BUDAYA&rbrk=&id=38065&detail=OASE%20BUDAYA

One comment on “Berpaling pada Kekayaan Lokal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s