Konservasi Biaya Tinggi

Oleh : Dradjat Suhardjo
Pengelola Magister Teknik Sipil dan Perencanaan dan Pusat Studi Lingkungan UII

Bencana silih berganti di negeri yang kita cintai ini. Musibah seakan tak kunjung henti. Gempa, tsunami, gunung meletus, luapan lumpur, tanah longsor, tebing runtuh, banjir ulangan, kebakaran hutan adalah bencana yang akan terus terjadi.

Persoalan yang sangat mendasar adalah bagaimana menekan akibat dan dampak negatif dari bencana yang terjadi. Usaha minimal yang wajib dilakukan adalah menekan atau menghindari terjadinya korban jiwa.

Kalau dicermati bencana yang paling banyak terjadi adalah bencana yang disebabkan oleh faktor manusia. Gempa, tsunami, dan gunung meletus adalah asli alami atau sunatullah dengan kala ulang atau siklus panjang yang sulit untuk diprediksi. Walaupun demikian, bukannya tidak dapat dihindari jatuhnya korban.

Korban yang terjadi hampir seluruhnya adalah karena ketidaktanggapan bahwa bencana pasti akan datang lagi. Tidak lain penyebabnya adalah faktor manusia.

Belajar dari kasus gempa 27 Mei 2006, Sabtu pagi pada pukul 05.55 dalam waktu 55 detik dengan guncangan 6,2 SR (Skala Richter) telah merenggut 6.000 jiwa dan meluluhlantakkan tidak kurang dari 80 ribu unit rumah di Bantul, Kota Yogyakarta, Klaten, Sleman, Gunung Kidul, dan Kulon Progo. Hampir semua korban jiwa karena tertimpa bangunan rumah tinggal.

Pada 2000 ketika ilmuwan dan kelompok pemerhati gempa mengadakan penelitian rumah-rumah yang retak karena gempa dengan tujuan untuk menanggapi bila gempa besar datang lagi, cenderung banyak yang menganggap mengada-ada. Bencana adalah azab atau ujian yang tidak usah dirisaukan.

Ada pula yang lebih menyakitkan, peneliti dianggap cenderung sebagai pemimpi buruk dan hanya mencari sensasi. Padahal, para peneliti kegempaan panduannya jelas bahwa pada 1863 di Yogyakarta telah terjadi gempa yang merobohkan tugu di perempatan Jalan Pingit (sekarang Jalan Diponegoro-Sudirman).

Catatan-catatan peristiwa gempa terjadi pada hampir 65 persen wilayah Indonesia. Jepanglah negara yang pertama mendukung kegiatan tersebut sampai rumah tahan gempa yang dibangun di Bantul sebagai uji coba dapat terwujud sebelum gempa 27 Mei 2006 terjadi.

Ketika gempa terjadi rumah tersebut masih berdiri kokoh. Penghuninya terhindar dari bencana.

Penyebab bencana alami tidak mungkin ditolak maupun dicegah. Yang dapat adalah ditanggapi agar mampu menekan jumlah korban terutama jiwa manusia.

Yang paling merisaukan adalah bencana yang disebabkan oleh ulah manusia karena kurang sadar, kurang peduli, kurang ajar, dalam arti tidak tahu atau tidak mau tahu hubungan sebab akibat yang menimbulkan bencana karena perbuatan manusia. Krisis kurang peduli sesungguhnya yang paling dominan sebagai penyebab bencana karena ulah manusia.

Banjir di Jawa merupakan hasil dari ketidakpedulian yang masih dominan menguasai benak para penyelenggara pemerintahan secara nasional, regional, maupun lokal. Umumnya masih beranggapan bahwa teknologi dan uang akan mampu menjawab semua masalah.

Ketika sarana prasaran fisik dibangun tanpa disertai program konservasi atau pemeliharaan dan perlindungan untuk melestarikan fungsi yang dibangun pada saat tertentu bukan manfaat yang didapat, tetapi bencana yang diperoleh. Waduk Gajahmungkur di Wonogiri yang dimaksudkan untuk pengendali Bengawan Solo kini hampir berakhir fungsinya.

Konservasi hulu waduk dengan membina penduduk untuk melestarikan fungsi hutan lindung karena penduduk tetap miskin ditambah perambah hutan yang luput dari jeratan hukum mempercepat pelumpuran atau sedimentasi. Seorang kawan yang sedang pulang berlibur di Bojonegoro sampai Ahad 23 Maret pukul 17.19 mobilnya masih terendam air setelah dua hari di garasinya dan belum ada tanda airnya mulai surut.

Rumah longsor di kawasan konservasi bantaran sungai di berbagai tempat terjadi karena pemukim bermasalah tidak ditertibkan sejak awal. Pemukim merasa benar karena telah diberi pasokan listrik dan dipungut retribusi.

Yang parah adalah pemukim telah mengantongi izin mendirikan bangunan (IMB). Yang lebih parah ada wali kota yang justru mendirikan rumah susun sewa pada kawasan konservasi yang jelas tidak diperbolehkan oleh peraturan tentang sempadan sungai.

Jakarta merupakan panggung tayangan kelas dunia dalam hal kelalaian mengelola ibu kota negara sejak merdeka. Banjir yang tiap tahun terjadi pada bulan-bulan Januari, Februari, dan Maret yang melumpuhkan Ibu Kota merupakan bentuk kelalaian pengelola negara secara berkepanjangan.

Adalah sangat tidak adil kalau ada yang berpendapat gubernur tidak mampu mengatasi banjir Jakarta karena solusinya harus dari hulu sampai hilir. Bahkan, harus pada tataran kebijakan pembangunan secara nasional.

Kesimpulan yang dapat diperoleh adalah bahwa berbagai perangkat perundang-undangan sebagai panduan pembangunan tidak dilaksanakan secara utuh, menyeluruh. Konsep kapasitas tampung dan batas kemampuan dukung wilayah dilaksanakan secara parsial.

Dengan demikian usaha konservasi untuk mengatasi masalah banjir Jakarta yang selama ini dilakukan bukanlah solusi. Usaha yang dilakukan hanya bersifat sementara sebagai konservasi darurat dengan biaya tinggi yang tidak menyelesaikan akar masalah.

Setiap kali kita terlambat dan kaget terjadinya dampak negatif karena kelalaian. Aneksasi atau pengambilan alih wilayah oleh negara tetangga, hansip WNI yang direkrut untuk pengaman negara tetangga, dan pencurian ikan di perairan nasional adalah bentuk lain dampak dari kelalaian selama ini. Selama ini pembangunan selalu mengutamakan keuntungan ekonomi jangka pendek.

Dengan investasi lebih gampang dan lebih murah di Jakarta dengan pemangkunya Pulau Jawa, akan mendapat keuntungan yang secara finansial lebih menjanjikan. Timbul pertanyaan sebenarnya pembangunan NKRI akan ke arah mana? Yang wajib menjawab adalah para pemegang amanah untuk mengelola negara.

Sumber: http://www.republika.co.id/kolom_detail.asp?id=327987&kat_id=16

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s