Keindahan Maaf

Jaya Suprana

Pertengahan Februari 2008 pada sidang pleno parlemen, Perdana Menteri Australia Kevin Rudd resmi menyampaikan pidato permohonan maaf atas perlakuan buruk terhadap kaum Aborigin pada masa lalu.

Khusus bagi anak-anak Aborigin yang ”dicuri”, dipaksa berpisah dari keluarga mereka yang kemudian disebut The Stolen Generations (Generasi-generasi Tercuri ), Kevin Rudd yang belum lama terpilih sebagai PM Australia menggantikan John Howard menyatakan, ”To the mothers and fathers, to the brothers and sisters we say sorry. And for the indignity and degradation on a proud people and proud culture we say sorry.” (Kepada para ibu dan ayah, para saudara Anda semua, kami memohon maaf. Dan atas pelecehan dan pelanggaran hak asasi masyarakat sebuah kebudayaan terhormat, kami memohon maaf)

”The stolen generations”

Sejak awal abad XX dan baru berakhir tahun 1970, sebagai manifestasi politik diskriminasi-ras, Pemerintah Australia ”mencuri” (secara legal) anak-anak mixed- race Aborigin dari keluarganya untuk ”diamankan” di asrama-asrama eksklusif disertai alasan demi melindungi mereka dari mara bahaya entah apa.

Sebagai dampak politik diskriminasi rasial itu, anak-anak yang dipaksa berpisah dari keluarganya kehilangan kontak dengan keluarga dan kebudayaannya, menerima pendidikan mutu-rendah, hidup di kondisi minim, kerap menjadi korban pelecehan, penganiayaan, dan pemerkosaan. Maka, yang harus menyusul permohonan maaf adalah rekonsiliasi nasional menghapus kesenjangan sosial antara masyarakat non-Aborigin dan masyarakat Aborigin yang notabene lebih dulu bermukim di Australia.

Simbolise maaf dijanjikan segera disusul langkah-langkah nyata, misalnya membantu The Stolen Generations untuk bisa berjumpa dan berkumpul dengan keluarga mereka kembali, meningkatkan mutu kesehatan kaum Aborigin yang kini berharapan-hidup 17 tahun di bawah rata-rata masyarakat Australia dan meningkatkan mutu pendidikan kaum Aborigin.

Dalam pidato apologikalnya, PM Australia mengingatkan, kebudayaan Aborigin merupakan salah satu kebudayaan tertua yang masih ada hingga kini, maka sungguh tidak layak jika diperlakukan sedemikian keji.

Indah

Permohonan maaf terhadap kaum Aborigin dijanjikan Kevin Rudd pada masa kampanye pemilu tahun 2007. Tak heran, ulah PM Australia masa kini itu tidak didukung PM Australia masa lalu. Sinisme juga menghambur dari mereka yang berseberangan faham dengan Kevin Rudd, seperti komentator politik konservatif Piers Akerman yang propolitik antidiskriminasi dengan yakin menyatakan, Australia selama beberapa generasi mendatang pasti akan menyesali permohonan maaf yang gegabah itu. Bermunculan pula cemooh, permohonan maaf sekadar sandiwara politik sebagai kosmetik citra kemanusiaan Kevin Rudd belaka .

Namun, terlepas pro dan kontra, peristiwa PM Australia memohon maaf atas perlakuan buruk Pemerintah Australia masa lalu terhadap The Stolen Generations itu mengharukan lubuk sanubari saya. Saya merasakan suatu sentuhan perikemanusiaan dan kasih-sayang yang membenarkan anggapan, kebesaran suatu bangsa dapat diukur melalui bagaimana mayoritas memperlakukan minoritas. Terkesan betapa agung, mulia, bahkan indah suatu keberanian dan ketulusan untuk memohon maaf, apalagi yang disampaikan seorang kepala negara atas nama pemerintah negara dan bangsa.

”The lost generation”

Setelah terharu, mendadak muncul fenomena flash-back tragedi di Tanah Air sendiri. Di benak saya terbayang kembali adegan perusakan dan pembakaran rumah, gedung, dan sekolah yang dianggap sarang komunisme (termasuk sekolah saya, padahal pada masa remaja, saya dicemooh teman-teman akibat tidak mau bergabung di organisasi remaja PKI). Juga penculikan mereka yang dicurigai pemerhati atau anggota PKI (termasuk ayah kandung saya yang bukan simpatisan apalagi anggota PKI, tetapi kebetulan beretnis keturunan China). Atau penahanan tanpa pengadilan bagi mereka yang dicap komunis, lalu dibuang ke berbagai lokasi pengasingan. Mayat-mayat bergelimpangan di tepi jalan atau dipendam di kuburan massal darurat tanpa bekas, belum lagi jerit-tangis mereka yang kehilangan sanak keluarga tanpa tahu bagaimana sebenarnya nasib mereka (ibu kandung saya sampai kini tidak tahu bagaimana nasib suaminya yang hilang-lenyap setelah diculik pada malam hari buta).

Andaikata para terculik naas itu dibunuh pun tidak diketahui di mana jenazah dikubur atau diapakan. Kecamuk adegan tragis empat dasawarsa silam kembali tampil menghantui benak, sanubari, dan nurani saya.

Jika Australia punya The Stolen Generations, Indonesia punya jutaan korban malapetaka pasca- G30S yang layak disebut The Lost Generation (Generasi yang Hilang, dalam makna bukan sekadar kiasan).

Namun, saya sungguh tidak tahu apakah keindahan peristiwa pemerintah resmi memohon maaf atas dosa masa lalu di bumi Australia itu juga bisa terjadi di bumi Indonesia tercinta ini. Karena, lain padang lain belalang.

Jaya Suprana Budayawan

Sumber: http://www.kompas.com/kompascetak/read.php?cnt=.xml.2008.03.01.00273825&channel=2&mn=158&idx=158

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s