Manusia, Alam, dan Keamanan

Penulis: Toeti Adhitama, Ketua Dewan Redaksi Media Group

Sumber_Media Indonesia http://www.mediaindonesia.com/berita.asp?id=152364

Rupanya belum banyak yang sadar akan ancaman perubahan iklim global dan belum semua sepakat tentang cara penanganannya. Bahkan masih ada tamu asing yang mengatakan, “Mendatangkan ribuan orang ke Bali hanya membuang-buang dana. Dana bisa untuk hal yang lebih penting.” Ia rupanya penganut kutub yang dengan segala alasan belum bisa setuju dengan Protokol Kyoto. Sikap demikian tidak harus ditanggapi. Tetapi itu membuktikan perubahan iklim atau pemanasan global memang perlu sosialisasi besar-besaran. Presiden yang menanam sejuta pohon belum cukup. Akan ideal kalau disusul dengan kampanye menanam sejuta pohon oleh para gubernur di tiap-tiap provinsi. Masyarakat perlu disadarkan. Bukan hanya LSM yang harus terus berteriak, “Go green“. Kampanye hendaknya berkelanjutan tanpa henti, sampai bumi terselamatkan.

Akhir minggu lalu, di Jakarta diadakan Konferensi Keenam Council for Security Cooperation in the Asia Pacific (CSCAP) yang dihadiri sekitar 200 tamu asing dan beberapa puluh orang Indonesia. Salah satu sesi konferensi itu membahas dimensi keamanan akibat perubahan iklim dan energi. Perubahan iklim yang dibicarakan di forum itu memang di luar kebiasaan. Tetapi itu juga menunjukkan perubahan iklim menyentuh semua aspek kehidupan, termasuk masalah keamanan. Seorang panelis mengatakan, “Ini bukan soal kecil.” Bandingkan dengan topik-topik lain, seperti memerangi terorisme dan masalah penyebarluasan senjata pemusnah massal. Tetapi, jika perubahan iklim global masuk acara, tentu masalahnya dianggap segawat yang lain-lain.

Dalam sesi tentang perubahan iklim, dibicarakan, betapa perubahan itu mengancam keamanan nasional. Betapa tidak? Kegalauan situasi politik, ekonomi, dan sosial yang sudah ada akan bertambah buruk kalau alam semakin tidak bersahabat. Misalnya, daerah-daerah pantai yang rawan akan angin taufan dan gelombang air pasang mengakibatkan kaum nelayan terpaksa istirahat. Belum lagi kemungkinan sebagian pulau kecil akan tenggelam atau wilayah pantai disapu gelombang. Sebaliknya, kelangkaan hujan menimbulkan kekeringan di banyak tempat. Petani banyak yang menganggur sehingga panen dan produksi pangan terganggu atau terhenti. Banjir yang antara lain disebabkan pembabatan hutan akan memorak-porandakan banyak daerah dan mengganggu lalu lintas perekonomian maupun sumber-sumber air bersih. Semua itu menekan ekonomi masyarakat. Ketegangan dan konflik bisa pecah di mana-mana. Penduduk sibuk bergegas pindah ke daerah-daerah yang aman bencana.

Perubahan iklim juga mengakibatkan timbulnya berbagai penyakit dan menyebabkan perangai nyamuk berubah. Malaria dan demam berdarah (DB) berjangkit di mana-mana. Kelaparan dan diare muncul di tempat-tempat pengungsian para korban bencana. Semakin seringnya terjadi bencana alam sudah tentu berpengaruh terhadap kehidupan sosial, ekonomi, dan politik. Masyarakat kehilangan rasa percaya pada para pemimpin nasional yang dianggap tidak mampu mengatasi situasi.

Potensi konflik tidak hanya terbatas di negeri sendiri. Menurut Program Lingkungan PBB (UNEP) di Bali, konflik antarwilayah dan antarnegara bisa pecah. Jika tidak ditangani dengan cermat, bisa saja konflik-konflik lokal dan regional menyulut perang baru. Sampai akhir abad ini, kelangsungan hidup manusia terus terancam. Untuk menanggulanginya, masyarakat nasional maupun internasional perlu mengadakan berbagai adaptasi dan perubahan gaya hidup.

Bila kita renungkan dari sisi spiritual, dalam peradaban modern, awalnya mungkin ada konsepsi bahwa manusia dan alam saling bertentangan. Manusia modern tidak pernah menganggap alam sebagai sesuatu yang hidup seperti halnya manusia. Alam memang lain dari manusia. Tidak pernah terpikirkan bahwa kehidupan alam dan kehidupan manusia saling terkait dan terikat. Keduanya bagian dari seluruh kehidupan alam semesta. Demi keuntungan manusia, alam harus ditaklukkan. Kita sering mendengar ungkapan ‘menaklukkan alam’. Yang berhasil menaklukkan alam berarti hidupnya maju. Di luar perkiraan, penaklukan itu merusak irama hidup alam semesta. Sekaranglah akibatnya. Ada anggapan manusia paling dekat dengan Sang Pencipta. Mungkin kita terlalu yakin. Yang kita hadapi sekarang adalah pembelajaran keadilan oleh alam semesta.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s