Budaya Gincu dan Ilmu

Adian Husaini
Dosen Pascasarjana Pendidikan dan Pemikiran Islam UIKA, Bogor

Pada 29 September 2007 ini, Institut for the Studi of Islamic Thought and Civilization (INSISTS) Jakarta menyelenggarakan sebuah seminar tentang dampak kerusakan ilmu dan pendidikan terhadap masyarakat. Seminar ini sangat penting, di tengah meruyaknya keprihatinan banyak cendekiawan terhadap kondisi dan arah pendidikan Indonesia saat ini.

INSISTS, dalam berbagai penerbitan ilmiahnya, berpendapat bahwa kerusakan ilmu adalah akar dari semua masalah yang menimpa suatu masyarakat. Ilmu yang salah akan melahirkan guru, dosen, ilmuwan, cendekiawan, pemimpin, dan ulama yang salah dalam berpikir, mengajar, mengambil kebijakan, dan mengeluarkan fatwa. Dominasi paham liberalisme, materialisme, hedonisme, dan pragmatisme semakin memperparah kerusakan masyarakat. Ilmu dikomersialkan, sekaligus dinistakan.

Kekeliruan konsep ilmu di dunia pendidikan Tinggi di Indonesia telah melahirkan dua kondisi yang memprihatinkan. Pertama di perguruan tinggi umum terjadi ignorance (pengabaian) ilmu-ilmu agama. Kampus-kampus umum banyak melahirkan sarjana yang nyaris buta terhadap ilmu-ilmu fardhu ’ain sepanjang hidupnya. Kedua, di perguruan tinggi Islam terjadi confusion (kekacauan ilmu). Berbagai perguruan tinggi ini melahirkan sarjana-sarjana agama yang keliru ilmunya yang kemudian disebarkan ke tengah masyarakat.

Lebih parah lagi, saat paham relativisme telah merasuki bidang studi ilmu-ilmu Islam. Akibatnya, lahirlah sarjana-sarjana bidang keagamaan yang tidak lagi meyakini kebenaran agamanya. Adalah bencana besar jika para cendekiawan yang belajar Alquran justru menjadi penentang Alquran. Tentu musibah bagi umat, jika banyak sarjana syariah yang justru anti-syariah. Padahal, para sarjana agama inilah yang nantinya akan menempati pos-pos strategis dalam bidang keagamaan di tengah masyarakat.

Fenomena kerusakan ilmu ini, menurut Prof Naquib Al Attas, disebut juga sebagai corruption of knowledge alias korupsi ilmu. Korupsi ilmu jauh lebih dahsyat akibatnya dibandingkan dengan korupsi harta. Sebab, korupsi ilmu akan melahirkan ilmuwan-ilmuwan yang salah dan berkelanjutan. Hegemoni pragmatisme dan materialisme dalam dunia pendidikan, tak ayal lagi merupakan salah satu sumber kerusakan di tengah masyarakat. Orang belajar ilmu bukan karena mencintai ilmu itu sendiri, tetapi karena memandang ilmu sebagai komoditas yang harus diperdagangkan.

Akibatnya, setelah menjadi sarjana, dia akan berhenti aktivitas keilmuannya. Jika niat pragmatis dan materi mendasari niat untuk masuk Fakultas Kedokteran, maka setelah lulus, bisa jadi ia akan menjadi dokter yang mati-matian mengejar ’setoran’. Jika seorang yang sejak masuk fakultas agama sudah pasang niat hanya untuk menjadi pegawai negeri atau guru agama, maka setelah menjabat, dia pun tidak akan tertarik untuk meningkatkan kualitas keilmuannya.

Tidak heran, selama puluhan tahun mengajar, ilmunya tidak berkembang, karena jarang membaca atau menghadiri majelis ilmu. Ketika sarjana ini menjadi birokrat, maka dia tidak tertarik untuk memudahkan urusan masyarakat, karena yang paling utama adalah mengeruk keuntungan dari posisinya. Kerusakan niat dan motivasi dalam menuntut ilmu inilah yang sejak lama diperingatkan oleh Imam al Ghazali dalam kitabnya, Bidayatul Hidayah. Kata Al Ghazali, jika seseorang menuntut ilmu untuk tujuan-tujuan mencari keuntungan dunia, maka sejatinya, dia telah berjalan untuk menghancurkan agamanya, merusak dirinya sendiri, dan gurunya. Karena ilmu harus diabdikan untuk ibadah kepada Allah.

Tradisi ilmu
Bangkitnya peradaban Islam harus dimulai dengan pembangunan tradisi ilmu dalam masyarakat Islam. Rasulullah SAW memberikan teladan bagaimana beliau membangun satu generasi yang luar biasa kecintaannya terhadap ilmu. Menurut Prof Hamidullah, Piagam Madinah adalah Konstitusi Negara tertulis pertama di dunia. (Lihat, Muhammad Hamidullah, The Prophet’s Establishing a State and His Succession, Pakistan Hijra Council, 1988). Di Madinah, Rasul SAW juga menggalakkan tradisi baca tulis. Bahkan beliau membebaskan tawanan Badar yang mengajar kaum Muslim membaca dan menulis. Rasulullah SAW juga memerintahkan penulis wahyu, Zaid bin Tsabit, untuk belajar bahasa Ibrani. Maka, tidak heran, kader-kader Rasulullah SAW adalah orang-orang yang sangat tinggi semangat keilmuannya.

Sebagaimana gerenasi sahabat, para ulama Islam juga berhasil memunculkan satu tradisi ilmu yang khas dalam Islam. Yakni, tradisi yang menyatukan antara ilmu dan amal. Para Imam Mazhab, misalnya, dikenal sebagai orang-orang yang mempunyai kualitas ilmu dan amal yang tinggi. Imam Abu Hanifah lebih memilih dicambuk setiap hari ketimbang menerima jabatan hakim negara. Imam Syafii sanggup mengkhatamkan Alquran 60 kali dalam shalat di bulan Ramadhan. Imam Ahmad bin Hanbal sangat gigih mempertahankan pendapatnya tentang keqadiman Alquran, meskipun harus dipenjara oleh penguasa yang Muktazilah.

Tradisi yang menyatukan ilmu dan amal serta akhlak ini selama berabad-abad terus dipertahankan oleh kaum Muslim. Di pesantren-pesantren di Indonesia, santri yang melakukan tindak pencurian akan dikenakan sanksi yang berat. Untuk memurnikan niat dalam mencari ilmu, masih ada pesantren yang tidak mau memberikan ijazah formal kepada santrinya. Budaya ilmu Islam inilah yang harusnya dikembangkan oleh kaum Muslim, jika ingin membangun peradaban Islam yang gemilang.

Budaya gincu
Sebagai bangsa Muslim terbesar di dunia, jika ingin menjadi bangsa yang besar dan disegani dunia, maka yang harus dilakukan adalah membangun tradisi ilmu secara serius di tengah masyarakat. Para pendiri bangsa ini, seperti Soekano, Hatta, Syahrir, Moh Natsir, Moh Roem, dan sebagainya, adalah orang-orang yang mencintai ilmu. Almarhum Hartono Mardjono pernah bercerita kepada saya, ketika dia masih SMP, jika datang ke Pak Roem, maka dia akan diberi sebuah buku yang harus dia baca dalam tempo seminggu.

Untuk itulah, pemerintah dan semua elite negara ini perlu berkonsentrasi pada masalah ini. Adalah ironis, di tengah kondisi semakin mencekiknya biaya pendidikan dan kehidupan, pemerintah justru membangun patung-patung yang nilainya ratusan miliar atau bahkan triliunan rupiah. Masih banyak penggunaan dana-dana APBN atau APBD yang mubazir yang seharusnya bisa dialihkan untuk meningkatkan proyek-proyek keilmuan.

Tradisi atau budaya gincu ini bisa dilihat dari penghargaan pemerintah dan masyarakat terhadap para ilmuwan. Ratusan juta rupiah hadiah diserahkan kepada seorang pemenang wajah suatu majalah, jauh lebih besar dibandingkan dengan hadiah yang diterima para pelajar kita yang menang olimpiade sains. Mestinya, ketika para pelajar itu tiba di Tanah Air, presiden sendiri yang menyambut kedatangan mereka di bandara.

Ikhtisar
– Kerusakan ilmu merupakan akar dari semua masalah yang menimpa suatu masyarakat.
– Paham relativisme termasuk salah satu bentuk kerusakan yang membuat para sarjana bidang keagamaan yang tidak meyakini kebenaran agama.
– Rasulullah SAW telah memberi contoh betapa kecintaan beliau terhadap ilmu.
– Pemerintah dan para elite, semestinya mulai memberikan perhatian yang lebih terhadap masalah-masalah keilmuan.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s