Ayat-ayat Cinta dan Diplomasi

Awidya Santikajaya
Diplomat Indonesia
Sedang Tugas Belajar di Clingendael Institute of Foreign Affairs, Den Haag

Demonstrasi melanda beberapa negara, seperti Afghanistan, Pakistan, dan Mesir untuk mengutuk rencana pemutaran film Fitna pada 28 Maret nanti. Film yang disutradari oleh Geert Wilders ini rencananya ditayangkan di hadapan para wartawan di Nieuwspoort, Den Haag. Film ini dimaksudkan Wilders untuk menjelek-jelekkan ayat-ayat Alquran yang dianggapnya sebagai inspirator gerakan terorisme di dunia.

Wilders pernah menyatakan Alquran tak ubahnya buku fasis seperti Mein Kamp-nya Adolf Hittler yang memberi inspirasi bagi orang yang membacanya untuk melakukan tindakan-tindakan yang buruk. Pemerintah Belanda sudah melakukan segala daya untuk mencegah pemutaran film yang dikhawatirkan akan menyulut ketegangan di berbagai belahan dunia.

Menlu Belanda Maxime Verhagen telah menjelaskan bahwa pemutaran film itu sama sekali tidak didukung oleh pemerintah. Bahkan, sebelumnya pada 2007 PM Belanda Jan Peter Balkenende telah mengingatkan Wilders untuk tidak membuat film yang melecehkan Alquran. Tindakan Pemerintah Belanda ini perlu dihargai.

Tidak hanya itu, TV-TV di Belanda sudah menyatakan boikot atas rencana penayangan Fitna. Bahkan, NATO, PBB, dan Komisi Eropa juga menyampaikan kepada Wilders tentang dampak buruk pemutaran film itu bagi kestabilan dunia.

Wilders adalah ketua Partai Kebebasan yang berhaluan ultranasionalis. Partai Kebebasan bukanlah partai besar di Belanda. Pada pemilihan terakhir Partai Kebebasan hanya menduduki peringkat kelima, jauh di bawah Partai Kristen Demokrat dan Partai Buruh. Maka dari itu, wajar masyarakat Belanda sebagian besar tidak mendukung pemutaran film ini.

Masyarakat Belanda sudah terbiasa hidup berdampingan secara damai dengan masyarakat Muslim. Menurut Central Bureau of Statistics Netherlands, jumlah Muslim di Belanda pada 2004 mencapai 5,8 persen atau 945 ribu orang. Bahkan, pada 2007 diperkirakan telah mencapai 1,5 juta. Dari jumlah itu, proporsi terbesar adalah imigran asal Maroko, Turki, dan kemudian Indonesia.

Semula kehadiran para imigran Muslim itu menjadi tenaga kerja yang akan menopang perekonomian Belanda setelah hancur akibat Perang Dunia II. Jumlah imigran Muslim makin besar hingga menyebabkan pengangguran di kalangan imigran itu. Inilah awal dari konflik.

Banyak tindakan kriminal yang dianggap terkait dengan imigran Muslim. Bahkan, beberapa pusat permukiman imigran Muslim di Den Haag, Amsterdam, dan Rotterdam menjadi tempat peredaran narkoba. Hal ini menyebabkan citra imigran Muslim (dan tentunya Islam) menjadi buruk. Muncullah resistensi dari kelompok ultranasionalis Belanda yang menganggap kehadiran imigran Muslim hanya menciptakan kerusakan dan kejahatan.

Gerakan ultranasionalis yang terwujud dalam Partai Kebebasan itu secara aktif mengampanyekan antiimigran Muslim. Pergesekan sosial pun makin menjadi-jadi hingga mencapai puncak pada pembunuhan Theo van Gogh tahun 2004 oleh imigran Mohammed Bouyeri, imigran asal Maroko. Theo dianggap menghina Islam dengan filmnya yang menggambarkan kekerasan di kalangan komunitas Muslim di Belanda.

Karya indah
Mungkin suatu kebetulan jika pada 28 Februari lalu, tepat satu bulan menjelang rencana pemutaran Fitna, di Indonesia diputar film Ayat-ayat Cinta. Film yang digarap Hanung Bramantyo dari novel dengan judul sama karya Habiburrahman El-Shirazi ini mendapat sambutan hangat dari masyarakat.

Antusiasme ini sangat wajar mengingat mungkin film ini pertama di Indonesia yang menyinergikan kisah cinta dan religi, dua hal yang kadang sering dianggap tabu untuk dikombinasikan satu sama lain. Lebih dari itu, film ini menggambarkan kemoderatan dan toleransi Islam.

Fahri (Fedi Nuril) seorang mahasiswa di Al Azhar, Kairo dapat hidup berdampingan dan harmonis dengan tetangganya, Maria (Carissa Puteri) dan keluarganya yang beragama Kristen Koptik. Dalam film ini dikisahkan pula Aisyah (Rianti Cartwright) yang kemudian menjadi istri Fahri menyatakan tidak ingin dipoligami.

Hal ini menunjukkan fakta bahwa poligami dalam Islam adalah hal yang sulit dilakukan dan tidak bisa dengan semena-mena karena nafsu. Sosok Fahri yang berpegang teguh pada prinsip keislaman, tetapi tetap menampilkan sifat ramah, sopan, dan hormat sangatlah penting untuk dicontoh. Hal ini jauh dari asumsi yang dikemukakan Wilders bahwa Islam mengajarkan kekerasan.

Memang seharusnya ada bagian penting dari novel yang ternyata tidak ditampilkan sebagai adegan dalam film, yaitu ketika Fahri memberikan hadiah ulang tahun untuk Yousef dan Madam Nahed yang beragama Kristen dan keduanya sangat terharu dengan tindakan Fahri ini. Perlu pula seyogyanya ditampilkan dialog antara Fahri dan Alicia (gadis dari Amerika) yang ingin tahu banyak tentang Islam. Ini contoh bagus tentang dialog antarperadaban yang sehat dan terbuka.

Keterbatasan itu mungkin dapat dipahami mengingat film tidak mungkin menampilkan adegan demi adegan di novel. Film ini sangat layak untuk menjadi bahan renungan mengenai bagaimana seharusnya umat Islam menghormati umat lain. Masuknya Maria ke dalam Islam tanpa paksaan dan setelah belajar Alquran secara diam-diam dan ikhlas merepresentasikan bahwa Islam bukanlah agama yang disebarkan dengan kekerasan dan tipu daya.

Sabar dan cerdas
Menyikapi rencana pemutaran film Fitna 28 Maret nanti, umat Islam, khususnya di Indonesia, selayaknya tidak melakukan aksi anarkis, terutama terhadap perusahaan, kedutaan, dan warga Belanda di Indonesia. Wilders bukanlah representasi sikap warga Belanda yang sebenarnya sangat ramah terhadap Islam. Suara Partai Kebebasan di Belanda hanyalah enam persen.

Di Belanda Islam bagian dari kehidupan. Ribuan masjid, acara pengajian di TV, sekolah Islam, dan ratusan ribu wanita berjilbab dapat hidup dengan damai. Masyarakat Islam Indonesia di Belanda uga sangat dihormati oleh masyarakat Belanda karena keramahan dan toleransinya.

Masjid Indonesia di Den Haag berdiri dengan megah di tengah-tengah permukiman masyarakat Belanda. Masyarakat Belanda juga merasa nyaman dengan kehadiran Masjid Indonesia yang merupakan bekas gereja tersebut.

Tentunya akan sangat menarik jika film Ayat-ayat Cinta dapat pula ditayangkan luas ke mancanegara, terutama masyarakat Eropa yang sebagian masih menaruh kebencian terhadap Islam. Tidak hanya untuk ‘melawan’ Fitna, tetapi Ayat-ayat Cinta juga dapat dijadikan sebagai salah satu instrumen diplomasi untuk menunjukkan citra Indonesia sebagai bangsa berpenduduk mayoritas Islam dengan ciri kemoderatannya. Indonesia tak akan berhenti untuk mewujudkan peradaban yang damai dan berdampingan di dunia.

ikhtisar:

Ayat-ayat Cinta mampu menyinergikan kisah cinta dan religi.
– Sebagian kecil masyarakat Belanda yang membenci Islam.
– Semua media massa Belanda berencana memboikot film Fitna.

Sumber; http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=326976&kat_id=16&kat_id1=&kat_id2=

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s