Menggagas (kembali) Teologi Lingkungan

Ditulis oleh : Maya Susiani, Peneliti di Lembaga Studi Kebudayaan dan Demokrasi (LSKD) Jember, Jawa Timur

Filsuf agama-agama James A Rimbach pernah menyatakan, For theologians to address the issues of the ecology and environment is a typical test case for doing theology today. Pernyataan Rimbach tersebut menegaskan bahwa membumikan teologi lingkungan adalah pilihan tepat dalam ‘berteologi dalam konteks’. Dengan kata lain, teologi lingkungan menjadi semacam ujian dan kaca benggala untuk mengukur kadar keimanan kita selama ini.

Tapi, apa lacur, petuah di atas tidak cukup ampuh. Masalah kepedulian lingkungan kini hanya mitos belaka. Akibatnya kini kita rasakan. Bencana datang silih berganti. Banjir hebat dan longsor banyak terjadi di belahan bumi pertiwi. Belum kering air mata untuk korban lumpur Lapindo di Sidoarjo, banjir datang mendera dan mengakibatkan kerugian yang tak sedikit.

Mampukah rentetan bencana itu menyentuh ceruk hati nurani kita yang paling dalam? Mampukah bencana itu menyentuh nurani para pemodal yang tiada henti mengeksploitasi alam? Pertanyaan ini penting dihadirkan untuk mengetuk nurani kita agar segera melahirkan tindakan konkret untuk menyelamatkan lingkungan yang semakin keropos ini.

Seperti banyak diberitakan, rentetan bencana itu adalah akibat dari tingkat eksploitasi terhadap lingkungan yang sudah sangat mengkhawatirkan. Itu contoh betapa tidak pedulinya kita terhadap lingkungan. Sulit membayangkan bagaimana kehidupan umat manusia di masa mendatang jika tindakan eksploitatif terhadap alam tak segera disudahi.

Itu sebabnya, kita harus menyadari bahwa masalah kerusakan lingkungan yang menyebabkan ketidakseimbangan ekosistem adalah ancaman serius bagi keberlangsungan kehidupan di muka bumi. Apalagi seperti diketahui, secara geomorfologis Indonesia berada pada posisi yang rawan terhadap bencana.

Di sinilah teologi lingkungan penting dihadirkan untuk menggugah semangat umat manusia dalam mencapai soteriologi rumah tangga dunia. Basis epistemologis dari teologi lingkungan adalah kesadaran agama-agama yang menyatakan bahwa krisis lingkungan yang terjadi saat ini bukanlah melulu masalah yang bersifat sekuler, tetapi merupakan problem religius yang serius dan harus segera ditangani.

Akan menjadi mubazir jika agama-agama berbusa-busa berbicara tentang kehidupan abadi di akhirat, akhlak, salat, atau puasa, namun tidak mengambil bagian sedikit pun dalam keprihatinan lingkungan. Artinya, agama-agama harus mampu memberikan sumbangan dan mengambil tanggung jawab etis di bidang penyelamatan lingkungan. Sumbangan, peran, dan tanggung jawab etis itu akan mewujud bila ada pembumian teologi lingkungan dalam praktik beragama kita.

Teologi lingkungan

Teologi lingkungan adalah tuntutan kesadaran beragama yang memiliki keterlibatan dan keberpihakan penuh kepada lingkungan. Pembumian teologi lingkungan ini bertujuan dan berperan untuk mendekonstruksi, menguji kembali sikap hidup dan tingkah laku kita terhadap alam.

Teologi lingkungan adalah perspektif teologi tentang alam semesta yang mengkaji ulang posisi manusia dan tanggung jawab etisnya dalam relasi kosmos. Ia yang nantinya akan membongkar keyakinan bahwa manusia dan alam adalah dua ‘dunia’ yang berbeda, yaitu manusia sebagai ‘pusat’ ( core) dan alam sebagai hal yang subordinat alias ‘yang lain’ (the others).

Dengan pembumian teologi lingkungan, diharapkan kita akan sadar bahwa semua ciptaan Tuhan (manusia, alam, hewan) mempunyai hak untuk bereksistensi. Tidak ada satu pun makhluk hidup yang berhak menguasai sesamanya, selain Tuhan. Karena dalam tradisi agama-agama, semua karya di muka bumi berpusat pada Yang Esa, meski secara skema muncul dalam pelbagai konsep, seperti Allah, Tao, ataupun Brahman.

Dalam Islam, misalnya, Tuhan adalah penguasa tunggal yang mutlak dan tak tergugat atas langit dan bumi (QS Al-Baqarah, 107). Karena itu, ketika manusia mulai mengeksploitasi alam secara rakus, saat itu pula ia berusaha ‘merampas’ eksistensi dan kehidupan alam semesta. Dengan kata lain, ia berusaha ‘menggugat’ dan ‘merampas’ hak dan kekuasaan Tuhan.

Mempraktikkan teologi lingkungan berarti mengajak kita untuk merefleksikan iman kita dalam proses menuju keselamatan seluruh ciptaan Tuhan. Dengan kata lain, keberadaan seorang beriman harus sampai pada pertanyaan teologis ini, ‘Bagaimana ajaran Tuhan yang kita imani dan amalkan demi keselamatan dan keseimbangan kehidupan?’

Bonaventura, filsuf-teolog di zaman patristik, juga menyebut alam semesta sebagai ‘kitab alam’ yang ditulis Allah sebagai media manusia untuk bersatu dengan-Nya. Pasalnya, alam adalah ‘sakramen’ Tuhan, tangga untuk menuju keharmonisan bersama Sang Khalik. Sehingga, jika kita menyadari hal tersebut, tentu visi dan misi teologi kita harus sampai pada aspek soteriologi (keselamatan) yang bersifat universal, yaitu keselamatan yang menjangkau seluruh ciptaan Tuhan (manusia, alam, dan sebagainya) dalam rumah tangga dunia.

Sumber; http://www.mediaindonesia.com/berita.asp?id=162760

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s