Kodrat Perempuan dalam Islam

Ditulis oleh: Nasaruddin Umar, Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta

Kaum perempuan kembali menjadi perbincangan publik. Setiap 8 Maret yang ditetapkan sebagai Hari Perempuan Internasional. Hal itu menunjukkan bahwa eksistensi kaum perempuan tidak lagi bisa ditempatkan atau dipandang sebagai masyarakat kelas dua yang hanya mengurus masalah atau bekerja di sektor domestik, rumah tangga, tetapi mereka juga berhak untuk mengambil bagian dalam kehidupan sosial yang lebih luas seperti mengurus soal politik.

Disetujuinya kuota 30% keterwakilan perempuan di parlemen menjadi Undang-Undang Pemilu (UU Pemilu) 2009 menunjukkan peran perempuan dalam politik di negeri ini mengalami kemajuan. Lebih-lebih kalau kita bandingkan dengan peran kaum perempuan di era pemerintahan Orde Baru. Betapa pun Undang-undang ini masih perlu diuji efektivitasnya dalam mengakomodasi keterwakilan kaum perempuan itu, tetapi inilah fakta sosial bahwa kita sangat apresiatif terhadap peran kaum perempuan untuk turut serta memperkuat sendi pembangunan bangsa dan negara. Boleh saja sementara kalangan berpendapat bahwa kian banyaknya keterwakilan kaum perempuan di parlemen belum tentu berfungsi efektif untuk membangun kinerja parlemen lebih baik. Akan tetapi tesis ini memiliki kelemahan argumentasi. Dominasi kaum laki-laki di parlemen selama ini ternyata banyak sekali permasalahan menyangkut kaum perempuan yang tidak terakomodasi.

Oleh karena itu, kata Soedjatmoko (1984), “Mekanisasi pembangunan dan modernisasi tidaklah mungkin dapat berjalan dengan baik manakala mengabaikan eksistensi kaum perempuan.” “Banyaklah sudah pergerakan yang kandas di tengah jalan, karena kita mengabaikan potensi dan eksistensi kaum perempuan,” kata Mahatma Ghandhi. Senada dengan itu, Kemal Ataturk dan Lenin menegaskan bahwa kita tidak bisa mengabaikan peran serta kaum perempuan karena kemenangan tidak akan tercapai, jika melupakan peran serta kaum perempuan (lihat: Soekarno dalam Sarinah, 1963). Realitasnya secara demografis, sesuai sensus penduduk 1990 misalnya, tercatat 179.247.983 orang. Sebanyak 89.375.677 laki-laki, sisanya 89.872.106 adalah perempuan. Artinya, kaum perempuan di negeri ini merupakan entitas sosial yang menempati posisi mayoritas dan oleh karena itu eksistensi mereka tidak bisa diabaikan.

Meski demikian, keterwakilan 30% kaum perempuan dalam politik (political representativeness) di parlemen itu sejatinya masih sangat minim jika dibandingkan dengan populasinya yang mayoritas dalam struktur kependudukan. Memang, sepintas terlihat ada kenaikan jumlah keterwakilan mereka di dalam legislatif dari periode ke periode, namun perubahan itu tidaklah menyentuh substansi yang signifikan.

Dari 460 anggota DPR (Pemilu 1982) hanya 38 perempuan. Sementara itu dari 920 anggota MPR hanya 65 perempuan. Memang, semenjak 1971 hingga 1992 partisipasi perempuan dalam politik menunjukkan adanya peningkatan, baik anggota dewan yang dipilih maupun yang diangkat, tetapi hanya berkisar 9,6%. Ironisnya, dalam Pemilu 1992 jumlah pemilih perempuan ada 55.074.722 (51%) sedangkan pemilih laki-laki 52.490.925 atau 49%. Akan tetapi, menurut data IDEA, keterwakilan kaum perempuan di MPR hanya 8,6%, DPR 8,8%, di MA 14,89%, BPK 0%, dan di DPA 4,44%. Sebaliknya komposisi gender DPR-RI (1999), dari 500 anggota, 455 (91%) laki-laki dan 45 (9%) perempuan. Sedangkan 2004, dari 550 anggota, 492 atau 89,45% laki-laki 58 atau 10,55% perempuan.

Apalagi kalau kita membandingkan dengan keterwakilan kaum perempuan di parlemen beberapa negara di dunia, keterwakilan kaum perempuan kita masih sangat rendah. Persentase keterwakilan kaum perempuan di Asia rata-rata sudah mencapai 14,9%, sementara di negara-negara Afrika sekitar 12,1%, di negara-negara Pasifik berkisar 11,5%, dan di Amerika 13,3%. Sedangkan di Swedia, Norwegia, Denmark, dan Finlandia sudah mencapai 40%-45%.

Perspektif Islam

Menarik untuk dikaji, bagaimana pandangan Islam dalam menempatkan perbedaan gender dalam konsep pranata sosialnya. Memang harus diakui, tidak ada penjelasan khusus yang lebih detail tentang bagaimana kodrat perempuan dalam Alquran dan Hadis. Namun kalau yang dimaksud kodrat perempuan adalah upaya untuk memberdayakan kaum perempuan, maka jelas terdapat argumen teologis di dalam Islam. Oleh karena itu, kehadiran Islam haruslah disyukuri oleh kebanyakan kaum perempuan di dunia, khususnya di negeri yang populasi penduduknya mayoritas muslim ini.

Betapa tidak, sebelum kedatangan Islam kaum perempuan selalu ditempatkan sebagai objek yang hampir tidak mempunyai hak-hak pribadi. Seorang perempuan tidak berhak mendapatkan harta warisan misalnya, dan tidak pula mempunyai hak-hak politik seperti halnya kaum laki-laki. Mereka harus tunduk di bawah tekanan dan keinginan suami yang berkewajiban untuk mengamankan dan membereskan segenap isi rumah dan seterusnya. Meski demikian, kehadiran Islam kemudian mengangkat harkat kaum perempuan dalam posisi yang setara dengan kaum laki-laki.

Alquran memberikan pandangan optimistis terhadap perempuan, salah satunya dengan menekankan prinsip bahwa ukuran kemuliaan di sisi Tuhan adalah prestasi dan kualitas tanpa membedakan etnik dan jenis kelamin. Alquran berusaha memandang perempuan dalam suatu struktur kesetaraan gender dengan kaum laki-laki.

Catatan sejarah tentang posisi perempuan dalam struktur sosial, khususnya pada masyarakat Arab pra-Islam, sangat memprihatinkan. Perempuan dipandang tidak lebih dari objek perlakuan seks kaum laki-laki dan sebagai beban dalam strata sosial. Bukan hanya mereka dipandang tidak mampu mengangkat kesejahteraan keluarga, bahkan sebaliknya menjadi beban ekonomi, tetapi juga karena budaya kabilah yang begitu kental dalam masyarakat Arab yang sering memicu timbulnya perang di antara mereka. Kondisi ini kemudian menempatkan daya tawar kaum laki-laki lebih terhormat daripada kaum perempuan karena dianggap mampu mengangkat kehormatan kabilah dalam peperangan.

Itulah sebabnya, dalam budaya masyarakat Arab ketika itu, bukan sesuatu yang naif untuk menyingkirkan perempuan dalam kehidupan dan pergaulan. Tidak segan-segan mereka membunuh, bahkan mengubur hidup-hidup anak perempuannya yang baru lahir ke dunia. Alquran sendiri menyinggung langsung hal ini dan menyindir mereka sebagai orang yang berpikiran picik karena menganggap kaum perempuan hanya sebagai beban sosial dan ekonomi.

Dalam konteks ini Allah berfirman, “Dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka. Janganlah kamu mendekati perbuatan keji baik yang tampak di daratan maupun yang tersembunyi dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar. Demikian yang diperintahkan Tuhan kepadamu supaya kamu memahaminya” (QS al-An’am/6:151). Mengapa Tuhan melarang membunuh anak-anak perempuan mereka? Tak lain karena Allahlah yang memberi rezeki, untuk itu tidak perlu takut akan kemiskinan karena sesungguhnya membunuh mereka itu adalah suatu dosa besar (lihat: QS al-Isra’/17:31).

Dalam konstalasi inilah kemudian perlahan namun pasti, kehadiran Islam mengubah pandangan masyarakat terhadap kaum perempuan. Perempuan yang sebelumnya hanya ditempatkan dalam posisi sebagai objek yang hampir tidak memiliki hak dan peran sosialnya, kini telah kembali menjadi komunitas yang seharunsya. Bahkan, dalam teks-teks agama akan ditemukan banyak sekali hadis yang memuliakan perempuan. Untuk itu, dengan sendirinya perempuan, di samping sebagai objek juga lebih dipandang sebagai subjek dengan hak-hak dan kewajibannya.

Ungkapan Alquran tentang perempuan memang hampir semuanya dalam bentuk dan kedudukan sebagai objek (maf’ul bih) dan umumnya menjadi pihak ketiga (ghaibah), sedangkan laki-laki lebih banyak berkedudukan sebagai pelaku (fa’il) dan pihak kedua (mukhathab). Namun, tidak berarti Alquran menoleransi adanya struktur sosial berdasarkan jenis kelamin. Hanya dalam struktur bahasa Arab, yang digunakan dalam menyimbolkan makna Alquran, dimensi gender memang dominan.

Sebetulnya bukan hanya dalam bahasa Arab, umumnya struktur gender laki-laki lebih dominan dalam bahasa-bahasa di dunia. Meskipun begitu, meski secara gramatikal kebahasaan terkesan adanya struktur sosial berdasarkan jenis kelamin, tetapi prinsip yang lebih populer dalam Alquran adalah mereka yang paling bertakwa kepada-Nya. Tuhan memuliakan orang yang bertakwa tanpa membedakan jenis kelamin (QS al-Hujurat/49:13).

Memang dalam Islam, asal-usul, substansi, dan proses kejadian perempuan tidak dijelaskan secara terperinci. Tidak seperti dalam Bibel yang banyak menjelaskan asal-usul kejadian perempuan (Hawa/Eva) seperti dalam Genesis 1:26-27, 2:18-24; tradisi Imamat 2:7, Tradisi Yahwis 2: 18-24, Tradisi Imamat 5:1-2. Di antara naskah yang paling berpengaruh adalah Kitab Kejadian 2:21-23 yang menyatakan: “Lalu Tuhan Allah membuat manusia itu tidur nyenyak; ketika ia tidur, Tuhan Allah mengambil salah satu tulang rusuk daripadanya, lalu menutup tempat itu dengan daging (22). Dan dari tulang rusuk yang diambil Tuhan Allah dari manusia itu dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa kepada manusia itu (23)”.

Persepsi seperti ini juga banyak berpengaruh dalam dunia Islam, seperti yang dikatakan Muhammad Rasyid Ridha dalam Tafsir al-Manar, “Seandainya tidak tercantum kisah kejadian Adam dan Hawa dalam Perjanjian Lama (Kejadian 2:21), niscaya pendapat keliru (yang mendiskreditkan perempuan) tidak akan pernah terlintas dalam benak seorang muslim.”

Dalam Hadis ditemukan beberapa riwayat perempuan yang mirip sekali dengan Kitab Kejadian dalam Bibel, dan Hadis-hadis itu banyak dikutip dalam kitab tafsir yang mutabar. Namun, terlepas dari itu semua, yang jelas dalam Islam tidak ada diskriminasi yang dinisbatkan pada dimensi gender. Untuk itu, partisipasi politik dan peran sosial kaum perempuan mesti dibuka lebar untuk turut serta dalam proses memajukan pembangunan bangsa dan negara Indonesia yang kita cintai ini.

Sumber; http://www.mediaindonesia.com/berita.asp?id=162761  

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s