HKm di Bengkulu Belum Beri Manfaat

Jumat, 29 Februari 2008 | 02:34 WIB

http://kompas.co.id/kompascetak/read.php?cnt=.xml.2008.02.29.0234104&channel=2&mn=165&idx=165  

Bengkulu, Kompas – Program hutan kemasyarakatan atau HKm di Provinsi Bengkulu yang sudah berjalan tujuh tahun hingga kini dinilai belum optimal dalam meningkatkan ekonomi masyarakat. Padahal, sesuai dengan konsep awal, peluncuran program itu diharapkan dapat memberdayakan masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan sehingga mereka tidak lagi terjun sebagai perambah hutan.

”Memang ada yang keliru dalam program hutan kemasyarakatan di Bengkulu selama ini. Salah satunya adalah pohon yang ditanam tak cocok dengan agroklimat daerah setempat sehingga produktivitasnya rendah. Akibatnya, secara ekonomis memang tidak bisa menopang kehidupan masyarakat yang terlibat dalam program itu,” kata Hexa Prima Putra, Direktur Yayasan Konservasi Sumatera, ketika ditemui di Bengkulu, Kamis (28/2).

Program hutan kemasyarakatan di Provinsi Bengkulu yang mulai diluncurkan tahun 2001 melibatkan 58 kelompok masyarakat dengan 2.086 petani pada tujuh desa di sepanjang aliran Sungai Musi atau di kawasan Hutan Lindung Bukit Daun, Register 5. Luas lahan hutan kemasyarakatan ini mencapai 2.032,5 hektar, berada di wilayah Kabupaten Kepahiang dan Rejang Lebong.

Konsep hutan kemasyarakatan di Bengkulu, kata Hexa, bertujuan memberdayakan masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan dan yang selama ini diindikasikan terlibat dalam perambahan hutan untuk perladangan. Tanaman pokok yang ditanam di areal hutan kemasyarakatan adalah kemiri (Aleurites moluccana) sebagai budidaya unggulan. Sementara tanaman pengayaan antara lain durian, petai, pinang, dan jengkol.

Setelah program ini berjalan tujuh tahun, ternyata kemiri yang ditanam di hutan kemasyarakatan Bengkulu tidak produktif kendati tanaman memang tumbuh subur. Setelah ditelusuri penyebabnya, ternyata bibit kemiri yang ditanam berasal dari Sulawesi dan tidak cocok dengan agroklimat Bengkulu. Dibandingkan tanaman kemiri lokal yang produktivitasnya berkisar 2,5 ton hingga 3 ton, kemiri asal Sulawesi hanya menghasilkan 1 ton hingga 1,5 ton per hektar.

”Kemiri sebagai tanaman unggulan memang diharapkan dapat menopang ekonomi masyarakat setelah usia pohon empat tahun. Sebab, harga buah kemiri setelah dikupas cukup menggiurkan, bisa mencapai sekitar Rp 8.000 per kilogram,” kata Hexa Prima Putra. (zul)

 

By Akar Foundation Posted in Info

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s