Teologi Islam untuk ‘Global Warming’

Penulis: Ismatillah A Nu’ad, Associate Researcher Kantata Research Indonesia

Sumber_Media Indonesia http://www.mediaindonesia.com/berita.asp?id=150890

Kini dunia tengah menghadapi gejala alam apa yang disebut sebagai global warming (pemanasan global) sebagai efek dari rumah kaca. Di antara sekian akibat, salah satunya adalah terjadinya perubahan iklim tidak menentu (uncertain climate).

Barangkali kita sudah merasakan cuaca panas begitu menyengat. Demikian pula, pada saat musim hujan, turunnya air tidak seperti biasanya sehingga kadang dapat menimbulkan banjir yang sangat hebat. Antara musim hujan dan musim panas terjadi silih berganti seperti tidak memiliki batasan lagi. Itulah yang dimaksud pengamat lingkungan sebagai ciri-ciri perubahan iklim yang tidak menentu sebagai efek dari pemanasan global.

Alam terasa sudah tidak bersahabat dengan kita karena kerakusan dan kejahilan kita yang tidak memperlakukannya secara manusiawi. Hutan dibabat habis, pasir laut dikeruk secara masif, air dicemari limbah, udara dipenuhi polusi, gunung dirusak, dan perilaku destruktif manusia lainnya. Ketika telah sampai pada satu titik, saat alam sudah tidak lagi bisa seimbang, pada saat itu juga muncullah fenomena alam seperti pemanasan global.

Anehnya, ketika fenomena itu muncul, masih ada saja masyarakat yang berasumsi bahwa itu hanyalah bencana. Dalam pengertian, tidak dilihat sebagai konsekuensi dari perbuatan manusia, tetapi atas kehendak Tuhan. Atau dalam istilah teologis, keyakinan semacam itu disebut sebagai ‘masyarakat agamis’ yang menggariskan sesuatu berdasarkan atas paksaan Tuhan (Jabariah), yang meyakini bahwa Tuhan murka kepada penduduk sebuah negeri yang di dalamnya orang-orang sangat rajin dan pandai membuat serta memelihara dosa-dosa.

Keyakinan semacam itu jelas berbahaya karena Tuhan akan dipersalahkan sebagai biang dari segala bencana di dunia. Atau dalam bahasa Gottfried Leibniz (Roth, 2003:151), Tuhan di situ seakan-akan duduk di kursi pesakitan menjadi terdakwa (blaming the God) sebagai akibat terjadinya bencana. Padahal, menurut Leibniz, Tuhan tidak patut dipersalahkan, bahkan kemuliaan dalam eksistensi-Nya tidak terpengaruh dengan adanya dosa-dosa atau kebaikan-kebaikan di dunia, manusialah yang bertanggung jawab atas apa yang terjadi di dunia (blaming the men).

Pergeseran teologi

Pandangan teologi yang berseberangan dengan Jabariah, atau teologi yang lebih menekankan kepada kehendak bebas manusia (Qadariah), sebetulnya lebih relevan untuk menjelaskan fenomena seperti pemanasan global. Relevan bukan sebatas penjelasannya yang adil dan bijaksana dalam menempatkan kodrat manusia (theodice) yang dihubungkan dengan alam atau lingkungannya, dan di sisi lain dengan keberadaan musibah itu sendiri. Teologi Qadariah juga relevan karena dapat menghindarkan manusia dari mitologi-mitologi sosial yang biasanya merebak dan akhirnya membawa pada kesesatan dan kegelapan alam pikiran manusia.

Teologi itu pada prinsipnya ingin menegaskan bahwa manusia memiliki kehendak untuk berbuat sebebas-bebasnya (free will), dan ia harus bertanggung jawab atas segala tindakan yang sudah diperbuatnya. Maka dari itu, jika ada fenomena pemanasan global, sebetulnya itu merupakan cerminan, seakan-akan mempertanyakan sudah berbuat dan bertindak apa saja manusia di bumi ini? Berbuat dan bertindak bukan dalam pengertian manusia telah melakukan dosa-dosa, kemudian Tuhan murka dan menimpakan bencana itu, melainkan lebih karena tindakan dan perbuatan manusia yang dilakukan atas alam dan lingkungan, seperti pengeboran atas kekayaan perut bumi yang semena-mena, pengerukan pasir laut dalam skala yang cukup masif, penggundulan hutan, dan sebagainya. Segala tindakan dan perbuatan itulah yang kemudian lambat laun akan membuat alam menjadi murka sehingga fenomena pemanasan global akhirnya tidak bisa terhindarkan.

Hal itu sesungguhnya sesuai dengan yang tersirat dalam kitab suci sendiri, yang secara bebas berbunyi, bahwa kerusakan di darat dan di laut yang tampak, disebabkan perbuatan tangan manusia. Maka, sebagai akibat dari perbuatannya, datanglah bencana supaya manusia merasakan sebagian dari ulah dan perbuatannya agar mereka kembali ke jalan yang benar (Alquran, 30:41). Jelaslah bahwa fenomena pemanasan global tidak lain dan tidak bukan karena sebenarnya diakibatkan kita sendiri sebagai manusia.

Banyak dari kita yang tidak bertanggung jawab terhadap pengelolaan alam dan lingkungan. Berhentilah kita menyalahkan sesuatu yang ada di luar kita, seperti Tuhan misalnya. Bahkan menurut Ignaz Goldziher (1991), oleh karena ulah tangan manusia, maka manusia pun sesungguhnya dilarang untuk menyalahkan setan sekalipun. Setan menolak dimintai pertanggungjawabannya pada hari akhir nanti karena kesalahan dan dosa perbuatan manusia.

Teologi bumi

Hassan Hanafi dalam karyanya Religion, Ideology, and Developmentalism (1990) menawarkan apa yang dikenal sebagai teologi untuk memperlakukan bumi. Bagaimana semestinya bumi ini diperlakukan?

Menurut Hanafi, bumi merupakan ciptaan Tuhan yang harus dikelola manusia secara baik dan benar. Tidak ada satu pun manusia yang sesungguhnya berhak mengklaim memiliki barang sejengkal pun terhadap bumi karena bumi ini adalah milik-Nya. Oleh karenanya, tidak dibenarkan jika ada manusia yang arogan ketika merasa memiliki tanah di bumi. Arogansi dalam pengertian, misalnya, ketika manusia merasa memiliki jengkal tanah di bumi, lalu dia berbuat seenaknya sendiri; mengebor, mengeruk, mengeksploitasi, tanpa memikirkan apa akibatnya. Juga arogansi seperti, oleh karena manusia hidup di alam dan lingkungan, lalu ia seenaknya mengotori dan mencemari alam dan lingkungan dengan polusi serta berbagai perbuatan lainnya yang sesungguhnya akan merusak bumi.

Teologi selama ini sangat jarang diperkenalkan para penceramah keagamaan melalui pendekatan yang direlevankan dengan alam dan lingkungan. Seakan-akan tidak ada kaitan antara teologi keagamaan dan alam serta lingkungan. Jarang umat beragama menyentuh persoalan itu. Padahal sesungguhnya sebagai konsekuensi dari teologi itu, umat beragama semestinya mengimplementasikannya ke seluruh aspek dalam kehidupan, tidak terkecuali pula dengan masalah-masalah alam dan lingkungannya (environmentalism).

Pada 1902, seorang filsuf dari Amerika, William James, meluncurkan karya berjudul The Variety of Religious Experience. Ia mengatakan bahwa sesungguhnya implementasi dari teologi agama harus dibuktikan dalam kehidupan nyata. Iman itu menurutnya harus diaktualisasi secara konkret dan faktual, bukan hanya sebatas yakin dan percaya kepada Tuhan, melainkan harus ada apa bukti dari keimanan kepada Tuhan itu? Dari sisi itu, menurutnya, seseorang yang, misalnya, bertaubat sesungguhnya tidak cukup hanya memohon ampun kepada Tuhan, tapi yang melakukan taubat juga harus melakukan kebaikan-kebaikan di dunia realitas sebagai implementasi dari taubatnya.

Jika selama ini kita menganggap kaum beragama, sudah semestinya teologi agama kita tidak hanya cukup sampai pada keyakinan, namun tidak ada aktualisasinya dalam kehidupan. Sehingga, misalnya, kita mengaku bahwa kita orang beragama tapi perbuatan kita masih mencemari polusi udara, membuang sampah sembarangan, mengeksploitasi bumi secara semena-mena, dan sebagainya. Perbuatan dan tindakan itu tidak pantas dilakukan orang beragama. Saatnya kita membumikan teologi agama ini dalam realitas dan praksis kehidupan. Agama yang mengajarkan kebaikan-kebaikan harus diaktualisasikan dalam kehidupan sehingga pada akhirnya kita akan dapat terhindar dari segala mara bahaya. Wallahualam

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s