Pengembangan Bioenergi dan Pembangunan Pedesaan

Penulis: Teddy Lesmana, Peneliti pada Pusat Penelitian Ekonomi LIPI

Sumber_Media Indonesia http://www.mediaindonesia.com/berita.asp?id=149837

Melambungnya harga minyak mentah dunia diprediksi akan terus berlanjut hingga akhir tahun ini. Pada minggu-minggu terakhir, kenaikan harga minyak hampir menyentuh batas ambang harga psikologisnya, US$100 per barel. Pada perdagangan di New York Mercantile Exchange minggu lalu, harga minyak mentah jenis light sweet untuk pengiriman Desember naik 86 sen dolar AS menjadi US$96,32 per barel dan di London, minyak mentah brent naik 39 sen dolar AS menjadi US$93,18 per barel. Ada empat faktor yang penyebab naiknya harga minyak tahun ini, yakni masuknya musim dingin, cadangan minyak mentah yang menipis di Amerika Serikat (AS), konflik Turki dan Irak terkait dengan isu suku Kurdi, dan sanksi ekonomi AS terhadap Iran.

Di tengah gejolak ekonomi dan politik akan naiknya harga minyak, perlu disadari, minyak merupakan sumber energi yang tidak terbarukan dan kelangkaannya merupakan suatu fakta yang tak terelakkan. Keterbatasan itu mendorong negara industri melirik etanol (bioenergi) sebagai sumber energi alternatif. Selain dapat diproduksi mikroorganisme terus-menerus, etanol ramah lingkungan.

Potensi permintaan

Potensi ekonomi dan manfaat sosial yang dapat diperoleh dari pengembangan energi biomassa modern berangkat dari fakta bahwa sektor pertanian menghadapi permintaan yang besar akan komoditas pertanian dalam proses industrialisasi. Komoditas pertanian yang menjadi bahan baku bioenergi akan memerlukan serangkaian proses untuk diproduksi, dipanen, ditransportasikan, dan dikonversikan menjadi bioenergi dan didistribusikan bagi utilisasi akhir.

Ukuran potensi permintaan dapat dengan mudah diilustrasikan dengan melihat kebutuhan energi untuk transportasi. Bioenergi saat ini merupakan energi alternatif yang kompatibel dengan infrastruktur mesin bakar yang selama ini didesain untuk mengonsumsi energi berbasis fosil. Setiap harinya, dunia mengonsumsi sekitar 21 juta barel minyak (bensin) dan 21 juta barel lainnya solar. Jumlah itu dapat ditranslasikan menjadi potensi permintaan sekitar 30 juta barel etanol dan 23 juta barel biodiesel sehari.

Sebagai ilustrasi, untuk memenuhi potensi permintaan bioenergi tersebut, diperlukan, sekitar 300 juta hektare areal tanaman gula atau 590 juta hektare areal tanaman jagung. Luas areal itu sekitar 15 kali lebih besar daripada luasan areal tanaman gula dan lima kali lebih besar daripada luasan areal tanaman jagung yang ada saat ini. Untuk biodiesel, potensi permintaannya ekuivalen dengan 225 juta hektare areal tanaman kelapa sawit atau 20 kali lebih besar daripada luasan areal yang ada saat ini (Ugarte, 2006).

Bioenergi dan pembangunan pedesaan

Salah satu motivasi kunci yang perlu ditekankan dalam pengembangan bioenergi adalah upaya diversifikasi sumber daya energi dan mengurangi impor minyak mentah yang harganya terus membumbung. Implikasinya terdekat dari kenaikan harga minyak itu adalah setiap kenaikan harga minyak US$1 per barel, subsidi BBM akan naik sebesar Rp3,15 triliun yang tentunya akan menggeser prioritas sektor publik yang dibutuhkan masyarakat luas, seperti pendidikan dan kesehatan. Sementara itu, persoalan kemiskinan masih terus menggelayuti sebagian besar warga bangsa ini. Dalam konteks ini, seyogianya pengembangan dan peluang yang akan tercipta dari bioenergi juga ditujukan kepada pembangunan pedesaan. Manfaat dari produksi bioenergi dimulai dari produksi komoditas pertanian. Karakteristik sektor pertanian di negara-negara berkembang yang banyak menyerap tenaga kerja.

Naiknya permintaan produk pertanian akan meningkatkan penciptaan lapangan kerja dan kenaikan upah di sektor pertanian. Peningkatan pendapatan rakyat akan berpotensi mendorong efek pengganda yang signifikan karena dikonsumsi dan dihabiskan rakyat di kawasan pedesaan. Produksi massal komoditas pertanian untuk bioenergi juga memerlukan pembangunan infrastruktur untuk pengumpulan komoditas pertanian bahan baku bioenergi dan fasilitas konversi di dekat lahan areal produk komoditas pertanian tersebut. Pembangunan infrastruktur itu juga akan menggerakkan aktivitas ekonomi di pedesaan.

Manfaat lain, dalam pemberantasan kemiskinan adalah dengan terciptanya pengorganisasian produsen berskala kecil dalam memenuhi volume permintaan dan reliabilitas fasilitas konversi. Di Brasil dan AS, perusahaan besar mendominasi industri bioenergi, akan tetapi koperasi petani berperan penting dalam memfasilitasi perusahaan besar.

Di samping itu, beberapa jenis tanaman untuk bioenergi tidak memerlukan banyak input seperti pupuk sehingga bisa ditanam di lahan yang kurang produktif.

Tanaman komoditas untuk bioenergi juga memiliki potensi memperluas lahan untuk pertanian dan menciptakan pasar baru bagi petani. Dampak bagi ekonomi pedesaan adalah berperan mengurangi laju arus urbanisasi dan menciptakan lingkungan ekonomi yang lebih kondusif bagi investasi yang lebih besar dalam pembangunan infrastruktur di pedesaan, seperti kesehatan dan pendidikan.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s