Konsistensi Kevin Rudd

Republika/Jumat, 15 Februari 2008

Joni Murti Mulyo Aji
Kandidat PhD di University of Queensland, Australia

Setelah menandatangani Kyoto Protocol, Kevin Rudd, perdana menteri Australia terpilih, kembali membuat terobosan dengan mewujudkan janjinya selama pemilu. Pemerintahan Rudd secara resmi menyatakan permintaan maaf kepada suku Aborigin, penduduk asli Australia, pada Selasa (12/2) lalu.

Ini adalah sebuah momen yang penting dalam perjalanan sejarah Negeri Kanguru tersebut. Setelah sebelas tahun, isu permintaan maaf yang didengungkan oleh Komisi Hak Asasi Manusia ini terkatung-katung di parlemen, akhirnya Rudd mewujudkannya.

Pemerintahan Partai Buruh yang dipimpinnya juga memberikan pengakuan secara resmi atas kepemilikan tanah leluhur dan meminta maaf atas ketidakadilan pada masa lalu. Dalam suatu upacara di Members Hall, tetua suku Aborigin, Matilda House, secara simbolik memberikan tongkat wasiat kepada Perdana Menteri Kevin Rudd dan menyatakan harapan atas persatuan bangsa melalui rekonsiliasi.

Saat ini masih terdapat 450 ribu penduduk Aborigin di Australia atau 2,3 persen dari total jumlah penduduk Australia yang jumlahnya 21 juta. Dalam sejarah negara itu tercatat bahwa selama kurun waktu 1910 sampai 1970-an ada tak kurang dari 100 ribu anak Aborigin yang dipisahkan dari keluarganya untuk dipelihara oleh negara, yang dikenal dengan istilah ‘stolen generation‘.

Alasan utama pemisahan tersebut adalah untuk memberikan kehidupan yang lebih baik kepada mereka. Akan tetapi, sebuah studi yang dilakukan pada tahun 1997 mendapati bahwa sejatinya banyak anak yang ‘dicuri’ dari keluarganya tersebut mengalami depresi.

Oleh karena itu, Komisi HAM mendesak Pemerintah Australia meminta maaf atas kejadian tersebut. Namun, Pemerintahan Howard saat itu menolak meminta maaf dengan alasan pemerintahannya tidak bertanggung jawab atas kesalahan yang dibuat oleh pemerintahan sebelumnya. Isu permintaan maaf ini adalah isu penting yang menjadi trigger tumbangnya Pemerintahan Howard yang telah berkuasa selama 12 tahun.

Kini Kevin Rudd benar-benar mewujudkan janjinya. Dikatakan dalam sambutannya: ”Kami Pemerintah Australia meminta maaf atas hukum dan kebijakan dari pemerintahan yang terdahulu yang telah menyisakan kepedihan yang mendalam, penderitaan yang mendalam yang dialami oleh saudara kami”.

Menanggapi permintaan maaf ini Matilda House, sesepuh suku Aborigin, seperti dikutip media setempat merasa sangat tersanjung dengan permintaan maaf tersebut. ”Ini adalah awal yang baik,” katanya dengan penuh semangat.

Meski sampai saat ini Australia ini belum memiliki anggota parlemen dari suku Aborigin, sekitar 100-an orang pemimpin komunitas Aborigin dan anggota ‘stolen generation‘ hadir pada momen bersejarah tersebut. Untuk menggambarkan keseriusan pemerintah, rapat parlemen dengan agenda permintaan maaf ini juga disiarkan secara langsung di televisi dan ditayangkan pada banyak monitor yang terpampang di sudut-sudut kota di penjuru Australia.

Pemerintah Australia, seperti dikutip BBC, berharap permintaan maaf hari ini akan memperbaiki ketidakharmonisan hubungan antara kulit hitam dan kulit putih di Australia. Rudd menegaskan ini adalah kesalahan sejarah. ”Kami tidak ingin mengulangnya di masa mendatang. Karenanya kami meminta maaf dan menyesal,” ujar Rudd saat itu.

Konsistensi Rudd
Sejak berhasil mengambil alih kursi perdana menteri tanggal 25 November 2007 dari John Howard, Rudd dinilai konsisten menjalankan janji-janjinya dalam pemilu. Selain menandatangani Kyoto Protokol dan meminta maaf kepada suku Aborigin seperti dijanjikannya, Rudd juga melakukan reformasi membatalkan ‘Workchoices Legislation‘ yang dianggap mengganggu hubungan industrial antara buruh dan majikan di Australia.

Rudd juga akan menarik tentaranya dari Irak dan menghentikan dukungannya terhadap invasi Amerika Serikat ke Irak selambat-lambatnya pertengahan tahun ini. Konsistensi Rudd memberikan harapan baru bagi rakyat Australia.

Hal ini disambut baik oleh pasar ditandai dengan membaiknya indikator ekonomi, seperti menguatnya nilai tukar dolar Australia dan menguatnya indeks harga saham gabungan. Masyarakat Australia berharap konsistensi Rudd akan berlanjut sepanjang kepemimpinannya.

Melihat disiplin, kerja keras, dan paduan team work yang dia bangun, banyak rakyat Australia optimistis Rudd mampu menerima tantangan ini. Isu yang diusungnya pun sarat dengan nilai-nilai kemanusiaan yang universal.

Paling tidak sampai saat ini Rudd bisa dijadikan model kepemimpinan yang profesional. Tidak hanya di negaranya, tetapi juga di negara lain termasuk Indonesia.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s