Agama dalam Kehidupan

Penulis: Toeti Adhitama, Ketua Dewan Redaksi Media Group

Tepat satu dasawarsa yang lalu, Ron Sellers, dalam majalah The Futurist, membuat perkiraan tentang apa yang akan terjadi pada agama-agama dunia. Ron, yang banyak mengadakan riset di bidang ini, menggambarkan gejala-gejala yang ada. Antara lain ia menulis, agama akan selalu ada. Benturan antara ilmu pengetahuan dan agama makin banyak. Akan tetapi, kerja sama antarkeduanya juga meningkat. Agama memainkan peran besar dalam politik internasional. Berbagai pemerintahan akan mengintervensi. Tetapi komunikasi elektronik, khususnya internet, menyulitkan kontrol pemerintah. Yang kemudian terjadi adalah kecenderungan pembauran antarpenduduk dan antarkeyakinan. Juga tumbuh individualisme religius dan akibat-akibatnya, termasuk bangkitnya aliran-aliran baru. Ini diperlukan karena masyarakat mendambakan komunitas yang akrab dalam kehidupan yang makin sibuk dan kompleks.

Gejala tersebut ada di mana-mana. Itu berarti, bukan hanya Indonesia yang direpotkan aliran-aliran semacamnya seperti yang terjadi akhir-akhir ini. Membaca perkiraan Ron Sellers setelah rentang waktu 10 tahun memang menarik. Tetapi harus ada distansi dalam menyikapinya agar emosi kita tidak terbawa. Memang diperlukan kedewasaan berpikir karena topik tentang agama selalu sensitif. Ada perasaan religius di diri kita masing-masing. Agama membawa kita kepada realitas spiritual yang ada di balik alam semesta. Pengalaman itu subjektif dan personal.

Tetapi tulisan di majalah The Futurist bersifat tinjauan ilmiah. Posisi agama, seperti halnya teknologi, dikatakan berubah sesuai dengan perubahan waktu. Perubahan dalam abad 21 lebih cepat daripada waktu-waktu sebelumnya. Berbeda dengan teknologi, agama dan politik tidak bersifat global, tetapi lebih bersifat nasional dan regional.

Gejala lain, menurut Ron Sellers, sebagian besar agama besar dunia, karena didasarkan pada doktrin dan keyakinan yang datang dari Tuhan, tidak memelopori perubahan. Maka, perubahan dalam praktik-praktik agama biasanya datang sebagai reaksi atas perubahan-perubahan sosial. Banyak yang beranggapan, dunia semakin sekuler seiring dengan peningkatan pendidikan dan kemajuan masyarakat. Tetapi kenyataannya, agama tetap kuat di negara-negara sekuler sekalipun. Komunisme selama 90 tahun telah berusaha menghapus agama dari muka bumi, tetapi keyakinan akan agama tetap bertahan. Agama bahkan tumbuh cepat di bekas wilayah Soviet. Pun di China dan Kuba, walaupun pemimpin-pemimpin Komunis berusaha menyingkirkannya. Negara-negara di Timur Tengah semakin kaya raya, semakin tinggi pendidikan rakyatnya, begitu juga kekuasaan politiknya, tetapi agama Islam tetap berpengaruh besar terhadap kehidupan penduduknya. Memang di wilayah Eropa Barat, misalnya, agama tampak menyusut pengaruhnya, tetapi sebaliknya di Rusia dan Afghanistan pengaruhnya semakin besar.

Tentang hubungan antara agama dan ilmu pengetahuan banyak yang sebelumnya beranggapan ilmu pengetahuan akan segera mengungguli agama. Ternyata tidak.

Alasannya, karena agama sudah mengakar dalam kehidupan manusia demikian lama, sedangkan ilmu pengetahuan umumnya hanya sebagai katalisator perubahan. Namun, agama sudah mulai mengakui bahwa ilmu pengetahuan bukanlah musuhnya. Bahkan sekarang ilmu pengetahuan dipakai agama untuk mendukung apa-apa yang menjadi keyakinannya. Begitu pula sebaliknya. Misalnya, terdapat bukti bahwa mereka yang berdoa untuk dirinya mungkin bisa membantu menjaga kesehatannya, walaupun barangkali alasannya psikosomatis. Tetapi mereka yang berdoa untuk orang lain yang sakit terbukti bisa juga membantu penyembuhan orang itu. Telah banyak catatan tentang penyembuhan karena keajaiban.

Bukti lain, menurut hasil penelitian di Kanada, mereka yang sering beribadah lebih rela memberi bantuan kepada masyarakat daripada yang tidak beribadah. Institut Riset Nasional untuk Perawatan Kesehatan di Maryland, Amerika, juga membuktikan tahanan yang banyak mengikuti pelajaran agama di lembaga pemasyarakatan jarang yang kemudian dipenjara lagi jika dibandingkan dengan mereka yang tidak mengikuti. Memang dalam hubungan agama dan ilmu pengetahuan, ada saja yang tergoda oleh kehebatan ilmu pengetahuan yang dianggap bisa menyelesaikan segala-galanya. Akan tetapi, dengan melihat gejala-gejala yang ada, agama akan selalu ada. Ia tidak akan menghilang dari kehidupan umat manusia.

Sumber_Media Indonesia http://www.mediaindonesia.com/berita.asp?id=152963

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s