Kurikulum Pendidikan yang Ekologis

Oleh Moh. Yamin
Rakyat Bengkulu Senin, 11-Februari-2008    
 
KERUSAKAN lingkungan akibat banjir sudah menjarah tanah pertiwi Indonesia. Di setiap lorong kota, mulai Sabang sampai Merauke, dipenuhi air hujan akibat tidak mampunya lautan, sungai, dan resapan air menampung luberan air hujan. Akhir 2007 hingga awal 2008, Jakarta, beberapa kota di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan pelbagai kota lain menjadi korban luberan air hujan tersebut.
 
Hal itu menimbulkan kerugian material dan immaterial yang tak terhitung jumlahnya, termasuk mengakibatkan para korban tewas lantaran tidak bisa menyelamatkan diri dari amukan badai banjir.

Secara material, jutaan rumah dan segala isinya terendam serta hanyut oleh derasnya luberan air hujan tersebut. Bangunan perkantoran, sekolah, dan bangunan-bangunan lainnya ludes. Bila dihitung dalam estimasi rupiah, jumlahnya melebihi miliaran rupiah.
Itu belum lagi berbicara soal nasib korban bencana banjir tersebut. Secara immaterial, rasa sedih, kalut, isak tangis kedinginan, dan seterusnya menghantam jiwa psikologis para korban banjir.

Dalam kebijakan pemerintah, baik pusat maupun daerah, kebijakan politik untuk cinta lingkungan, membuang sampah pada tempatnya, membangun rumah atau bangunan-bangunan lain menurut tata ruang kota dan wilayah sering dilanggar. Menurut ilmu planologi, pembangunan rumah dan bangunan selama ini hanya asal buat dan asal selesai. Tidak ada perencanaan matang apabila ingin mendirikan bangunan-bangunan di daerah yang rawan banjir, termasuk segala dampak buruknya.

Masyarakat dalam konteks demikian juga sama-sama tidak serius untuk peduli pada lingkungan. Sampah berserakan di mana-mana, khususnya bagi mereka yang tinggal dekat sungai dan aliran-aliran sungai kecil ataupun besar. Atau mereka yang hidup di perkotaan dengan resapan air yang sangat sedikit. Itu sebuah ironi.

Menuntaskan persoalan tersebut ibarat menegakkan benang basah. Melakukannya sangat susah dan rumit. Pemerintah tidak berkomitmen tinggi dan berkemauan politik untuk hidup bersih dari sampah. Masyarakat juga begitu. Pemerintah satu sisi dan masyarakat di sisi lain tidak mempunyai kesadaran tinggi agar lingkungannya bersih dan bebas dari sampah.

Mentalitas hidup untuk bersih sudah hilang seiring matinya kepedulian dan kecintaan mereka kepada lingkungan. Yang pasti, untuk mengakhiri persoalan demikian, dibutuhkan proses yang panjang dan lama.
Sangat mustahil bisa memberikan pendidikan cinta lingkungan kepada masyarakat dan pemerintah dengan berkampanye Mari cinta lingkungan bersih dan hidup bersih. Sebab, mereka merupakan bagian dari generasi lama yang tidak bisa diberikan pendidikan kesadaran sama sekali.

Bila dikritik, diberi masukan maupun saran, pasti marah dan begitu seterusnya. Karena itu, diperlukan satu terobosan baru dengan cara memotong generasi.
Potong generasi yang dimaksud adalah kita mengajarkan hidup bersih kepada para anak didik, mulai taman kanak-kanak (TK), sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP), sekolah menengah atas (SMA), hingga perguruan tinggi (PT).

Sebab, mereka masih bisa dididik. Pikirannya masih bisa dibentuk sesuai dengan kebutuhan lingkungan. Pola pikirnya lebih terbuka dan mau menerima perubahan dari luar. Mereka mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan.

Karena itu, mereka perlu mendapatkan pembinaan dan pendidikan cinta lingkungan secara masif serta holistik. Kurikulum pendidikan berbasis ekologi perlu dan sangat penting dihidupkan di setiap lembaga pendidikan. Adanya kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) yang diharapkan mampu dibuat sesuai dengan kebutuhan lokalitas daerah masing-masing adalah jalan menuju pembentukan karakter anak didik cinta lingkungan. Sebab, muatan KTSP diciptakan dan dilahirkan para pendidik di sekolah tersebut.

Di setiap materi pelajaran ataupun kuliah yang diajarkan, nilai-nilai kecintaan dan kepedulian kepada lingkungan harus diperkuat sedemikian rupa, baik teoretis maupun praksis. Pada beberapa materi pelajaran maupun kuliah yang memiliki hubungan erat dengan kehidupan lingkungan, perlu diberi waktu pembelajaran-pengajaran yang cukup selama itu tidak mengurangi konsentrasi muatan jurusan yang diinginkan di setiap lembaga pendidikan terkait.

Yang jelas, bila anak didik mulai TK hingga PT diberikan materi ajar cinta lingkungan, niscaya generasi-generasi masa depan akan berparadigma ekologis.

Dengan demikian, bencana-bencana banjir dengan segala anak-pinaknya bisa teratasi. Sebab, mereka sudah berkesadaran tinggi terhadap pentingnya menjaga lingkungan sehat dan bersih.

Apabila mereka kemudian menjadi birokrat, politisi, dan seterusnya, pikirannya akan berpikiran lingkungan. Kebijakan-kebijakan politiknya terkait dengan lingkungan akan berpihak pada lingkungan bersih, asri, dan indah sesuai dengan tata ruang kota dan wilayah. Bila menjadi masyarakat, mereka pun akan menyayangi lingkungan bersih dan sehat. Dengan begitu, daratan Indonesia steril dari malapetaka banjir.

* Penulis adalah pendidik, aktivis Freedom Institute for Social Reform (FISoR) Malang

One comment on “Kurikulum Pendidikan yang Ekologis

  1. merombak kurikulum yang berbasis ekologis memang perlu sekali di wacanakan kepada khalayak umum khususnya kepada kalangan pendidik. tetapi ini merupakan langkah yang amat sulit jika kita hanya mengandalkan pada perombakan kurikulum saja, khususnya kurikulum pelajran formal. pendidikan luar ruangan juga perlu, apalagi sekarang sedang maraknya sekolah yang berbasis alam (lingkugan) yang nota bene lebih bersifat fleksibel dan tanggap dan merespon akan wacana yang sedang berkembang didalam masyarakat.

    pendidikan formal yang selama ini terkesan kaku masih bersifat doktriner alias tidak membebaskan siswanya untuk menyelidiki sebab akibat terhadap pelajaran yang diterimanya. lain halnya dengan pendidikan yang berbasiskan lingkungan, pendidikan membebaskan siswa dalam menyerap pelajran.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s