Keamanan Dunia Berada pada Level Waspada

Pieter P Gero

Kompas, 14 Desember 2007

Dunia internasional tak ubahnya sebuah gunung api yang berada pada level waspada. Sejumlah perkembangan, terutama di paruh kedua tahun 2007 yang sebentar lagi berlalu, menunjukkan bahwa level waspada sesuatu yang cukup masuk akal. Harapan besar, level ini bisa turun menjadi awas atau siaga pada 2008. Harapan yang sepertinya cukup berat untuk bisa terpenuhi.

Kawasan Timur Tengah (Timteng) tetap saja tidak beranjak dari posisi sebelumnya. Israel dan Palestina belum juga bisa mendekati titik kesepahaman di antara mereka menyangkut isu Jerusalem, nasib pengungsi Palestina, dan wilayah sebuah negara Palestina. Bahkan kondisi yang membawa dunia ke level waspada, saat perpecahan menyangkut isu Israel dan Palestina kian kental.

Presiden Amerika Serikat George W Bush berupaya mendekatkan kesepahaman soal masalah krusial di Timteng ini dengan memberikan wadah untuk bisa berdialog, yakni dengan menggelar Konferensi Annapolis, Marryland, AS, November lalu. Indikasi positif yang masih dini, yakni kehadiran negara-negara Arab yang selama ini bersikap keras atas Israel, seperti Suriah.

Berdialog tetap lebih baik dalam mencapai kesepahaman. Namun, level waspada tak terbantahkan saat kelompok Hamas menguasai Jalur Gaza pada Juni lalu. Palestina pun terpecah dua, Kelompok Fatah yang ikut ke Annapolis dan Hamas yang menolak segala dialog dengan Israel. Perpecahan ini meluas ke berbagai negara dan kelompok di Timteng.

Perpecahan di Timteng ini bergerak ke level yang lebih luas. Iran dan Suriah, yang berada di belakang Hamas kini tak hanya mengancam Israel, tetapi juga Eropa. Dan situasi ini ikut memaksa Rusia “menggali kapak peperangan” terhadap Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) dengan AS sebagai lokomotifnya. Level waspada dunia kian jelas.

Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad dan perwira tinggi militer sepanjang tahun 2007 melontarkan retorika ancaman atas Israel dan target AS di Timteng. Adanya rencana AS dan Israel menghancurkan program nuklir Iran dijawab dengan kemungkinan sebuah aksi pembalasan yang mematikan.

Ancaman Iran cukup menakutkan karena diduga mengembangkan senjata nuklir. Teheran membantahnya. Sebuah laporan intelijen AS juga menyebutkan Iran sejak tahun 2003 tidak lagi mengembangkan senjata nuklir.

Namun, Gedung Putih tak percaya. Kehadiran rudal balistik Shahab-3 dengan jangkauan 1.350 kilometer memungkinkan Iran menyerang Israel, pangkalan AS di Teluk, dan Eropa Timur. Teheran pun mengembangkan Shahab-4 dan Shahab-5 yang menjangkau Eropa Barat. Dengan dilengkapi sebuah hulu nuklir, tak ada lagi yang tersisa.

Tampilnya Rusia

Rusia per 12 Desember resmi tinggalkan pakta Kekuatan Konvensional Eropa (CFE). Keputusan Presiden Vladimir Putin ini merupakan bagian lain dari level waspada yang kini diemban dunia saat ini. Suatu keputusan yang membuat dunia kembali lagi ke iklim Perang Dingin.

Kini Rusia bisa mengerahkan pasukannya di belahan Eropa tanpa perlu memberi tahu NATO. Sebelumnya, dunia lebih tenang karena saling terbuka di antara NATO dan Rusia. Namun, sikap kurang memahami yang diambil NATO, khususnya AS, menjadikan keamanan dunia masuk ke level waspada.

AS menyerbu Irak dan Afganistan. Rusia menilai AS arogan. Tampilnya Iran dengan rudal balistik membuat AS perlu memasang tameng pertahanan rudal di Republik Ceko dan Polandia. Katanya untuk menghadang rudal Iran. Tetapi bagi Rusia, hal itu jelas sudah menyalahi CFE modifikasi tahun 1999.

Rusia merasa perlu mengimbangi AS. Pertemuan puncak negara-negara Laut Kaspia, termasuk Rusia dan Iran, digelar Oktober 2007. Disepakati, serangan atas satu anggota negara-negara Laut Kaspia, berarti akan menghadapi semua anggotanya. Menyerang Iran berarti menghadapi Rusia.

Putin mengampanyekan kebijakan multikutub untuk mengimbangi AS. Pesawat patroli strategis dihidupkan lagi. Rusia juga mengembangkan bom nonnuklir terkuat. Bantuan senjata dan pesawat tempur ke negara-negara yang diembargo AS, termasuk ke Indonesia.

Dunia tetap masih terusik dengan situasi panas di Pakistan dan Myanmar. Demokrasi yang dipangkas dan beban kehidupan rakyat banyak yang terabaikan membuat Pakistan dan Myanmar bisa menjadi titik kecil yang merusak keamanan dunia.

Peningkatan kekuatan militer China yang luar biasa menambah kerisauan lain. Sebuah ancaman atas Taiwan yang masih diklaim sebagai wilayahnya. Terakhir, China dan Vietnam mulai memanas di Kepulauan Paracel dan Spratly, Laut China Selatan. Kepulauan yang juga diklaim Taiwan, Malaysia, Filipina, dan Brunei Darussalam.

Level waspada keamanan dunia juga tak lepas dari ancaman perubahan iklim. Badai yang lebih sering muncul, banjir, dan kekeringan merupakan awal dari pertikaian antaretnis, wilayah, dan bangsa. Tak heran, peraih Nobel Perdamaian 2007 diberikan kepada mereka yang mencoba mencegah perubahan iklim yang ekstrem.

 

By Akar Foundation Posted in Info

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s