Protokol Kyoto dan UNFCCC

Republika. Jumat, 30 Nopember 2007

Perhitungan sahih yang dilakukan para ahli telah membuktikan bahwa konsentrasi karbondioksida (CO2) di atmosfer mengalami peningkatan drastis sejak lebih dari dua abad silam. Berbagai studi kemudian menggambarkan bagaimana dampak selanjutnya yang harus dipikul umat manusia.

Tak bisa dipungkiri, tingginya konsentrasi karbon di atmosfer saat ini adalah hasil perbuatan negara-negara maju sejak Revolusi Industri. Mereka telah menggenjot ekspansi industri, pembakaran energi, dan pembukaan hutan di saat negara-negara berkembang belum lagi berwujud. Ekspansi ekonomi merekalah asal-muasal sebagian besar karbon yang kini mendiami atmosfer.

Secara garis besar, emisi karbon atau gas rumah kaca (GRK) berasal dari pembakaran bahan bakar fosil, pembukaan hutan dan lahan, dan pertanian. Pembakaran bahan bakar fosil batubara, minyak bumi, dan gas alam merupakan penyumbang terbesar, lebih dari 50 persen. Ini, antara lain, dilakukan oleh industri (16,8 persen dari total emisi karbon), pembangkit listrik (21,3 persen), dan transportasi (14 persen).

Pembukaan hutan, termasuk lahan gambut, juga tergolong penghasil karbon terbesar dengan menyumbang lebih dari 20 persen total emisi karbon. Hutan dan lahan gambut merupakan media pengikat karbon. Bila keduanya terusik, maka kandungan karbon di dalamnya akan lepas ke atmosfer. Gambut mengikat lebih banyak karbon dibandingkan hutan. Sebagai perbandingan, dengan luas yang sama, lahan gambut sedalam empat meter mengandung karbon 15 kali lipat dibandingkan hutan hujan tropis terbaik sekalipun.

Tak heran mengapa Indonesia tergolong penyumbang emisi karbon terbesar di dunia jika kebakaran lahan gambut turut dihitung. Adapun hutan tua mengikat karbon lebih sedikit ketimbang hutan muda. Penyumbang besar lainnya adalah sektor pertanian, mencapai 12,5 persen dari total emisi karbon.

Penggunaan air dan pupuk nitrogen yang berlebihan pada tanaman padi, misalnya, akan menghasilkan gas rumah kaca CH4 (metana) dan N2O (oksida nitrat). Di sektor peternakan, kotoran hewan mengeluarkan gas metan. Aktivitas pengolahan limbah menyumbang 3,4 persen dari total emisi karbon. Sedangkan rumah tangga, komersial, dan sumber-sumber lainnya turut menyumbang karbon sebesar 10 persen dari total emisi karbon.

Earth Summit atau KTT Rio
Menyadari bahaya yang sedang mengancam, pada 1992 PBB menggelar konferensi mengenai lingkungan dan pembangunan atau UNCED (United Nations Conference on Environment and Development) di Rio de Janeiro, Brasil.
Konferensi ini lebih dikenal dengan nama Earth Summit (KTT Bumi) atau KTT Rio.

Pertemuan yang diikuti seluruh negara anggota PBB ini menghasilkan sebuah perjanjian internasional mengenai lingkungan, atau disebut UNFCCC (United Nations Framework Convention on Climate Change). Perjanjian ini dimaksudkan untuk mengurangi emisi karbon-GRK, dan membuatnya stabil, sehingga pemanasan global bisa ditekan. UNFCCC tak mengatur pembatasan emisi karbon untuk setiap negara, dan tak berisi ketetapan-ketetapan yang memaksa. Karena itu, perjanjian ini sifatnya tak mengikat.

Namun, perjanjian ini mewajibkan diciptakannya sebuah updating yang berisikan pembatasan emisi karbon, dikenal dengan sebutan protokol. Pada 12 Juni 1992, sebanyak 154 negara menandatangani UNFCCC. Perjanjian ini mulai berlaku 21 Maret 1994 setelah diratifikasi oleh 50 negara.

Untuk merumuskan sebuah protokol, negara-negara penanda tangan UNFCCC melakukan pertemuan tiap tahun sejak 1995. Pertemuan ini disebut dengan COP (Conferences of the Parties). COP pertama berlangsung di Berlin, Jerman, pada 1995. Sebuah protokol akhirnya berhasil dirumuskan pada COP 3 yang berlangsung di Kyoto, Jepang, pada 1997. Inilah yang dinamakan Protokol Kyoto. Dalam perjalanannya, nama ini lebih dikenal dari pada UNFCCC itu sendiri.  arp

 

By Akar Foundation Posted in Info

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s