Kado Perubahan di HUT Bengkulu ke 39

Oleh: Syaiful Anwar. AB

Rakyat Bengkulu. Sabtu, 17-Nopember-2007

 

 

 

 

RASANYA masih terngiang dan segar di telinga, betapa gegap gempitanya slogan ”Bengkulu berubah” yang didengungkan pasangan anak muda yang bernama Agusrin dan Syamlan. Konon katanya seorang pengusaha sukses di perantauan dan seorang ustad yang diharapkan membawa perubahan di negeri dan bumi Bengkulu tercinta ini. Masih terasa janji-janji kampanye.


Seperti Bengkulu berubah, peningkatan industri rakyat, penerimaan CPNS bersih. Yang lebih spektakuler adalah ”kalau gagal membawa perubahan,” dalam waktu dua setengah tahun akan mundur dari jabatan gubernur dan wakil gubernur.

Rakyat menunggu kiprahmu anak muda. Rakyat menunggu perubahan konkret dari kerja selama dua setengah tahun. Kini rakyat mulaih menagih perubahan apa gerangan yang telah diberikan? Secara kasat mata baru melihat perubahan secara fisik. Seperti tugu kapal di Simpang Lima berubah menjadi ”patung kuda” simbol kencang berlari. Pantai panjang berubah wajah dengan menghabiskan cagar alam cemara pantai tanpa ada upaya penanaman kembali.

Marka jalan sepanjang Simpang Harapan sampai lapangan udara Fatmwati ditanami jarak pagar yang kerdil. Sesuai dengan janji jarak bonsai.
Selain itu, pelantikan para pejabat biasanya di kantor gubernur, tepatnya di gedung Pola Bappeda dan pada jam kerja berubah di gedung daerah dan selalu sore hari. Proyek multi years yang diakui belum banyak berjalan sesuai rencana.

Rakyat baru melihat hal-hal demikian yang berubah. Padahal rakyat menunggu perubahan-perubahan yang signifikan dari pasangan ini. Misalnya telah berdiri beberapa industri rakyat yang dijanjikan waktu kampanye. Murni dari pasangan ini. Ingat, waktu telah berjalan dua tahun.

Tinggal beberapa bulan lagi sampai pada janji dua setengah tahun mundur kalau gagal mewujudkan janji kampanye. Rakyat tidak mau tahu kendala apa yang terjadi. Yang penting industri rakyat ada berdiri selama kurun waktu dua tahun setengah ini.

Tadinya rakyat berbunga-bunga dengan jarak pagar. Kalau-kalau jarak ini sukses, sebagai pengganti minyak fosil. Tapi kenyataannya belum menunjukkan hasil yang menggembirakan. Jangankan berhasil, percontohan pun tidak ada wujud nyatanya.

Kemudian, haluan industri rakyat di tengah perjalanan berubah arah ke pariwisata. Padahal pariwisata ini tidak pernah disenggol-senggol pada waktu kampanye. Memang rakyat di tingkat pedesaan tidak tahu persis soal wisata. Mereka hanya tahu bagaimana bisa makan dan anak-anak mereka bisa sekolah, badan sehat.

Mereka belum terpikirkan untuk berwisata ria. Tapi kenyataannya haluan berubah ke arah pembangunan pariwisata yang luar biasa gencarnya. Sehingga APBD provinsi hampir tersedot ke sektor pariwisata ini. Padahal, fungsi pemerintah provinsi adalah jembatan bagi pemerintah kabupaten dan kota untuk berkembang.

Artinya, bila ada hal-hal yang kurang di kabupaten/kota maka pemerintah provinsi melakukan fungsi pembinaan daerah bawahannya. Tapi kenyataannya fungsi itu tidak berjalan dengan baik. Sehingga muncul pertanyaan sejumlah tokoh masyarakat kabupaten, apakah pembangunan diarahkan untuk kota saja? Padahal kabupaten itu adalah daerah pembinaan provinsi.

Mari kita mencoba melakukan evaluasi kinerja pemerintahan selama kurun waktu dua tahun terakhir. Evaluasi yang dapat dilakukan adalah dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat kualitatif, yang dapat kita jawab secara bersama.

Selama kurun waktu dua tahun terakhir berapa pertumbuhan kinerja keuangan daerah dalam bentuk APBD yang implementasinya adalah seperti Dana Alokasi Umum (DAU) dan Dana Alokasi Khusus (DAK) yang diterima oleh pemerintah provinsi dan kabupaten.

Pertanyaannya adalah adakah kenaikan signifikan dari dua tahun sebelum pasangan ini menjabat? Informasi yang dapat dihimpun dan dilihat dari total anggaran yang diterima dan dibelanjakan untuk keperluan rutin (gaji pegawai dan belanja kantor, perjalanan dinas) pemerintahan mencapai angka 86-87 persen dari total DAU yang diterima oleh pemerintah provinsi dan kabupaten kota.

Artinya, untuk belanja modal (pembangunan) hanya antara 13-14 persen saja dari DAU. Pertanyaan berikutnya, bisakah kita berubah dengan dana sisa 13-14 persen?

Bila hanya mengharapkan dana DAU dan DAK dari pusat yang notabenenya sangat ”rigit atau ketat” dalam penetapannya. Penetapan DAU berdasarkan dengan jumlah penduduk dan wilayah serta potensi ekonomi. Provinsi Bengkulu dengan penduduk kurang dari dua juta orang, maka pembagiannya tentu kecil.

Dengan wilayah yang 48 persen hutan lindung seberapa yang dapat dieksploitasi? Tentu pembagiannya juga kecil. Maka satu-satunya cara mendapat bagian besar adalah menambah penduduk dan mengembangkan potensi ekonomi rakyat.

Oleh karena itu, sentuhan peningkatan kegiatan ekonomi rakyat menjadi harapan besar untuk sumber-sumber pendapatan dawerah dan negara, agar pembangunan di masa yang akan datang menjadi kenyataan? Bagaimana kinerja pemerintahan pasangan ini dalam kurun waktu dua tahun dalam meningkatkan perekonomian masyarakat banyak?

Adakah perubahan?

Indikator perubahan kinerja adalah pendapatan masyarakat meningkat, lapangan kerja terbuka lebar, pengangguran menurun, haraan dan kualitas hidup meningkat (kesehatann membaik), anak usia sekolah sudah dapat bersekolah, angka dropout sekolah menurun.

Kemudian, berapa banyak sarana dan prasarana ekonomi yang telah dibangun? Misalnya berapa tambahan jalan-jalan ke sentra-sentra produksi rakyat, seberapa banyak sarana dan prasarana pasar telah disentuh dengan pembangunan? Seberapa lancar jaringan informasi dan transportasi (darat, laut dan udara). Jika kondisi belum berubah dari dua tahun sebelumnya, maka dapat dikatakan sukses pasangan ini tertunda.

Siapa memulai evaluasi secara kuantitatif? Tentu hal ini terbuka bagi masyarakat cerdik cendikiawan, para tokoh ulama dan para ilmuan yang ada di perguruan tinggi apakah itu perguruan tinggi negeri dan swasta, mari kita berkonstribusi untuk perubahan Provinsi Bengkulu. Pasangan ini suka atau tidak suka telah duduk di singgasana kursi gubernur dan wakil gubernur Bengkulu yang dipilih secara langsung oleh rakyat, sekarang tibalah saatnya rakyat memberikan penilaian dan menuntut janji-janji kampanye.

Untuk diingat oleh kita semua, terutama pasangan ini. Amat murka di sisi Allah orang yang mengatakan sesuatu (termasuk berjanji), sementara ia tidak melakukannya. Agar kita jangan dimurkai Allah maka, tepatilah kalau berjanji, jangan ingkar janji. Waktu berjalan terus, ingatlah Allah saja bersumpah ”demi waktu”. Oleh karena itu, umat manusia, terutama para pemimpin (yang mengaku dirinya pemimpin) konsekuen dari ucapan dimintai pertanggungjawaban di dunia oleh rakyatnya, dan sudah barang tentu di akhirat Allah yang meminta pertanggungjawaban atas kinerja kepemimpinan seseorang atau sekelompok orang.

Pasangan ini dapat dipastikan memahami ini, terutama wakil gubernurnya, yang nota benenya ustad dan sampai hari ini pun masih ”sebagai ustad” dan sering memberikan tausiah kepada umat, tapi ingat sekali lagi Allah paling tidak suka kepada orang yang mengatakan sesuatu ia tidak mengerjakannya.

Semoga Provinsi Bengkulu tercinta ini mendapat ridho Allah SWT. Jayalah provinsi tercinta dan selamat berulang tahun Provinsi Bengkulu. Semoga membawa kenangan yang indah, dan wahai para pemimpin Bengkulu ukirlah prestasi terbaiknya. Demi kemajuan bangsa ini, bangkitlah wahai Bengkulu, saatnya berubah. Amin.(**)

* Penulis adalah dosen UNIB dan mahasiswa Program Doktor Universitas Negeri Jakarta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s