Dana Adaptasi Harus Disepakati

Suara Pembaharuan, 26 November 2007

[JAKARTA] Kucuran dana adaptasi dari negara-negara maju bagi negara-negara berkembang harus direalisasikan. Sebab, dampak perubahan iklim yang terjadi sekarang ditimbulkan dari sejarah emisi karbon yang diproduksi negara-negara maju sejak Revolusi Industri.

Dalam Pasal 4 Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UN Framework Convention on Climate Change/UNFCCC) sudah disebutkan negara-negara maju wajib membantu negara-negara berkembang yang terkena dampak perubahan iklim. Bantuan tersebut salah satunya disalurkan dalam bentuk dana adaptasi.

“Dampak perubahan iklim sudah banyak disadari. Tetapi, kewajiban-kewajiban sebagaimana tertuang dalam UNFCCC, yakni salah satunya soal dana adaptasi, hingga kini belum sepenuhnya dijalankan,” ujar Rizaldi Boer, Kepala Biro Agro Klimatologi Institut Pertanian Bogor (IPB), dalam “Environmental Journalism Workshop 2007” yang diselenggarakan The Jakarta Post, akhir pekan lalu.

Dana adaptasi yang sudah disepakati sejauh ini baru sebesar dua persen dari Clean Development Mechanism (CDM). Padahal, besar transaksi CDM sekarang baru mencapai US$ 8 miliar. Artinya, dana adaptasi yang teralokasikan hanya sebesar US$ 167 juta.

Komitmen negara-negara maju untuk membantu negara-negara berkembang yang terkena dampak perubahan iklim juga baru tercatat sebatas di atas kertas. Pada penyelenggaraan 8th Session of the Conference of the Parties (COP 8) on UNFCCC di New Delhi, India, diharapkan dana adaptasi bisa dialokasikan sebesar US$ 1 miliar per tahun. Tetapi, komitmen tersebut tidak terealisasikan.

Rizaldi mengatakan, dana adaptasi diharapkan dapat disepakati pada penyelenggaraan COP ke-13 UNFCCC di Bali pada 3-14 Desember mendatang.

Imbauan serupa disampaikan Haneda Sri Mulyanto, staf Deputi Menteri Urusan Pengendalian Dampak Perubahan Iklim di Kementerian Lingkungan Hidup. Mengacu prinsip-prinsip Konvensi PBB tentang Perubahan Iklim, semua pihak memiliki tanggung jawab yang sama untuk mengatasi perubahan iklim.

Komitmen yang digariskan konvensi itu dilandasi semangat semua pihak mempunyai tanggung jawab untuk merespons masalah perubahan iklim, meskipun semua itu dilakukan sejalan dengan kemampuan dan kondisi ekonomi masing-masing. “Emisi yang ada di atmosfer sejarahnya berasal dari sejarah Revolusi Industri. Negara berkembang rentan terhadap dampak perubahan iklim. Karena itu, perlu dukungan dari negara-negara maju untuk mengatasi masalah tersebut,” ungkap Haneda.

Mengacu kesimpulan yang dicapai Working Group I Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) yang merespons data-data kenaikan gas rumah kaca, dukungan negara-negara maju sangat diperlukan untuk menentukan berapa persen emisi yang harus diturunkan. [E-9]

 

By Akar Foundation Posted in Info

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s