<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Aliansi Masyarakat Adat Rejang Tapus Pat Petulai &#187; Berita dari Kampung</title>
	<atom:link href="http://amarta.wordpress.com/category/berita-dari-kampung/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://amarta.wordpress.com</link>
	<description>Aliansi Masyarakat Adat Rejang Tapus Pat Petulai</description>
	<lastBuildDate>Fri, 13 Mar 2009 04:29:44 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='amarta.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/c88ab79eaab35227733b74a0dbcfd459?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Aliansi Masyarakat Adat Rejang Tapus Pat Petulai &#187; Berita dari Kampung</title>
		<link>http://amarta.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://amarta.wordpress.com/osd.xml" title="Aliansi Masyarakat Adat Rejang Tapus Pat Petulai" />
		<item>
		<title>Seni dan Budaya Rejang dan Persoalannya</title>
		<link>http://amarta.wordpress.com/2009/03/13/seni-dan-budaya-rejang-dan-persoalannya/</link>
		<comments>http://amarta.wordpress.com/2009/03/13/seni-dan-budaya-rejang-dan-persoalannya/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Mar 2009 04:29:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Akar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita dari Kampung]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://amarta.wordpress.com/?p=286</guid>
		<description><![CDATA[oleh Erwin S Basrin
Suku Rejang adalah salah satu suku tertua di pulau Sumatra selain suku Bangsa Melayu, argumen ini dikuatkan bahwa Suku Rejang ini telah memiliki tulisan dan bahasa sendiri, ada perdebatan-perdebatan panjang mengenai asal-usul Suku Rejang, selain sejarah turun temurun beberapa tulisan tentang rejang ini adalah tulisan John Marsden (Residen Inggris di Lais, tahun [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=amarta.wordpress.com&blog=2119919&post=286&subd=amarta&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>oleh Erwin S Basrin</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span>Suku Rejang</span><span> adalah salah satu suku tertua di pulau Sumatra selain suku Bangsa Melayu, argumen ini dikuatkan bahwa Suku Rejang ini telah memiliki tulisan dan bahasa sendiri, ada perdebatan-perdebatan panjang mengenai asal-usul Suku Rejang</span><span>, </span><span>selain sejarah turun temurun beberapa tulisan tentang rejang ini adalah tulisan John Marsden (Residen Inggris di Lais, tahun 1775-1779), dalam laporannya dia meceritakan tentang adanya empat petulai Rejang yaitu Joorcalang (Jurukalang), Beremanni (Bermani), Selopo (Selupu) dan Toobye (Tubai).<a name="_ftnref1" href="#_ftn1"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&quot;">[1]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span>Catatan-catatan lain tentang Kedudukan </span><span>4 Petulai tersebut </span><span>sebagai komunitas adat asli Rejang, dalam laporannya mengenai ‘adat-federatie in de Residentie’s Bengkoelen en Palembang Dr. JW. Van Royen menyebutkan bahwa kesatuan Rejang yang paling murni dimana marga-marga dapat dikatakan didiami hanya oleh orang-orang di satu Bang, harus diakui Rejang yang ada di wilayah Lebong.<a name="_ftnref2" href="#_ftn2"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&quot;">[2]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span>S</span><span>ystem</span><span> </span><span>Petulai dalam sejarah Suku Bangsa Rejang dan warga komunitasnya merupakan himpunan manusia <em>(indigenous community)</em> yang tunduk pada kesatuan Hukum yang dijalankan oleh penguasa yang timbul sendiri dari Masyarakat Hukum Adat</span><span>,<span> </span>kelembagaan </span><span>petulai adalah kesatuan kekeluargaan yang timbul dari system unilateral (kebiasaanya disusurgulurkan kepada satu pihak saja) dengan system garis keturunannya yang partrinial (dari pihak laki-laki) dan cara perkawinannya yang eksogami, sekalipun mereka berada di mana-mana.<a name="_ftnref3" href="#_ftn3"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&quot;">[3]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span>Sebagai <em>indigenous community</em> suku bangsa rejang tentunya memiliki beberapa kearifan local dalam mengurus diri (manusia, alam dan gaib) kemudian dikenal dengan istilah local <em>adat rian ca’o</em> atau adat <em>neak kutai nated. </em>Aplikasi system ini umumnya dalam system adat Rejang di aplikasikan dalam berbagai bentuk dengan nilai estetika yang tinggi, system demokrasi diaplikasikan dengan musyawarah mupakat oleh tetua adat yang kuat akan legitimasi komunitas ‘jurai’ yang dipimpinnya, dengan sumber-sumber daya alam system pengelolaannya lebih kental dengan system kepemilikan komunal di beberapa tahapannya dilakukan dengan menampilkan seni budaya yang magis, ‘kedurai’ adalah salah satu budaya untuk membuka Hutan, ‘Mundang Biniak’ acara seni budaya ketika menanam padi, dan ‘kedurai agung’ adalah pentas seni kolosal yang dipercayai <span> </span>mampu menangkat musibah bagi komunitas tertentu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span>Jika dilihat lebih jauh aplikasi system seni dan budaya ini sangat kuat akan nilai-nilai yang tentunya akan bermanfaat baik bagi keberlanjutan komunitas Rejang secara umum, baik system kelembagaan komunal maupun keberlanjutan sumber-sumber daya alam yang ada dalam lingkup komunitas Rejang yang sangat memiliki hubungan dengan masing-masing petulai.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span>UU No 5 Tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa tidak hanya berdampak pada system dan legitimasi hokum atas kelembagaan adat di Rejang tetapi di saat yang sama mengenalisir aplikasi seni dan budaya, mendistorsi definisi adat, kemudian secara berlahan-lahan sistem social dengan kepemilikan komunal mulai berganti dengan system individualism yang sempit dan mengedepankan akumulasi capital yang exploitative baik terhadap sumber-sumber daya alam maupun terhadap system social dalam bentuk seni budaya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span>Persoalan ini kemudian lambat laun akan berdampak pengahancuran lebih jauh terhadap kelembagaan, seni dan budaya masarakat Rejang sehingga hal yang paling mungkin untuk dilakukan adalah dengan mendokumentasikan kembali system-system seni dan budaya tersebut, sehingga nilai-nilai yang terkandung didalamnya akan menumbuhkan apresiasi tidak hanya bagi komunitas Rejang tetapi apresiasi masyarakat lebih luas terhadap nilai-nilai yang terkandunbg didalamnya yang tentunya lebih mampu mengelola dirinya secara baik dan berkelanjutan.</span></p>
<div><!--[if !supportFootnotes]--></p>
<hr size="1" /><!--[endif]--></p>
<div id="ftn1">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn1" href="#_ftnref1"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&quot;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&quot;color:black;">[1]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-family:&quot;"> W. Marsden, The History of Sumatera, London MDCCLXXXIII, hal 178</span></p>
</div>
<div id="ftn2">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn2" href="#_ftnref2"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&quot;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&quot;color:black;">[2]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-family:&quot;"> Dr. JW. Van Royen, adat-federatie in de Residentie’s Bengkoelen en Palembang Bab de Redjang. Hal 18</span></p>
</div>
<div id="ftn3">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn3" href="#_ftnref3"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&quot;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&quot;color:black;">[3]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-family:&quot;"> Prof. DR. H. Abdullah Siddik dalam Hukum Adat Rejang</span></p>
</div>
</div>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/amarta.wordpress.com/286/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/amarta.wordpress.com/286/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/amarta.wordpress.com/286/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/amarta.wordpress.com/286/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/amarta.wordpress.com/286/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/amarta.wordpress.com/286/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/amarta.wordpress.com/286/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/amarta.wordpress.com/286/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/amarta.wordpress.com/286/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/amarta.wordpress.com/286/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=amarta.wordpress.com&blog=2119919&post=286&subd=amarta&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://amarta.wordpress.com/2009/03/13/seni-dan-budaya-rejang-dan-persoalannya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c4905f7da5efedfba7c3f6a4ed33f30e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">akarfoundation</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bengkulu Dalam Bahasa dan Perbandingan</title>
		<link>http://amarta.wordpress.com/2008/06/02/bengkulu-dalam-bahasa-dan-perbandingan/</link>
		<comments>http://amarta.wordpress.com/2008/06/02/bengkulu-dalam-bahasa-dan-perbandingan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Jun 2008 03:21:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Akar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita dari Kampung]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://amarta.wordpress.com/?p=263</guid>
		<description><![CDATA[Penulis Buku dan Insan Pers, Jakarta Timur
http://metrobengkulu.com/index.php?option=com_content&#38;task=view&#38;id=64&#38;Itemid=29 
Bahasa Bengkulu adalah kesatuan bahasa yang ada di Provinsi Bengkulu, oleh  karena  itu, tidak satupun suku yang berhak mengatakan, bahwa bahasanya adalah bahasa Bengkulu yang paling benar.
Bahasa adalah alat untuk berkomunikasi antara makhluk satu dengan lainnya. Bahasa akan selalu berkembang tergantung pada trendy bahasa yang digunakan&#8211;Bahasa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=amarta.wordpress.com&blog=2119919&post=263&subd=amarta&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="EN-ID">Penulis Buku dan Insan Pers, Jakarta Timur</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-ID"><a href="http://metrobengkulu.com/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=64&amp;Itemid=29">http://metrobengkulu.com/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=64&amp;Itemid=29</a> </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;">Bahasa Bengkulu adalah kesatuan bahasa yang ada di Provinsi Bengkulu, oleh  karena  itu, tidak satupun suku yang berhak mengatakan, bahwa bahasanya adalah bahasa Bengkulu yang paling benar.</p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-ID">Bahasa adalah alat untuk berkomunikasi antara makhluk satu dengan lainnya. Bahasa akan selalu berkembang tergantung pada trendy bahasa yang digunakan&#8211;Bahasa mayoritas yang digunakan atau populer, dapat dikarenakan pengaruh oleh banyak penguasa atau dapat pula dikarenakan pengaruh bahasa komunikasi perdagangan yang banyak menggunakan transaksi dalam bahasa tersebut.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-ID"><span id="more-263"></span><br />
</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;">Untuk itu perlu ditentukan terlebih dahulu, apa yang kita maksudkan dengan kata “Malayu” tersebut. Sebagai gambaran umum, rumpunan bahasa yang terdapat dan digunakan di Provinsi Bengkulu antara lain sebagai berikut :</p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;text-indent:-18.7pt;margin:0 0 .0001pt 36.7pt;"><!--[if !supportLists]--><span lang="SV"><span>1.<span> </span></span></span><!--[endif]--><span lang="SV">Bahasa Ra-Hyang atau Re-Hyang (Rejang).</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;text-indent:-18.7pt;margin:0 0 .0001pt 36.7pt;"><!--[if !supportLists]--><span lang="FI"><span>2.<span> </span></span></span><!--[endif]--><span lang="FI">Bahasa Enggano (Pulau Perempuan). </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;text-indent:-18.7pt;margin:0 0 .0001pt 36.7pt;"><!--[if !supportLists]--><span lang="FI"><span>3.<span> </span></span></span><!--[endif]--><span lang="FI">Bahasa Lampung.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;text-indent:-18.7pt;margin:0 0 .0001pt 36.7pt;"><!--[if !supportLists]--><span lang="FI"><span>4.<span> </span></span></span><!--[endif]--><span lang="FI">Bahasa Malayu Ippoh (Muko-muko, Lubuk Pinang, Bantal, Lima Koto, Ketahun, Pasar Bengkulu, dsb).</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;text-indent:-18.7pt;margin:0 0 .0001pt 36.7pt;"><!--[if !supportLists]--><span lang="FI"><span>5.<span> </span></span></span><!--[endif]--><span lang="FI">Bahasa Malayu Lembak (Tanjung Agung, Dusun Besar, Pada Dewa, dsb).</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;text-indent:-18.7pt;margin:0 0 .0001pt 36.7pt;"><!--[if !supportLists]--><span lang="FI"><span>6.<span> </span></span></span><!--[endif]--><span lang="FI">Bahasa Malayu Kotamadya Bengkulu.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;text-indent:-18.7pt;margin:0 0 .0001pt 36.7pt;"><!--[if !supportLists]--><span lang="FI"><span>7.<span> </span></span></span><!--[endif]--><span lang="FI">Bahasa Malayu Serawai dan Pasemah (Pha-semah) yang penyebarannya meliputi Manna, Tais, Kepalak Bengkerung, Tanjung Sakti, Padang Guci, Kedurang, Kaur, dsb.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;text-indent:-18.7pt;margin:0 0 .0001pt 36.7pt;"><!--[if !supportLists]--><span lang="FI"><span>8.<span> </span></span></span><!--[endif]--><span lang="FI">Bahasa Malayu Bintuhan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI">Tiga komunitas bahasa, yaitu Rejang, Enggano dan Lampung tidaklah termasuk dalam kelompok rumpunan Bahasa Malayu yang dikemukakan sebelumnya. Tiga etnik ini memiliki kelompok rumpunan bahasa tersendiri, dan etnik inilah yang merupakan <strong>penduduk asli negeri Bengkulu</strong>. Sedangkan bahasa Malayu datang dan berkembang sebagai bahasa ibu dikemudian. Karena itu, sangat tidak bijak kalau etnik Rejang, Enggano dan Lampung, seakan tersingkir dari catatan sejarah Bengkulu, sementara Malayu yang merupakan etnik dan bahasa pendatang baru, tampil sebagai primadona etnik.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;">Ada petata petitih lama (Asli Bengkulu)  yang ditulis dalam naskah kuno huruf Arab, bahasa Bengkulu pada  tahun 1553 M, nama penulisnya tidak disebutkan/ditemukan atau rusak,  hilang. Karena sewaktu ditemukan naskah tersebut ini telah lusuh, lapuk dan sebagian telah rusak ditelan usia. Hanya tahun penulisan yang masih nampak. Naskah ini ditemukan di Provinsi Banten Tahun 1994, berbunyi dalam alih bahasa lebih kurang sebagai berikut :</p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:center;margin:0 0 .0001pt;" align="center"><span lang="SV">Endak Möran pa-ï Lopak,</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:center;margin:0 0 .0001pt;" align="center"><span lang="SV">Hendak tidü pa-ï kebiduk,</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:center;margin:0 0 .0001pt;" align="center"><span lang="SV">Dihulu tempek apak (bapak),</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:center;margin:0 0 .0001pt;" align="center"><span lang="SV">Dimuarë tempek induk,</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:center;margin:0 0 .0001pt;" align="center"><span lang="FI">Disitu melepekan niat.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:center;margin:0 0 .0001pt;" align="center"><span lang="FI">(Naskah kuno ini nampaknya merupakan himpunan nyanyian anak laut).</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;"><span lang="FI">Kata-kata yang terkandung didalamnya memiliki filosofis yang tinggi bermakna: <em>Kalau hendak mencari kehidupan yang lebih baik pergilah kekota. Kalau hendak istirahat, bersantai dan menenangkan pikiran kembalilah berkumpul di tanah kelahiran, dan sedekahkanlah sebagian harta yang kamu peroleh di negeri orang,  pada negeri  ibu tercinta  Bengkulu</em>.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;">
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;"><span lang="FI">Ada empat kata-kata Bengkulu yang kita peroleh dari petata petitih ini, yaitu kata  Möran, pa-ï, Lopak, dan tidü sedangkan kata lainnya sepeti kata biduk, hulu, muarë (o) diambil dari bahasa Malayu. Mungkin masih lebih banyak lagi kata-kata Bengkulu, yang penulis sendiri belum ketahui.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;">
<p style="margin:0 0 .0001pt;"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:.5in;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;"><span lang="FI">Berdasarkan penelitian etnolinguistik penulis dalam perbandingan bahasa asli Kotamadya Bengkulu: Bahasa Malayu Bengkulu memiliki keunikan tersendiri. Banyaknya penggunaan kata-kata yang berakhiran  ö, ë, ï,  bukan disebabkan oleh pengaruh bahasa Jawa (Jawa Tengah dan Jawa Timur), dan tidak pula karena  dipengaruhi bahasa Eropa, Inggris dan Belanda. Tetapi, hal ini dipengaruhi bahasa Palung, Khmer, Campa dan Khasi rumpunan bahasa Mon (Hyunan Cina) Robert von Heine Geldern, seorang sarjana ilmu purbakala berkebangsaan Austria yang mengadakan penelitian tentang “Tanah Asal Bangsa Austronesier” mengatakan, bahwa nenek moyang bangsa Austronesier selama-lamanya tinggal di daratan Asia Tenggara. Mereka ini mula-mula berasal dari daratan Cina  kira-kira 2000 tahun sebelum Masehi (sM). Kebudayaan beliung batu telah dikembangkan di Cina kira-kira pada 2000 tahun sebelum Masehi. Bangsa yang memiliki kebudayaan ini bergerak ke Asia Tenggara sebelum bangsa Aria menduduki Punjabi di India Utara, dan beliung batu persegi panjang ini banyak kita temukan di Hyunan dan Kansu.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;">
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;"><span lang="FI">John Crawfurd pada tahun 1848 dalam bukunya “On the Malayan and Polynesian Languages and Races”, meneliti kata-kata yang termuat dalam berbagai kamus mengenai bahasa-bahasa di Austronesia. Dia mencoba membandingkan antara satu dengan yang lainnya. Menurut J.Crawfurd dari 8.000 kata Malagasi terdapat 140 kata yang dapat dipulangkan pada kata Jawa dan Malayu.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;">
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;"><span lang="SV">Demikian juga dari 4.560 kata Selandia Baru terdapat 103 kata yang serupa dengan kata Jawa dan Malayu, dan dari 3.000 kata Marquesas terdapat 70 kata yang sama dengan kata Jawa dan Malayu. Sementara dari 9.000 kata Tagalog hanya terdapat 300 kata yang dapat dipulangkan kedalam kata Jawa dan Malayu. Sehingga J.Crawfurd mengambil suatu kesimpulan bahwa bahasa-bahasa itu tidak menunjukkan banyak kesamaan, oleh karena itu, tidak masuk dalam satu rumpun bahasa.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;">
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;"><span lang="SV">Koentjaraningrat memberikan komentar dalam bukunya Beberapa Metode Antropologi; Toh Crawfurd tak dapat disalahkan katanya, karena dalam waktu itu beliau tak dapat tahu bahwa persamaan kata-kata yang termasuk basic vocabulary dalam dua bahasa, cukup untuk membuktikan kekeluargaannya. Dari lima bahasa masing-masing yakni bahasa Madura, Lampung, Bali, Bugis, Kayan, dan Kisa J Crawfurd masing-masing mengambil 1.000 kata.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;">
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;"><span lang="SV">Dari 1.000 kata Madura kedapatan 675 kata Melayu, yang 325 asalnya dari bahasa lain: 1.000 kata Lampung kedapatan 455 kata Melayu, 545 dari bahasa lain: dari 1.000 kata Bali kedapatan 470 kata Melayu, yang 530 dari bahasa lain, dari 1.000 kata Bugis kedapatan 326 kata Melayu, yang 674 dari bahas lain: dari 1.000 kata Kisa kedapatan 114 kata Melayu, yang 944 dari bahasa lain. Dari penyelidikan kata ini yang cocok dengan bahasa Melayu kira-kira 60 persen saja.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="line-height:150%;margin:0 0 .0001pt;"><strong><span lang="SV"> </span></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="line-height:150%;margin:0 0 .0001pt;">
<p class="MsoBodyText" style="line-height:150%;margin:0 0 .0001pt;"><strong><span lang="SV">Perbandingan Bahasa.</span></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="line-height:150%;margin:0 0 .0001pt;">
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;"><span lang="SV">Sebagai perbandingan untuk melengkapi perbendaharaan bahasa dalam perbandingan bahasa di Bengkulu, penulis mencoba menggunakan berbagai sumber dan  perbendaharaan bahasa antara lain sebagai berikut : </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;"><span lang="SV">Bahasa ini oleh Dr Hamy disebut dengan  Malayu kontinental sebagai contoh adalah kata  Apoi, Api, Ayar, Air,  Ulun, Aku . Dalam hal ini penulis (Hakim Benardie Sabrie) tidak menyebut dengan kata bahasa Malayu kontinental, tetapi menggunakan Pha-mnala-yë  atau  Pha-mnalä-yu, karena bahasa ini meliputi bahasa Asia, Asia Tenggara, Nusantara dan Malayu kontinental itu sendiri.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;">
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;"><span lang="SV">Dalam kata Bahnar yang juga serumpun dengan bahasa Campa dan Khmer terdapat kata-kata  Bia, Buaya, Hmoit, Semut dan Kit, Katak, Hyang, Dewa. Kata Khmer Bong, Abang, Meas, Mas,  Ne, ini, Nan, Sana, Nu, Nun. Namun dalam kata Khmer tidak terdapat kata tanya “Mana”. Kata ini kemungkinan diambil dari kata ‘mo’ kata tanya bahasa Palung, dalam bahasa ini kata tanya untuk tempat berbunyi ‘ha-mo’. Kata ini dapat pula dibandingkan dengan bahasa Krui (Kroi) yang dulu pernah juga menjadi bahasa ibu di Kotamadya Bengkulu.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;"><span lang="SV">Dalam bahasa Shan kata ‘Tai’ berarti mati, kata ini diadopsi kedalam bahasa Campa sehingga berubah menjadi  kata matai.  Akar kata ‘Tai’ mendapat awalan dalam bahasa Campa ‘Ma’ sehingga mucullah kata matai. Kata ini masih kita dengar dalam bahasa Malayu Kepulauan Riau, Bangka, Bajo, Dayak Kenya dan Katingan. Pada suku Dayak Ngaju kata ini menjadi ‘pampatai’. Suku Bantik menyebutnya ‘natei’, dan dalam bahasa Mandura kata ini menjadi ‘matek’.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;">
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;"><span lang="SV">Kata ini tersebar dalam cabang-cabang bahasa Polinesia, misalnya dalam bahasa Maori menyebut dengan kata ‘mate’, juga pada bahasa Samoa, Tahiti , Hawai,  Tonga, Marquesas, Mangarewa dan Paumota.   Dalam bahasa Aniwa kata ini menjadi ‘komate’. Kata hidup juga berasal dari bahasa Shan Cian Selatan. Kata ini masuk kedalam bahasa Ahom berbentuk kata ‘Dip’  dan dalam bahasa Campa menjadi ‘hudip’, dan dalam bahasa Jarai  ‘hedip’. Dalam bahasa-bahasa daerah di Indonesia misalnya dalam bahasa Jawa, kata ini berbunyi ‘Urip’. Bahasa Lampung  ‘uriëk’, Bayan  ‘Udip’, Mentawai  ‘Muri’, Dayak Kenya  ‘Mudip’ dan dalam bahasa Penyabung menjadi kata ‘Murip’.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;">
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;"><span lang="FI">Dalam bahasa Khmer ditemukan kata ‘Nyi’  berarti jenis perempuan. </span><span lang="SV">Kata ini juga terdapat dalam bahasa Sunda di Jawa Barat yaitu kata ‘Nyi’ atau ‘Nyai’. Sedangkan dari bahasa Campa didapati kata untuk sebutan laki-laki dengan kata ‘Lakei’, dan perempuan  ‘Kumei’. Sedangkan kata ‘Jantan’ berbunyi ‘Tanov’.  Kata Jantan dan betina disebut  ‘Binai’. Kata ‘Binai’ ini dalam bahasa Bengkulu adalah isteri (Bini). Kata ‘kumei’ itu sebenarnya berasal dari bahasa Khasi, dan dalam bahasa Jarai laki-laki  ‘Rekei’.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;">
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;"><span lang="SV">Untuk menyebutkan jenis kelamin bahasa Indonesia menyebutnya dengan kata betina,  atau dalam bahasa Indonesianya perempuan. Dalam bahasa Jawa menggunakan kata ‘bi’ artinya perempuan, yang diambil dari bahasa Mon (Hyunan Cina) yaitu kata ‘be’ beartinya perempuan. Kata ‘be’ atau ‘bi’ dalam bahasa Bengkulu artinya ibu atau bibi. Banyak sekali bahasa Mon yang masuk kedalam kata-kata bahasa Campa, Khmer, Jarai, Khasi, dan bahasa Palung di Birma Utara, sampai ke bahasa-bahasa wilayah Indonesia.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;">
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;"><span lang="SV">Slametmuljana berpendapat bahwa, kata perempuan dalam bahasa Indonesia itu berasal dari bahasa  Khmer yaitu prapon dan bertalian dengan kata ‘wa repon’ bahasa Birma. Namun menurut penulis,  kata perempuan itu berasal dari bahasa asli Nusantara yaitu Peram = Simpan, dan Puan berarti susu. Dengan demikian kata perempuan bermakna penyimpan air susu.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;">
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;"><span lang="SV">Dalam bahasa Sansekerta ditemukan kata  ‘Stri’. Dalam bahasa Jawa kata itu menjadi ‘Estri’ artinya perempuan. Kata lânâ dalam bahasa Nahali rumpunan bahasa Munda  India Selatan  berubah menjadi lanang dalam bahasa Jawa. Kata ini juga ditemukan dalam bahasa Bengkulu, yaitu lanang, melanang. </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;"><span lang="SV">Dalam bahasa Jawa baru perempuan disebut dengan kata wadon, yang diambul dari bahasa Sansekerta vadhu. Sekarang orang menggunakan kata wanita dan priya (Laki-laki) yang diambil langsung dari bahasa Sansekerta, kendati kata itu tidak ditujukan untuk jenis kelamin.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;">
<p style="margin:0 0 .0001pt;"><span lang="SV"> </span></p>
<p style="margin:0 0 .0001pt;"><span lang="SV">Kata Sansekerta lainya yang diambil kedalam bahasa Malayu adalah Cri artinya indah, gemilang atau berarti yang mulia . Kata wanita (Vanita) dalam bahasa  Sansekerta arti yang sebenarnya adalah yang diharapkan, yang dicintai,  isteri atau perempuan. </span><span lang="FI">Kata Campa ‘Merai’ menjadi mari.  Padai menjadi padi. Takai ‘kaki’, dalam bahasa Bengkulu kita temukan kata tungkai dan kata tukük = kaki.</span></p>
<p style="margin:0 0 .0001pt;">
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;"><span lang="FI">Dari bahasa Santali yang merupakan cabang bahasa Munda India Selatan, kita dapat bentuk kata ‘Dal’ yang artinya memukul. Daldal: memukuli. Dadal: memukul keras. Kata-kata ini dapat juga kita temukan dalam istilah kesenian Tabot. ‘Döl’= memukul, ‘Daldöl’ = memukuli, dan ‘Dadöl’ = memukul keras. Dari bahasa Criviyaya ditemukan kata ganti orang kedua, yaitu ‘Mamu’ = orang yang dihormati. </span><span lang="SV">Kata ini ditemukan dalam lingkungan istilah keluarga Tabot di Bengkulu.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;">
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;"><span lang="SV">Dalam pengupasan bahasa asli daerah ini, tidaklah adil kalau tidak mengupas sepintas tentang bahasa Criviyaya (Sriwiyaya), karena provinsi ini merupakan salah satu tetangga Provinsi Bengkulu. Di dalam piagam Kota Kapur Criviyaya ditemukan kata ‘in’ yang  merupakan kata sisipan, sebagai indikator bentuk pasif kata vinunu  bearti  bunuh. Dalam baris selanjutnya ditemui kata  niwunuh = dibunuh. Dalam bahasa Criviyaya juga ditemukan kata ngelarku = ku-gelari. Kata niwunuh atau wunuh dan ngelar tersebut, juga ditemukan dalam bahasa Serang Banten secara utuh, yaitu kata wunuh (Bunuh), dan kata ngelar = membentang.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;"><span lang="SV">Dr. H. Kern  membuat suatu daftar kata-kata Austronesia yang telah dibandingkan dengan bahasa-bahasa lainnya. </span><span lang="FI">Ternyata ditemukan 30 kata yang sama antara lain sebagai berikut  :</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 0 .0001pt .5in;"><span lang="FI">1.</span><span style="font-size:7pt;" lang="FI"> </span><span lang="FI">Tebu</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 0 .0001pt .5in;"><span lang="FI">2.</span><span style="font-size:7pt;" lang="FI"> </span><span lang="SV">Nyiur</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 0 .0001pt .5in;"><span lang="SV">3.</span><span style="font-size:7pt;" lang="SV"> </span><span lang="SV">Buluh</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 0 .0001pt .5in;"><span lang="SV">4.</span><span style="font-size:7pt;" lang="SV"> </span><span lang="SV">Bambu (Awi)</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 0 .0001pt .5in;"><span lang="SV">5.</span><span style="font-size:7pt;" lang="SV"> </span><span lang="SV">Mentimun</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 0 .0001pt .5in;"><span lang="SV">6.</span><span style="font-size:7pt;" lang="SV"> </span><span lang="FI">Jelatang</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 0 .0001pt .5in;"><span lang="FI">7.</span><span style="font-size:7pt;" lang="FI"> </span><span lang="FI">Tuba</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 0 .0001pt .5in;"><span lang="FI">8.</span><span style="font-size:7pt;" lang="FI"> </span><span lang="FI">Talas</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 0 .0001pt .5in;"><span lang="FI">9.</span><span style="font-size:7pt;" lang="FI"> </span><span lang="FI">Pisang (Punti)</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 0 .0001pt .5in;"><span lang="FI">10.</span><span style="font-size:7pt;" lang="FI"> </span><span lang="FI">Pandan</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 0 .0001pt .5in;"><span lang="FI">11.</span><span style="font-size:7pt;" lang="FI"> </span><span lang="FI">Ubi</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 0 .0001pt .5in;"><span lang="FI">12.</span><span style="font-size:7pt;" lang="FI"> </span><span lang="FI">Padi</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 0 .0001pt .5in;"><span lang="FI">13.</span><span style="font-size:7pt;" lang="FI"> </span><span lang="FI">Ikan Yu</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 0 .0001pt .5in;"><span lang="FI">14.</span><span style="font-size:7pt;" lang="FI"> </span><span lang="FI">Gurita</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 0 .0001pt .5in;"><span lang="FI">15.</span><span style="font-size:7pt;" lang="FI"> </span><span lang="FI">Udang</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 0 .0001pt .5in;"><span lang="FI">16.</span><span style="font-size:7pt;" lang="FI"> </span><span lang="FI">Ikan Pari</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 0 .0001pt .5in;"><span lang="FI">17.</span><span style="font-size:7pt;" lang="FI"> </span><span lang="FI">Penyu</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 0 .0001pt .5in;"><span lang="FI">18.</span><span style="font-size:7pt;" lang="FI"> </span><span lang="FI">Buaya</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 0 .0001pt .5in;"><span lang="FI">19.</span><span style="font-size:7pt;" lang="FI"> </span><span lang="FI">Tuna</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 0 .0001pt .5in;"><span lang="FI">20.</span><span style="font-size:7pt;" lang="FI"> </span><span lang="FI">Nyamuk</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 0 .0001pt .5in;"><span lang="FI">21.</span><span style="font-size:7pt;" lang="FI"> </span><span lang="FI">Lalat</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 0 .0001pt .5in;"><span lang="FI">22.</span><span style="font-size:7pt;" lang="FI"> </span><span lang="FI">Babi</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 0 .0001pt .5in;"><span lang="FI">23.</span><span style="font-size:7pt;" lang="FI"> </span><span lang="FI">Asu  (Anjing)</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 0 .0001pt .5in;"><span lang="FI">24.</span><span style="font-size:7pt;" lang="FI"> </span><span lang="FI">Kutu</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 0 .0001pt .5in;"><span lang="FI">25.</span><span style="font-size:7pt;" lang="FI"> </span><span lang="FI">Walawa</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 0 .0001pt .5in;"><span lang="FI">26.</span><span style="font-size:7pt;" lang="FI"> </span><span lang="FI">Lisa</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 0 .0001pt .5in;"><span lang="SV">27.</span><span style="font-size:7pt;" lang="SV"> </span><span lang="SV">Laba-laba</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 0 .0001pt .5in;"><span lang="SV">28.</span><span style="font-size:7pt;" lang="SV"> </span><span lang="SV">Langau</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 0 .0001pt .5in;"><span lang="SV">29.</span><span style="font-size:7pt;" lang="SV"> </span><span lang="SV">Besi</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 0 .0001pt .5in;"><span lang="SV">30.</span><span style="font-size:7pt;" lang="SV"> </span><span lang="SV">Wangkang.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;">
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;"><span lang="FI">Dari bahasa Malayu (Indonesia) dapat kita temukan kata Selatan  yang berarti: 1. Laut sempit. 2. Petunjuk lawan dari Utara, tetapi tidak  terdapat dalam bahasa Campa. Masih banyak kata-kata yang belum diketahui asalnya waktu itu, misalnya saja adalah kata  aku, hidup dan mati. Namun ternyata kata ‘Aku’, ‘Mau’  berasal dari bahasa Shan (Cina Selatan) yaitu kata ‘Kau’. Kata ini juga dipakai dalam bahasa Assam, Ahom, Khamti, Nora dan Aitonia. Kata bahasa Malayu ‘Engkau’ diambil dari bahasa Mon (Hyunan Cina) yaitu hekau = engkau. </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;">
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;"><span lang="FI">Kata ‘Ini’ berasal dari bahasa  Mundari India Selatan, kata ‘Itu” berasal dari kata  Khasi yaitu kata ‘Tu’,  mendapat imbuhan ‘i’  setelah kata ini diadopsi kedalam bahasa Mon dan Palung, bahasa Palung itai. Dalam bahasa Palung kita ketahui ada kata petunjuk sebagai berikut  i-ö dan i-tay. Kata ini berubah menjadi ‘ieu’ dan ‘eta’ dalam bahasa Sunda Jawa Barat.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;">
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;"><span lang="SV">Kata petunjuk ini tidak digunakan dalam bahasa Palung dan Khmer.  Dalam bahasa Mon, Khmer, dan Khasi menggunakan kata petunjuk ‘Ne’, dalam bahasa Ambon  ‘Ine’. Kata petunjuk dalam bahasa Mundari ana dalam bahasa daerah di Indonesia berubah menjadi kata ‘Kana’ (Serang Banten), Kono (Jawa Tengah dan Timur), Sana dalam bahasa Malayu, ‘Disan’ dalam bahasa Lampung atau Batak Toba, dan ‘Disinan’ dalam bahasa Mingangkabau. Untuk  kata petunjuk ‘Ani’ berubah menjadi disini. Dengan demikian ada tiga kata petunjuk di Indonesia, yaitu sini, situ dan sana.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;">
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;"><span lang="FI">Dalam bahasa Campa, kata petunjuk keterangan tempat mulai dengan kata ‘Ta’ atau ‘Pa’, misal ;  pani, tani, sini dan panan, tanan, sana, situ. </span><span lang="SV">Kata ‘ka’ itu mendapatkan kata penghubung, sehingga berbunyi sebagai berikut .</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:center;margin:0 0 .0001pt;" align="center"><span lang="SV">Kana  (dari kata petunjuk Mundari ana)</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:center;margin:0 0 .0001pt;" align="center"><span lang="SV">Kėnė  (dari kata petunjuk Khmer ne)</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:center;margin:0 0 .0001pt;" align="center"><span lang="SV">Kono  (dari kata petunjuk Khmer no)</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;"><span lang="SV">Dalam rumpunan bahasa Shan dikenal kata ‘tu’, badan (Inggris : body), kata tu atau to kita kenal kembali dalam kata Tuan, tun dan dalam bahasa Sriwiyaya, Lampung, Banten dan Jawa kita kenal dengan kata ratu = raja,  kata ini menunjukkan kata hormat. Untuk pengertian tubuh bahasa-bahasa di Indonesia menggunakan kata tubuh bentuk metatesis yaitu butu, disamping kata tubuh juga digunakan kata batang atau bengku sebagai mana juga dalam bahasa Kota Bengkulu.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;">
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;"><span lang="SV">Dalam bahasa Sulawesi kita temukan kata ‘kale’ = badan, kata ini digunakan dalam bahasa Toraja Binuang, Toraja Belanipa, Memuju, Bantaing dan Sa’dan. Sedangkan dalam bahasa Toraja Baree ditemukan kata ‘koro’ dan dalam bahasa Mori ditemukan kata ‘kroi’  artinya batang, dan dalam bahasa Bengkulu kata ‘bengku’ atau ‘bengkuk’ = ‘batang’.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;">
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;"><span lang="SV">Kata lain yang juga digunakan secara luas untuk menyebutkan tubuh atau batang adalah kata ganti ‘awak’ , dalam bahasa Bali kita kenal dengan kata  ‘raga’ dan ‘dėwė’, sedangkan dalam bahasa Malayu Bengkulu lainnya kita kenal dengan kata ‘diri’ = tubuh atau badan sebagai kata ganti refleksif.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;"><span lang="SV">Dalam bahasa Penyabung, Katingan  dan Pinihing ditemukan kata  ‘puong’ sebagai kata ganti refleksif, kata itu masuk kedalam bahasa Jawa kuno menjadi  ‘pwangkulun’ atau ‘pwanghulun’. Sedangkan bahasa Gorontalo kita temukan kata ‘pohuwa’ sinonim kata ‘awaä’  yang berarti badan.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;">
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;"><span lang="SV">Sedangkan kata ‘saya’  berasal dari bahasa Sansekerta dan kata ‘wafat’  berasal dari bahasa Arab. Bahasa lain yang hampir mendekati bahsa Malayu adalah bahasa Campa, dan bahasa Jarai, Margui,  Khaonam. Dalam bahasa Campa ditemukan kata benda berbentuk ‘asau’ , kata ini diambil dari bahasa Khasi yaitu ‘asu’ = anjing. Bentuk semula kata ini sebagai berikut ; , Khasi dalam bahasa resmi ‘ksew’, Khasi Lingngam : ‘ksu’, atau ‘su’ dan dalam Khasi Sinteng  ‘ksäw’. Bahasa Tagalog dan Iloka menyebutnya  ‘aso’.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;"><span lang="SV">Demikian juga dalam penghitungan angka, terlihat pula dalam penggunaan bilangan 1 sampai 10 dan kata hitungan Campa ‘Klau’ (3) , dalam menghitung Campa menggunakan kata 10 + 2 (Sa puluh dua). Dalam bahasa  Seputan digunakan tambahan kata ‘ma’  sehingga hitungan berbunyi ‘puru ma ruo’. Dalam bahasa Shan hitungan kesepuluh (10) disebut ‘tekau’.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;">
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;"><span lang="SV">Dalam bahasa Palung di Birma Utara kata  kor  (10} sehingga hitungan berbunyi  ‘kor na ar’  berarti 10 + 2 , kata ini masuk kedalam bahasa-bahasa  di Indonesia menjadi ‘kur’  seperti pada bilangan ‘likur’. </span><span lang="FI">Dalam bahasa Polinesia menjadi ‘tekau’   seperti hitungan  ‘tekau ma rua’.  Kata bilangan Austronesia seperti  fitu (7} , walu (8) , siwa (9) , sedangan Campa menggunakan kata tijuh (7) , dalapan atau salapan (8) , dan semilan (9).</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;"><span lang="FI">Terlepas dari perdebatan itu, adanya penyebaran bahasa di luar bahasa induk ke Nusantara ini jelas merupakan suatu bukti bahwa telah ada pelayaran atau perniagaan yang sampai ke negeri ini. Bahasa-bahasa itu disampaikan secara berantai atau domino kepada  penduduk yang berada disekitarnya, dan satu-satunya alat transportasi laut masa itu adalah perahu layar (Jung) yang dapat dijadikan sebagai jembatan penghubung antara pulau-pulau berpenghuni.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;">
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;"><span lang="FI">Slametmulyana dalam buku “Asal Bangsa Dan Bahasa Nusantara“ mengatakan ;  Nama Nusantara belum dikenal sebagai nama keserumpunan bahasa, namun sudah dikenal sebagai nama kepulauan antara empat benua, mempunyai pengertian yang sama dengan Austronesia. Beliau menggunakan kata Nusantara untuk menunjuk keserumpunan bahasa yang terdapat di Kepulauan Nusantara atau Austronesia.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;">
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;"><span lang="FI">Penulis disini hanya ingin mengatakan bahwa, apa yang dimaksud dengan “keserumpunan bahasa yang terdapat di Kepulauan Nusantara atau Austronesia“ itu sebenarnya sudah dikenal sejak lama yaitu dengan istilah keserumpunan bahasa ‘Pha-mnalä-yu’, terutama oleh pedagang Arab, India dan Cina. Kata Malayu terambil dari akar kata  ‘Mnala-yë’ bahasa Ayodhya atau Ayoda sebuah kota yang terletak di Utara Pradesh Tengah bagian Timur India. Kota inilah yang disebut-sebut dalam buku Ramayana sebagai negeri keramatnya umat Hindhu.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;">
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;"><span lang="FI">Dengan demikian kata ‘Pha-mnala-yë’  atau  ‘Pha-mnalä-yu’  memiliki makna yang sama atau sinonim dengan kata Nusantara  atau Indonesia atau Archipelagic State  yang juga kita kenal sekarang. Bahasa Indonesia yang kita gunakan sekarang ini jika diteliti secara luas, maka akan ditemukan adanya perpaduan  bahasa (bahasa Adopsi) dari berbagai bahasa Afrika, Asia, Asia Tenggara, Eropa dan bahasa  Pha-mnalä-yu itu sendiri yang telah ada dari sejak awal, telah terjadi ratus tahun sebelum Masehi (sM).</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;"><span lang="FI">Karena itu menurut penulis penggunaan istilah Nusantara pada penyebutan rumpunan bahasa diseluruh wilayah Republik Indonesia atau Archipelagic State adalah tidak tepat, dan hanya akan semakin mempersempit ruang lingkupnya. Karena sejarah bangsa-bangsa itu sendiri telah menunjukkan bahwa sejak ratus abad telah ada perpindahan penduduk dan perdagangan secara luas di berbagai perairan Asia, Afrika dan Asia Tenggara termasuk di kepulauan Archipelagos. Pembatasan dengan istilah Nusantara itu, juga akan semakin memperjauhkan dari  kenyataan (Facta) pengembangan  bahasa itu sendiri serta ruang lingkupnya.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;"><span lang="FI">Namun kata Austronesia yang digunakan sebagai istilah untuk rumpunan bahasa di Asia Tenggara, dapat dipertegaskan disini bahwa istilah rumpunan bahasa Austronesia itu jelas lebih luas dibandingkan dengan istilah bahasa  Nusantara, dan rumpunan bahasa Pha-mnalä-yu lebih luas dari Austronesia. Bahasa Pha-mnalä-yu mencakup bahasa-bahasa yang datang dari daratan Asia, Afrika, Asia Tenggara, Archipelagos dan berkembang di Indonesia. Dengan demikian penulis berpendapat, rumpunan bahasa Indonesia akan lebih tepat disebut rumpunan bahasa Pha-mnalä-yu, karena wilayah penyebaran bahasa dan etnisnya lebih memiliki ikatan histories dan emosional, baik dulu maupun sekarang.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;">
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;"><span lang="FI">Menurut beberapa peneliti asing, bahasa Sansekerta yang berada di Indonesia itu lebih memiliki kekhasan (kehususan) jika dibandingkan dengan bahasa negeri asalnya, seperti bahasa Urdu, Hindustan dan Tamil lainnya yang banyak bercampur dengan kata-kata Sanskrit (Sansekerta). Namun hal itu tidak tertutup kemungkinan, bahwa bahasa Sansekerta yang berkembang di Indonesia itu muncul dari bahasa sehari-hari para pelaut-pelaut India pada masa itu, yang memang terkenal banyak menyinggahi berbagai pelabuhan laut di Asia dan Asia Tenggara, yang ramai dikunjungi ketika itu. Mereka mendatangi pelabuhan-pelabuhan Jazirah Arab dan Asia yang telah maju untuk berniaga, dan perlu pula diingat bahwa di India sendiri bahasa daerah itu cukup banyak.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;">
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;"><span lang="FI">Di India terdapat 179 bahasa yang terpecah menjadi 544 bahasa daerah, dan bahasa itu dapat dirumpunkan menjadi 5 rumpun bahasa yaitu masing-masing: </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;"><span lang="FI">1). Rumpun bahasa Indo-Eropa, atau rumpun bahasa Arya seperti bahasa Hindi, Banggali, bahasa Assam, bahasa Orissa, Marathi, Gujarat, Punjabi, Lahnda, Sindhi, </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;"><span lang="FI">Kashmiri dan Sinhala. 2). Rumpun bahasa Munda, 3). Rumpun bahasa Dravida, 4). Rumpun bahasa Indo Tionghoa, dan  5). Bahasa-bahasa yang tidak dapat digolongkan ke dalam salah satu rumpunan bahasa yang ada.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;">
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;"><span lang="FI">Bahasa Hinddhi dipakai di United Provinces, Central Provinces dan Rajputana, sedangkan aksara yang digunakan untuk menulis mereka menggunakan dua macam; aksara Parsi dan aksara Nagari (Di Indonesia berkembang menjadi aksara Kawi atau Jawa kuno). Demikian juga bahasa banyak bercampur dengan kata-kata Parsi, bahasa ini dinamakan bahasa Urdu. Sedangkan bahasa Hindustani banyak bercampur dengan kata-kata sanskrit, dan bahasa Hinddhi ini banyak digunakan sebagai bahasa kesusastraan</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;"><span lang="SV">Bahasa Banggali banyak terdapat di Delta Gangga dan di daerah sebelah utara dan timur. Anehnya dalam bahasa ini ialah, bahwa bahasa kesusastraannya jauh berbeda dengan bahasa yang digunakan sehari-hari, seperti seakan tidak pernah kita jumpai dalam bahasa-bahasa lainnya.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;">
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;"><span lang="SV">Aksara yang digunakan untuk menulis adalah aksara Nagari yang di sana-sini terdapat perubahan. Sementara bahasa Banggali dinilai termasuk bahasa tinggi, dan kesusastraannya telah berkembang sejak lama, bahasa ini juga dipakai di Assam.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;">
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;"><span lang="SV">Orang Punjab berbahasa Penjabi, termasuk di Punjab Timur, sebagian mereka memakai bahasa Lahnda dengan aksa Parsi. Orang Sind memakai bahasa Sindhi, aksara yang dipakai aksara Parsi. Sedangkan orang-orang Kasmir banyak berbahasa Sanskrit, disini orang muslimnya menggunakan aksara Parsi, sementara golongan Hinddhu menggunakan aksara Narada (Aksara Nagari kuno).</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;">
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;"><span lang="SV">Dalam prasasti Prabu Siliwangi, bahasa Indonesia kuno yang digunakannya kelihatannya lebih modern dimasanya, kendati perubahannya itu sendiri tidak secara mendasar (Signifikan), artinya masih banyak istilah-istilah (kata-kata) lama yang masih digunakan dalam prasasti tersebut. Tetapi yang paling menarik dalam prasasti Prabu Siliwangi itu menurut penulis, adalah banyaknya kata-kata yang hingga kini masih tetap dipakai dalam bahasa daerah seperti Lampung Pesisir (Lampung Pemingir) misal kata Dija, Sija, Saka, Ja (Hiya), Nusa, Tiga, Lan, Ban, Pun, Bumëi, dan sebagainya.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;">
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;"><span lang="SV">Bahasa yang digunakan dalam tulisan prasasti Batu Tulis itu, adalah kata-kata yang umumnya banyak sekali dipakai dalam bahasa Lampung kuno. Jika hal ini benar, maka tugas selanjutnya akan menjadi pekerjaan rumah bagi para peneliti bahasa (Etnolinguistik).</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;">
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;"><span lang="SV">Karena itulah banyak nama-nama negeri di Nusantara yang diambil dari nama tumbuh-tumbuhan / pohon, atau sebutan tempat (sungai atau penambangan emas), atau diambil dari istilah keagamaan (Hinddhu, Bhuddha, Islam dan Kristen), atau nama negeri asal penguasa pemuka agama, dan penamaan itu sekaligus sebagai bahasa. Sebagai contoh nama yang diambil dari nama tumbuh-tumbuhan adalah, Ippoh atau Ipuh (pohon yang getahnya sangat beracun) sebuah negeri yang terdapat di Provinsi Bengkulu atau negeri Ippoh di Malaysia.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;">
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;"><span lang="SV">&lt;;span&gt;Negeri yang memakai nama-nama sungai contohnya adalah Bakasi yang diambil dari kata Chandrabhaga, kata Krui (di Provinsi Lampung), Lu-Shiangshe (Sungai kejayaan atau sungai emas) di Bengkulu, dan kata ‘Bengkulu’ itu sendiri menunjukkan kata ‘batang air’ atau ‘sungai’. Di Sumatera bagian selatan anak negeri umumnya menyebut kata ‘sungai’ dengan istilah ‘batanghari’, contoh lainnya adalah nama Bhagawan Solo (Bengawan Solo) kata Bhagawan itu berarti sungai (sedangkan arti sesungguhnya adalah seseorang yang memberikan/menurunkan ilmu secara terus menerus, mengalir bagaikan mata air). </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;">
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;"><span lang="SV">Nama negeri yang diambil dari nilai keagamaan adalah Chamara (ekor kuda) sebagai alat pengusir lalat yang sering terlihat pada patung dewa yang sedang memegang Chamara, Aksamala (Tasbih) dan Kamandalu (Kendi berisi air penghidupan ). Chamara atau Cemara banyak digunakan sebagai sebutan nama sebuah negeri di Nusantara.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;">
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;">
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 .0001pt;">Nama negeri lainnya adalah Indrapura (Kota Dewa) di Provinsi Riau, dan nama  kota yang sama juga terdapat di Sumatera Barat. Sedangkan yang berbentuk peralatan keagamaan adalah seperti nama negeri Muko-muko yang diambil dari kata Maco-maco (Tempayan besar), dan Tapan (Nampan), Indramayu (Kota dewa kecantikan atau Dewa bersolek) dsb.</p>
<p style="margin:0 0 .0001pt;">
<p style="margin:0 0 .0001pt;">
<p style="margin:0 0 .0001pt;">Makna keagamaan yang diambil menjadi nama negeri lainnya seperti Pakwan Pajajaran, kata ini terdiri dari dua suku kata yaitu Pakwan +  Pajajaran.  Kata Pakwan berasal dari bahasa Hinddhustan, terambil dari akar kata ‘Pakpui’ atau ‘Pa’Pui’ artinya “Melihat / mendengar sabda dewa”. Sedangkan kata Phajajaran itu terambil dari akar kata Pha + Jajar + An, kata ini dapat diartikan dengan “Gugusan Pulau” atau berjajar atau banyak pulau. Dengan demikian kata Pakwan Phajajaran berarti “Pulau Sabda Dewa atau Negeri Sabda Tuhan”. Kata itu hampir sama dengan sebutan kata Samudera Pasee sebagai Kota Serambi Mekah atau Negeri Para Wali.</p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-ID"> </span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/amarta.wordpress.com/263/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/amarta.wordpress.com/263/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/amarta.wordpress.com/263/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/amarta.wordpress.com/263/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/amarta.wordpress.com/263/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/amarta.wordpress.com/263/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/amarta.wordpress.com/263/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/amarta.wordpress.com/263/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/amarta.wordpress.com/263/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/amarta.wordpress.com/263/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/amarta.wordpress.com/263/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/amarta.wordpress.com/263/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=amarta.wordpress.com&blog=2119919&post=263&subd=amarta&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://amarta.wordpress.com/2008/06/02/bengkulu-dalam-bahasa-dan-perbandingan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c4905f7da5efedfba7c3f6a4ed33f30e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">akarfoundation</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>RA.Kartini Seorang Feminis?</title>
		<link>http://amarta.wordpress.com/2008/05/23/rakartini-seorang-feminis-2/</link>
		<comments>http://amarta.wordpress.com/2008/05/23/rakartini-seorang-feminis-2/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 May 2008 06:56:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Akar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita dari Kampung]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://amarta.wordpress.com/?p=250</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Fakhruddin Halim
Jurnalis Tinggal di Kota Pangkalpinang
Sejarah, penggal waktu yang telah ditinggalkan. Sejarah, hanyalah saksi bisu yang bergantung pada kacamata manusia untuk membacanya. Sejarah bisa berarti beda jika kacamata baca manusia juga berbeda. Adalah sebuah keharusan untuk membaca sejarah secara obyektif berdasarkan fakta.
Demikian halnya dengan perjuangan Kartini. Benarkah Kartini pejuang emansipasi dan feminisme? Atau tidak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=amarta.wordpress.com&blog=2119919&post=250&subd=amarta&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Oleh: Fakhruddin Halim<br />
Jurnalis Tinggal di Kota Pangkalpinang</p>
<p>Sejarah, penggal waktu yang telah ditinggalkan. Sejarah, hanyalah saksi bisu yang bergantung pada kacamata manusia untuk membacanya. Sejarah bisa berarti beda jika kacamata baca manusia juga berbeda. Adalah sebuah keharusan untuk membaca sejarah secara obyektif berdasarkan fakta.<br />
Demikian halnya dengan perjuangan Kartini. Benarkah Kartini pejuang emansipasi dan feminisme? Atau tidak ada hubungannya sama sekali? Maka kita perlu meninjau kembali perjuangan beliau.</p>
<p>Tangal 21 April bagi wanita Indonesia, adalah hari yang khusus untuk memperingati perjuangan RA Kartini. Tapi sayangnya, peringantan tersebut sarat dengan simbol-simbol yang berlawanan dengan nilai yang diperjuangkan Kartini (misalnya, penampilan perempuan berkebaya atau bersanggul, lomba masak dan sebagainya yang merupakan simbol domestikisasi perempuan).</p>
<p>Kartini besar dan belajar di lingkungan adat istiadat serta tata cara ningrat Jawa, feodalisme, ia hanya boleh bergaul dengan orang-orang Belanda atau orang-orang yang terhormat dan tidak boleh bergaul dengan rakyat kebanyakan. Kartini tidak menyukai lingkungan yang demikian, ini terlihat dari isi suratnya yang ditujuka kepada Stella, tanggal 18 Agustus 1899 diantaranya: “Peduli apa aku dengan segala tata cara itu, segala peraturan-peraturan itu hanya menyiksa diriku saja”</p>
<p>Kartini mendobrak adat keningratan, karena menurutnya setiap manusia sederajat dan mereka berhak untuk mendapatkan perlakuan sama. Itu beliau lakukan pada masa di mana seseorang diukur dengan darah keningratan. Semakin biru darah ningratnya semakin tinggi kedudukannya. Ini terlihat dalam suratnya pada Stella tanggal 18 Agustus 1899: “Bagi saya hanya ada dua macam keningratan: Keningratan Pemikiran (Fikrah) dan Keningratan Budi (Akhlaq). Tidak ada yang lebih gila dan bodoh menurut persepsi saya daripada melihat orang yang membanggakan asal keturunannya. Apakah berarti sudah beramal sholeh, orang yang bergelar Graff atau Baron!”</p>
<p>Kartini memag berupaya untuk memajukan kaum wanita di masanya (masa penjajahan). Pada saat itu wanita tidak mendapatkan hak pendidikan yang sama denga lakli-laki, namum memberi kontribusi bagi perbaikan masyarakat. Cita-citanya ini diungkapkan melalui suratnya kepada Prof Anton dan nyonya, pada tanggal 4 Oktober 1902: “Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak perempuan. Bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak permpuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tetapi, karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali terhadap kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam (sunatullah) sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama”. Dengan demikian perjuangan Kartini bukan hanya untuk kepentingan wanita, namun jauh lebih luhur lagi adalah bagi perbaikan tatanan kehidupan.</p>
<p>Pada awalnya, perjuangan Kartini banyak dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran yang berasal dari luar Islam, ia belum paham Islam secara benar.Hanya mengaji dan membaca al-Qur’an tapi tidak dapat memahami isinya, sehingga ia tidak bisa merealisasikan di dalam kehidupannya. Bahkan sebaliknya ia sangat membenci Barat, ini terlihat dari isi suratnya yang ditujukan kepada nyonya Abendon, tanggal 27 Oktober 1902: “Sudah lewat masanya, tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik, tiada taranya. Ma’afkan kami, tetapi apakah ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa di balik hal yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal-hal yang sama sekali tidak patut disebut peradaban.”</p>
<p>Selanjutnya di tahun-tahun terakhir sebelum wafat ia menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang bergolak di dalam pemikirannya. Ia mencoba mendalami ajaran yang dianutnya, yaitu Islam. Pertemuannya dengan KH. M. Sholeh bin Umar, seorang ulama besar dari Darat, Semarang, telah merubah segalanya. Pada saat Kartini mempelajari Al-Qur’an melalui terjemahan bahasa Jawa, Kartini menemukan dalam surat Al-Baqarah:257, Firman Allah SWT yang artinya:</p>
<p>“Allah pemimpin orang-orang yang beriman. Dia mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya. Dan orang-orang kafir pemimpin mereka ialah Thagut, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan. Mereka itu adalah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya”.<br />
“Kyai, selam kehidupanku baru kali inilah aku sempat mengerti makna dan arti surat pertama dan induk al-Quran,yang isisnya begitu indah menggetarkan sanubariku.Maka bukan bualan rasa syukur hatiku kepada Allah Swt. Namun aku heran tak habis-habisnya, mengapa para ulama saat ini melarang keras penerjemahan dan penafsiran al-Quran dalam bahasa Jawa? Bukankah al-Quran itu justru kitab pimpinan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?” Tanya Kartini pada Kyai Sholeh Darat gurunya.<br />
Dalam banyak suratnya sebelum wafat. Kartini banyak mengulang kata-kata Dari Gelap Kepada Cahaya, namun makna ini bergeser tatkala Armin Pane menerjemahkannya dari bahasa Belanda menjadi “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Kalimat ini sedikit demi sedikit telah menghilangkan makna yang dalam, menjadi sesuatu yang puitis namun tidak memilki arti ruhiyah.</p>
<p>Namun sangat disayangkan refleksi perjuangan Kartini saat ini, banyak disalah artikan oleh wanita-wanita Indonesia dan telah dimanfaatkan oleh pejuang-pejuang feminisme untuk menipu para wanita, agar mereka beranggapan bahwa perjuangan feminisme memiliki akar di negerinya sendiri, yaitu perjuangan Kartini. Mereka berusaha menyaingi laki-laki dalam berbagai hal, yang kadangkala sampai di luar batas kodrat sebagai wanita. Tanpa disadari, wanita-wanita Indonesia telah diarahkan kepada perjuangan feminisme dengan membawa ide-ide kapitalisme-sekularisme yang pada akhirnya merendahkan, menghinakan derajat wanita itu sendiri.</p>
<p>Kalangan feminis hanya mengukur standar kemuliaan wanita pada seberapa besar peran wanita dalam ranah publik, mereka menuntut keikutsertaan wanita dalam semua bidang kehidupan mulai dari tukang becak sampai kalangan birokrat. Wanita dinilai tidak lebih hanya sebagai barang komoditi. Padahal, solusi yang mereka tawarkan justru malah menimbulkan problem baru bagi perempuan. Tingginya tingkat pemerkosaan perempuan, pelecehan seksual, trafficking perempuan, dan sebagainya, tidak lain disebabkan oleh hal tersebut. Sebenarnya kalau kita jeli, mereka yang menamakan diri sebagai feminis tak lebih dari orang-orang yang kecewa dan putus asa terhadap kehidupan yang kapitalistik ini. Mereka mencoba melakukan pemberontakan pada kehidupan kapitalistik yang memang menindas serta mengeksploitasi kaum wanita. Hal ini jelas akan sangat berbeda dengan kehidupan Islam yang justru meletakkan kemuliaaan pada wanita.</p>
<p>Maka, upaya meneladani perjuangan Kartini bukanlah kembali pada ide-ide feminis yang absurd melainkan kembali pada ideologi Islam, yang dalam rentang masa kepemimpinannya selama 13 Abad mampu memposisikan wanita pada kedudukannya yang teramat mulia, maka wajar bila desas desus diskriminasi perempuan tak pernah terdengar. Wallahu’alam Bishowab.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/amarta.wordpress.com/250/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/amarta.wordpress.com/250/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/amarta.wordpress.com/250/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/amarta.wordpress.com/250/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/amarta.wordpress.com/250/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/amarta.wordpress.com/250/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/amarta.wordpress.com/250/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/amarta.wordpress.com/250/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/amarta.wordpress.com/250/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/amarta.wordpress.com/250/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/amarta.wordpress.com/250/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/amarta.wordpress.com/250/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=amarta.wordpress.com&blog=2119919&post=250&subd=amarta&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://amarta.wordpress.com/2008/05/23/rakartini-seorang-feminis-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c4905f7da5efedfba7c3f6a4ed33f30e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">akarfoundation</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Benarkah, Hanya Ada Satu Suku Rejang ?</title>
		<link>http://amarta.wordpress.com/2008/04/30/benarkah-hanya-ada-satu-suku-rejang/</link>
		<comments>http://amarta.wordpress.com/2008/04/30/benarkah-hanya-ada-satu-suku-rejang/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Apr 2008 05:07:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Akar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita dari Kampung]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://amarta.wordpress.com/?p=162</guid>
		<description><![CDATA[Ditulis Oleh Hakim Benardie Sabrie Penulis Buku dan Insan Pers, Jakarta Timur    Jumat, 18 April 2008 
“Benarkah, hanya ada satu suku Rejang?”. Memang suatu pertanyaan yang sangat menggelitik bagi setiap orang yang mendengarkannya, terutama mereka yang memang berasal dari Suku Rejang. Bagi penulis, “Suku Rejang itu hanya satu”. Mereka semua berasal dari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=amarta.wordpress.com&blog=2119919&post=162&subd=amarta&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Ditulis Oleh Hakim Benardie Sabrie Penulis Buku dan Insan Pers, Jakarta Timur    Jumat, 18 April 2008 </p>
<p>“Benarkah, hanya ada satu suku Rejang?”. Memang suatu pertanyaan yang sangat menggelitik bagi setiap orang yang mendengarkannya, terutama mereka yang memang berasal dari Suku Rejang. Bagi penulis, “Suku Rejang itu hanya satu”. Mereka semua berasal dari satu rumpun, yang selanjutnya berkembang dan menyebar keseluruh pelosok di Provinsi Bengkulu ini.</p>
<p>Penulis sedikitpun tidak merasa ragu mengemukakan pendapat tersebut,  meskipun kata Rejang, bukanlah monopoli suku Rejang (baca:Bengkulu), karena di Indonesia ini masih ada beberapa tempat yang menggunakan nama Rejang, sungai Rejang, dan juga tarian Rejang. Bahkan orangpun ada yang bernama Pak Rejang, ternyata bukan berasal dari Bengkulu, dia berasal dari Kalimantan.</p>
<p>Hampir-hampir saja penulis terkecoh, semula penulis taksak pastilah dia berasal dari Provinsi Bengkulu. Namun setelah berbincang-bincang Pak Rejang ini mengatakan, nama itu merupakan famnya (Suku atau asal nenek moyangnya). Kami tak lama berbincang-bincang, dan selanjutnya berpisah setelah pesat landing Bandara Sukarno-Hatta Jakarta, menuruskan perjalanan masing-masing.</p>
<p>Flash back (Kilas Balik) sejarah negeri Bengkulu memang menarik untuk dikaji kembali (kajiulang), karena kemajuan teknologi telah membuka peluang bagi kita untuk dapat berfikir, mengkaji, meneliti dan menelaah kebenaran dari suatu sejarah. Kita sudah tidak dapat lagi menyembunyikan kebohongan-kebohongan sejarah anak negeri. Jika dibawah tahun 1960 mungkin orang dapat saja mengaku-ngaku bahwa dirinya adalah keturunan darah biru, dari raja Si Anu. Tetapi sekarang akan terungkap semua kebohongan itu, atau mungkin juga itu adalah merupakan suatu kebenaran.</p>
<p>Disinilah letaknya perbedaan, kalau kita berbicara secara ilmiah dengan kita berbicara secara politik atau politis. Berbicara secara ilmiah adalah untuk menemukan sutu kebenaran, sedangkan berbicara secara politik atau politis hanya ada satu jawaban, yaitu menang atau kalah. Tentunya untuk menemukan suatu kebenaran sejarah pada masa sekarang ini, hanya ada satu jalan yaitu “Ilmiah”, diperkuat dengan berbagai fakta dan argumentasi, dan dibahas secara analis dalam berbagai aspek. Dengan demikian objektivitas history akan dapat ditemukan secara konstruktif, bukan story yang berkembang dan menjadi polemik.</p>
<p>Berdasarkan berbagai teori sosiologi – antropologi &#8211; arkeologi telah mengajarkan kepada kita bahwa “Peradaban manusia itu selalu berawal dari kehidupan sekelompok manusia dipesisir pantai atau sungai, dan selanjutnya berkembangan menjadi komunitas masyarakat yang semula homogen dan selanjutnya berubah menjadi heterogen” dalam suatu masyarakat pergaulan yang lebih besar berbentuk  bangsa (Nasional) dan selanjutnya berkembang  menjadi antara bangsa-bangsa (Internasional).<br />
Dunia Baru.</p>
<p>Kedatangan bangsa-bangsa asing ini juga tidak terlepas dari berbagai kepentingan-kepentingan. Secara geologi dan geografis negeri-negeri di Nusantara ini telah dikunjungi oleh bangsa-bangsa asing antara lain secara umum dengan tiga bentuk alasan sebagai berikut :</p>
<p>1.	Mencari tambang emas.<br />
2.	Perpindahan penduduk (Exsodus) akibat bencana alam, baik vulkanis maupun tektonis, akibat terjangkitnya wabah penyakit, dan perang.<br />
3.	Meningkatnya hubungan perdagangan.</p>
<p>Perjalanan panjang sejarah negeri maritim nusantara ini menunjukkan bahwa ada dua negeri yang pernah dikunjungi bangsa India dan Cina pada eksodus pertama pada tahun  225-216 sM atau 147-138 Caka). Pendatang asing ini umumnya telah memiliki berbagai tingkat keterampilan dibidang kelautan, pertukangan, pertanian, serta memiliki seni budaya yang jauh lebih tinggi dari penduduk pribumi. Negeri yang pertama dikunjunginya adalah Lu-Shingshe di Provinsi Bengkulu dan Phalimbham di Provinsi Banten, dan dua negeri ini sama-sama banyak menghasilkan emas (Pertama kali) yang ditemukan oleh bangsa pendatang di nusantara. </p>
<p>Bahkan jauh sebelum itu, dalam kitab Taurat (600 sM) mengisahkan bahwa Nabi Sulaiman as pernah memerintahkan pelaut Phoenisia berlayar keseluruh penjuru alam mencari  ophir (Mencari emas). Kisah pencarian emas ini juga tertuang dalam kitab Hindhu di Hindhustan, pada buku Ramayana berbahasa sanskerta yang ditemukan pada tahun 72 Masehi atau 106 tahun setelah kelahiran Nabi Isa as.<br />
Fakta Sejarah.</p>
<p>Fakta sejarah menunjukkan bahwa bangsa China telah datang kenegeri ini (Bengkulu) sejak tahun 225-216 sebelum Masehi (sM) atau 147–138 Caka) berasal dari negeri Hyunan (China daratan), dan menggunakan bahasa Mon. Bahasa inilah yang menyebar keberbagai negeri di Thailand, Birma, Kamboya dan sebagian Korea. Mereka ini pulalah yang pertama kali mendirikan negeri bernama Lu-Shiangshe yang berarti sungai kejayaan atau sungai yang memberi kehidupan / harapan atau sungai emas. Sedangkan penduduknya, mereka menyebut diri dengan sebutan Rha-hyang atau Ra-Hyang atau Re-Hyang atau Re-jang. Sebuah negeri yang terletak dipesisir barat Pulau Sumatera. </p>
<p>Sebelum pendatang ini tiba (225-216 sM atau 147-138 Caka) di Bengkulu (Wilayah Bengkulu Utara), memang  telah ada penduduk Re-jang yang menghuni di sekitar daerah Lais, Bintunan dan Ketahun. Sedangkan pendatang baru, nampaknya merupakan generasi penerus  dari penambang yang tiba lebih awal pada abad ke-III sebelum Masehi (sM). </p>
<p>Suatu hal yang menarik adalah ditemukannya mata uang China (Numismatic)    yang bertuliskan Chien Ma berangka tahun 421 Masehi di Bengkulu Utara (Pulau Enggano). Mata uang yang sama juga ditemukan di Criviyaya atau Criwiyaya (Baca: Palembang) dan di Tarumanagara (Baca : Jakarta). Dari kata CHIEN MA inilah muncul kata Cha-Chien (Caci = uang dalam bahasa Rejang), Mo-Chien (Monce = uang dalam bahasa Bengkulu kota), Tha-Chien (Tanci = uang dalam bahasa Manna). Seorang bhiksu China bernama Fa-Hien atau Pa-Shien tiba di Nusantara pada tahun 414 Masehi dalam rangka kunjungannya ke negeri seribu pagoda India, dia singgah di- Criviyaya (Sriwiyaya) Palembang dan Tarumanagara (Jakarta).</p>
<p>Fa-Hien ini juga menceritakan tentang adanya pulau khayal, karena dia pernah transit (singah) di Pulau Enggano (Bengkulu Utara), Maladewa (Srilangka) dalam perjalanannya menuju India. Sebagai mana hal yang sama juga diceritakan Tome Pires dalam buku “Suma Oriental” ditulis pada tahun 1515, dan Pigafetta 1521 menyebutkan pulau Enggano dengan kata OCOLORE (Pulau yang dihuni oleh wanita-wanita saja).</p>
<p>Jika ditelaah dari kata Enggano maka kata ini diambil dari bahasa Mon (Hyunan China daratan) artinya rusa bertanduk. Ini menunjukkan bahwa wanita dipulau itu berdandan rambut berkepang (Sanggul) dua yang menonjol keatas, sebagai mana juga menjadi trend pada wanita China pada masa itu. Sumber lain menyebutkan wanita-wanita dari Maladewa (Srilangka) juga banyak tinggal atau menjadi budak disana. Tentunya kita tidak tau persisnya bagai mana, namun cerita pulau Enggano sempat mendunia menjadi pulau Khayul. Ada pula yang melukiskan sebagai kerajaan yang hanya diperintah dan dihuni oleh wanita-wanita saja.</p>
<p>Kedatangan etnis India tahun 264-232 sM, dan etnis China tahun  225-216 sM ke Nusantara (Pha-mnalayu) khusunya ke Bengkulu dan Banten (termasuk Jakarta), telah membuat goresan sejarah tersendiri pada masyarakat Bengkulu. Etnis China ini datang ke Nusantara (Pha-mnalayu) secara bergelombang, bersama dengan datangnya etnis India, mereka datang dan menyebar dari Lu-Shiangshe (Baca: Bengkulu), ke-negeri Phalimbam (Baca : Banten), negeri Da-ayak (Kalimantan, dan negeri Pone (baca : Sulawesi). Selanjutnya berasimilasi dengan penduduk asli dan pendatang lainnya, hingga saat ini.</p>
<p>Selain itu juga disebutkan, bahwa didaerah ini telah bermukim sebanyak delapan  Kepala Keluarga etnis China (Cung Kuo Jen), 40 warga etnis China (Chi Au Sen), dan sejumlah  keturunan dari ketutunan etnis China (Chi Au Sen Se Pat Tay), dan mereka umumnya adalah pedagang emas dan hasil bumi. Mereka rata-rata memiliki keterampilan pandai emas (Tukang emas yang membuat perhiasan), selain pedagang hasil bumi. Sedangkan penduduk lainnya adalah petani kebun yang makmur.</p>
<p>Sebuah Kitab Ramayana yang ditemukan pada tahun 72 Masehi di Ajoda atau Ayodhya, dan sebuah lagi kitab ditemukan di kota Benares (kota suci di India) menyebutkan, adanya tujuh (7) negeri, dan dua (2) daerah diantaranya adalah penghasil emas dan batu mulya. Negeri yang dimaksud adalah Lu-Shiangshe (Baca: Bengkulu), dan Phalimbham (baca : Banten). </p>
<p>Pada buku Ramayana  itu dikatakan bahwa “Periksalah baik-baik Javadviva, yang mempunyai tujuh buah kerajaan, yaitu Pulau Emas dan Pulau Perak, negeri yang dihiasi pandai emas”. Tentang negeri Phalimbham dan Lu-Shiangshe kabarnya pulau itu amat subur, tanahnya  banyak mengandung emas, mempunyai ibu negeri bernama  Perak,  dan pada sebelah barat negeri terdapat sebuah penyeberangan (yang dimaksud dalam Ramayana sebuah tempat penyeberangan dimaksud adalah Pulau Enggano atau nama lainnya OCOLORE. Adapun tujuh kerajaan atau negeri dimaksud masing-masing adalah  sebagai berikut : </p>
<p>1.	Phalimbham (negeri yang berada di Provinsi Banten),<br />
2.	Lu-Shiangshe (negeri yang berada di Provinsi Bengkulu),<br />
3.	Chalava atau Tarumanagara (negeri yang berada di Provinsi DKI Jakarta),<br />
4.	Kutei (negeri yang berada di Kalimantan Timur<br />
5.	Phã-mnalä-yû Tulang Bawang di Provinsi Lampung.<br />
6.	Phã-mnalä-yû Crïviyäyâ (Sriwiyaya) di Provinsi Sumatera Selatan.<br />
7.	Phã-mnalä-yû Crï-Iňdrâpurä Miňangatämvàn di Provinsi Riau.</p>
<p>Jika mengacu kepada berita Ramayana ini, maka nampak jelas bahwa di Nusantara ini sekurang-kurangnya pada awal tahun Masehi telah ada  negeri, atau setidak-tidaknya telah ada tujuh pemangku adat atau kerajaan sebagai mana tersebut diatas. Tujuh negeri yang diketahui dalam berita Ramayana dimaksud mungkin sekali adalah merupakan ibu negerinya, dan tidak tertutup pula kemungkinan masih banyak lagi negeri-negeri kecil yang belum sempat diceritakan dalam berita Ramayana itu.</p>
<p>Situs dan Arca</p>
<p>Situs peninggal negeri Rejang dipesisir barat Pulau Sumatera itu, hingga saat ini masih dapat dilihat dan ditemukan di Kabupaten Bengkulu Utara. Situs berbentuk batu bata berukuran besar, pecahan gerabah, poslen, kapak batu, beliung, dan alat penumbuk, bertebaran disepanjang pantai. Sementara kuburan tua abad ke-XV M (Kuburan China) di Lebong Tandai (diareal tambang emas) telah banyak yang rusak dan batu nisannya (batu giok) hilang. Sebuah arca Bhudha setinggi 40 cm terbuat dari perunggu raib dibawa pendatang, yang juga adalah peneliti pengeboran minyak pada tahun 1971. Begitulah nampaknya pembinaan sejarah negeri Bengkulu ini.</p>
<p>Claudius Ptolomeus seorang bangsa Yunani, kelahiran Iskandariah Mesir dan tinggal di Alexandaria, juga mengungkapkan hal yang sama dalam peta yang dibuatnya pada tahun 127-151 Masehi. Peta kuno ini ditemukan pada tahun 165 Masehi, menyebutkan adanya “Golzden Chersonese” pulau emas di Jabadiou, sebagai mana yang juga disebut dalam kitab Ramayana dengan istilah Yavdvipha atau javaviva.<br />
Peta  pelayaran kuno yang dibuat berdasarkan  tulisan geograf Starbo (63 sM &#8211; 21 M) merupakan peta jalur pelayaran dari Eropa ke Cina, yang menyebutkan adanya rute pelayaran dunia melintasi Selat Sunda (Indonesia) untuk sampai ke negeri Cina. Idrisi atau Edrisi (1099 – 1154 M) lahir di Ceuta, seorang ahli Ilmu Bumi (Geografi) bangsa Arab-Sepanyol masa pemerintahan Roger II. Risalah yang dibuatnya adalah merupakan kumpulan isi terpenting dari buku-bukunya terdahulu, juga merupakan gabungan dan lanjutkan dari karya Ptolomeus dan Al Masudi tentang peta bumi dan pelayaran.</p>
<p>Edrisi membuat risalahnya berdasarkan laporan-laporan asli yang dikirimkan oleh para peninjau yang dikirimkan keberbagai negeri untuk menguji kebenaran bahan laporan tersebut. Dengan perbandingan yang kritis Edrisi telah menunjukan suatu pandangan yang sangat luas dan memberikan pengertian mengenai kenyataan hakiki tentang kebulatan bentuk bumi.  Ia juga berhasil menentukan sumber-sumber air sungai Nil yang berasal dari daratan tinggi khatulistiwa Afrika, dan dia berhasil membuat konstruksi bulatan langit dan peta dunia dalam bentuk cakra (Kedua-duanya terbuat dari perak).   </p>
<p>Peta pelayaran 1411 M (merupakan peta pelayaran) yang hanya menyebut beberapa negeri yang disinggahi perahu layar pemiliknya. Di Pulau Sumatera hanya terdapat kota pelabuhan Pasee (NAD), Andripura (Indrapura, Riau), Manincabo (Padang, Sumbar), Lu-Shiangshe (Provinsi Bengkulu), Krui, Liamphon (Lamphong atau Lampung, Provinsi Lampung), Luzupara (Kemungkinan daerah  Tulang Bawang atau Manggala), Lamby (Jambi), dan nama negeri Crïviyäyâ terletak di Musi Selebar. Peta lainnya yang dibuat oleh Petrus Bertius dan Jodocus Hondius pada tahun 1618 M dan  peta tahun 1740 M yang diterbitkan Matthnum Seutter.  </p>
<p>Geologi dan Geografi.</p>
<p>Secara geografis Indonesia berada diatas tiga lempengan Indo-Australia, lempengan Eurasia dan lempengan Pasifik, Indonesia pun diapit oleh tiga lautan yaitu Lautan Hindhia, Lautan Pasifik dan Lautan Cina Selatan, serta 125 gunung berapi aktif dan 4.873 buah sungai. Dengan demikian tidaklah mengherankan apa bila negeri ini sangat rawan dengan berbagai musibah dan bencana.</p>
<p>Sejarah Maritim Indonesia mencatat, bahwa musibah besar yang pernah menimpa negeri ini Pertama kali adalah musibah yang terjadi di pesisir selatan Provinsi Banten (Negeri Palimbam dan Panaitan) pada tahun 198 Masehi yang diperkirakan dengan kekuatan 9,2 skala Richter, sejarah menyebutkan hampir semua penduduk yang berada dipesisir Jawa Barat bagian Selatan dan pesisir Bandar Lampung  musnah (Pralaya) ditelan gelombang. Negeri inilah yang disebut sebagai Nusa Larang yang terletak di daerah Gunung Tiga dalam prasasti Batu Tulis Bogor oleh dinasti Purana (baca: Purnawarman). Sejarah menyebutkan sebagian penduduk yang selamat mengungsi ke negeri Kalapa (Jakarta sekarang).</p>
<p>Musibah kedua terjadi di Tarumanagara (Negeri Kalapa atau Jakarta sekarang) pada tahun 690 Masehi, pralaya ini menghancurkan kerajaan besar Tarumanagara, hanya sebagian penduduk saja yang dapat mengungsi kedarat (Bogor sekarang), dan sebagiannya mengungsi ke Kalingga (Kerajaan Kalinga Jawa Tengah) seusai pralaya. Beberapa catatan menyebutkan bahwa musibah kedua ini lebih dahsyat dari musibah yang semula di Palimbam dan Panaitan Banten, karena gelombang dan banjir telah dapat memisahkan beberapa daratan (Sekarang yang dikenal dengan sebutan Pulau Seribu).</p>
<p>Musibah Ketiga  yaitu meletusnya Gunung Merapi di Jawa Tengah pada tahun 1006 Masehi, yang menghancurkan (pralaya) Kerajaan Mataram pada masa pemerintahan Raja Dharmawangsa, musibah ini disebutkan menewaskan seluruh hulubalang dan pengikut setia Raja Dharmawangsa, bahkan rajapun ikut binasa. Musibah Keempat  gempa bumi yang terjadi pada tahun 1586 M meletusnya gunung Kelud di Jawa Timur. Kelima  musibah yang terjadi pada tahun 1638 M,  meletusnya gunung Raung di Jawa Timur.<br />
Keenam pada tahun 1815 M meletusnya Gunung Tambora di Sumbawa yang banyak merenggut korban dan harta benda tak terhingga. Ketujuh musibah meletusnya Gunung Galunggung pada tahun 1822 M meratakan lahan pertanian dan rumah-rumah dilereng-lereng gunung, yang menelan ribuan jiwa manusia.<br />
Kedelapan Musibah dahsyat lainnya adalah meletusnya Gunung Krakatau di Selat Sunda pada tanggal 23 Agustus 1883 M, musibah dahsyat ini diikuti gelombang besar dan angin, menenggelamkan pesisir Bandar Lampung dan Teluk Betung, selain negeri-negeri yang berada dipesisir Banten (Provinsi Banten). </p>
<p>Bukti-bukti kedahsyatan musibah gempa ini masih terlihat, dimana sebuah reruntuhan kapal yang terdampar sejauh 5 km kedarat (posisi reruntuhan kapal tersebut saat ini persis berada dibelakang lokasi Kantor Pemda Provinsi Bandar Lampung) yang oleh masyarakat sering disebut dengan “Sumur Putri”, dan disana terdapat air panas alam. Bencana Gunung Krakatau juga menyisakan sebuah pelambung rambu lalu lintas laut yang terletak di depan asrama Brigadir Mobil (Brimob) Teluk Betung.</p>
<p>Kesembilan adalah musibah angin dan gelombang Tsunami dengan kekuatan 9 skala Richter yang memporakporandakan pesisir Provinsi Aceh dan Provinsi Sumatera Utara pada tanggal 26 Desember 2004. (***) </p>
<p>Sember_ http://metrobengkulu.com/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=69&amp;Itemid=29 </p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/amarta.wordpress.com/162/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/amarta.wordpress.com/162/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/amarta.wordpress.com/162/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/amarta.wordpress.com/162/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/amarta.wordpress.com/162/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/amarta.wordpress.com/162/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/amarta.wordpress.com/162/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/amarta.wordpress.com/162/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/amarta.wordpress.com/162/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/amarta.wordpress.com/162/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/amarta.wordpress.com/162/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/amarta.wordpress.com/162/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=amarta.wordpress.com&blog=2119919&post=162&subd=amarta&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://amarta.wordpress.com/2008/04/30/benarkah-hanya-ada-satu-suku-rejang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c4905f7da5efedfba7c3f6a4ed33f30e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">akarfoundation</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Peradilan Adat Rejang dan Penomena</title>
		<link>http://amarta.wordpress.com/2008/03/18/peradilan-adat-rejang-dan-penomena/</link>
		<comments>http://amarta.wordpress.com/2008/03/18/peradilan-adat-rejang-dan-penomena/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Mar 2008 09:16:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Akar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita dari Kampung]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://amarta.wordpress.com/2008/03/18/peradilan-adat-rejang-dan-penomena/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Erwin S Basrin
Keberadaan peradilan adat di tanah Rejang sudah berlangsung untuk kurun waktu yang cukup lama, jauh sebelum agama Islam masuk ke Tanah Rejang dimulai ketika zaman Ajai dan Bikau, negeri yang terletak disepanjang Bukit Barisan ini penduduknya sudah lama melaksanakan tata tertib peradilannya menurut hukum adat. Pada masa penjajahan peradilan adat tetap bertahan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=amarta.wordpress.com&blog=2119919&post=139&subd=amarta&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><h1><span style="font-size:11pt;font-family:'Times New Roman';font-weight:normal;">Oleh: Erwin S Basrin</span></h1>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:'Times New Roman';font-weight:normal;">Keberadaan peradilan adat di tanah Rejang sudah berlangsung untuk kurun waktu yang cukup lama, jauh sebelum agama Islam masuk ke Tanah Rejang dimulai ketika zaman <i>Ajai dan Bikau</i>, negeri yang terletak disepanjang Bukit Barisan ini penduduknya sudah lama melaksanakan tata tertib peradilannya menurut hukum adat. Pada masa penjajahan peradilan adat tetap bertahan sebagai suatu bentuk peradilan “orang asli” berhadapan dengan peradilan “gouvernement rechtsspraak”, meski demikian Pemerintahan Belanda mengakui terhadap usaha penyelesaian sengketa local melalui peradilan adat, pengakuan ini dilakukan secara berbeda dengan landasan hukumnya masing-masing. Setelah Indonesia merdeka peradilan adat ini menjadi tidak berdaya setelah disyahannya UU Darurat No 1 Tahun 1950 yang menghapus beberapa peradilan yang tidak sesuai dengan Negara Kesatuan atau menghapus secara berangsur-angsur peradilan swapraja di beberapa daerah dan semua peradilan adatnya termasuk juga dengan peradilan adat yang ada di Rejang Lebong.<span>    </span></span></p>
<h1><span style="font-size:11pt;font-family:'Times New Roman';font-weight:normal;">Meskipun Negara dan kelompok-kelompok dominan terus mempertanyakan kesahihannya sebagai hukum, bahkan lebih dari itu juga berupaya untuk melenyapkan atau memaksakan mengenakan identitas hukum modern (hukum negara), tetapi peradilan adat mempunyai kemampuan untuk bertahan selain karena strategi asimilasi yang juga disebabkan oleh pembelaan yang panjang terhadap keberadaannya. Organisasi social-politik atau disebut juga kelembagaan adat komunitas local di Bengkulu dikenal dengan Marga dan Kutai ditingkat Kampung, lembaga inipun mampu menyelengarakan organisasi pengaturan diri sendiri <i>(self governement),</i> organisasi inipun bukan hanya kontruksi dari normal, aturan dan kelembagaan tetapi lebih dari itu pengaturan tersebut didasari oleh perangkat nilai dan pandangan hidup yang menjadi rujukan pada pembentukan norma dan tata aturan adat.<span>  </span></span></h1>
<h1><span style="font-size:11pt;font-family:'Times New Roman';font-weight:normal;">Secara sosiologispun aspek hukum dan peradilan adat dalam kehidupan masyarakat di Rejang Lebong pandang sebagai penjaga keseimbangan, keseimbangan yang dimaksud adalah kehidupan yang harmonis antar anggota masyarakat dan antar masyarakat dengan alam. Karena itu peradilan di pandang sebagai media penjaga keseimbangan daripada sebuah institusi pemberi dan penjamin keadilan sebagaimana yang dipahami dalam hukum modern atau hukum positif. </span></h1>
<h1><span style="font-size:11pt;font-family:'Times New Roman';font-weight:normal;">Dalam kerangka inilah masyarakat adat di Rejang Lebong memandang hukum adat sebagai salah satu dari tiga unsure penjaga keseimbangan disamping hukum negara (pemerintah) dan hukum agama. Kondisi ini juga yang mendorong masyarakat menengok kembali system peradilan adat atau system peyelesaian sengketa local disamping sector peradilan nasional menjadi sector kenegaraan yang paling resisten terhadap tuntutan perubahan ke arah yang lebih jujur, terbuka dan taat azas. </span></h1>
<p class="MsoHeader" style="margin-top:6pt;"><span style="font-size:11pt;">Otonomi sebagai salah satu cakrawala baru yang memungkinkan komunitas-komunitas adat membangun dan mengembangkan identitas eksistensial adalah cita-cita dan peluang, disatu pihak Undang-Undang Dasar memungkinkan pergantian konsep Pemerintahan Desa dengan konsep Pemerintahan Adat seperti pada Amandemen II UUD 1945 Pasal 18 B ayat 2<span>  </span>yang menyebutkan <i>“Negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya”</i>. Dan UU No 32 Tahun 2004 tentang Pemerintaan Daerah juga menyebutkan bahwa Desa atau dengan nama lain adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas-batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan menungurus kepentingan masyarakat setempat berdasarkan asal usul dan adat istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam system Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia. </span></p>
<p class="MsoHeader" style="margin-top:6pt;"><span style="font-size:11pt;">Atas dasar ini selama 2 tahun terakhir Akar Foundation sebagai pendukung gerakan masyarakat adat di Bengkulu dan AMA Bengkulu sebagai organisasi gerakan bagi masyarakat adat dengan beberapa NGO pendukung melakukan tekanan-tekanan kepada pemerintah daerah Rejang Lebong agar pranata dan praktik peradilan adat yang masih melekat di masyarakat adat dalam keseluruhan sistim sosial budayanya diakomodasikan dalam berbagai produk regulasi di Kabupaten Rejang Lebong. </span></p>
<p class="MsoHeader" style="margin-top:6pt;"><span style="font-size:11pt;">Menyadari bahwa persoalan-persoalan yang terkait dengan masyarakat adat acapkali bersumber pada peraturan perundangan yang terkait dengan mekanisme penyelesaian sengketa baik perkara pidana ataupun sengketa perdata terutama pada tetuterial masyarakat adat, <i>Political Will </i>Bupati Rajang Lebong dengan menerbitkan kebijakan daerah berupa <b>Surat Keputusan (SK) Bupati Rejang Lebong Nomor 58 Tahun 2005 Tentang Pelaksanaan Hukum Adat Rejang</b>, perlu juga menjadi bahan diskusi karena SK ini menjelaskan bahwa sengketa dan masalah yang terjadi dalam masyarakat adat di wilayah Kabupaten Rejang Lebong, diupayakan dilaksanakan menurut hukum adat Rejang dan dilaksanakan oleh perangkat adat/lembaga adat yang disebut sebagai <b>Jenang Kutai<i> </i></b>(eksekutor beberapa kasus/sengketa) padahal pada tata penyelesaian sengketa dalam peradilan adat Rejang forum Sukau dan Kutai merupakan forum pertama dalam penyelesaian sengketa yang amat menonjolkan pendekatan musyawarah. Selanjutnya <b>Surat Keputusan (SK) Bupati Rejang Lebong No 93 Tahun 2005 Tentang<span>  </span>Kumpulan Hukum Adat Bagi Masyarakat Adat Dalam Wilayah Kabupaten Rejang Lebong</b>, lebih rinci menjelaskan sumber acuan bagi perangkat adat/lembaga adat dalam mengupayakan penyelesaian secara adat atas sengketa/masalah yang terjadi di masyarakat adat di Wilayah Kabupaten Rejang Lebong. SK ini terkesan rancu akibat tidak melalui proses pendokumentasian dari beberapa tahapan penyelesaian sengketa banyak yang terputus bahkan ditiadakan akibat transper ilmu antar generasi yang tidak sempurna di samping lemahnya kapasitas beberapa pelaku pelaksana peradilan adat terutama memahami mekanisme penyelesaian local dengan beberapa aturan dalam hukum pisitif. </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:left;" align="left"><span style="font-size:11pt;font-family:'Times New Roman';">Muatan substansi dari 2 buah SK ini lebih banyak membahas tentang tata cara peradilan adat di tingkat kampung terkesan unifikasi dan sangat elitis serta sarat dengan muatan politis yang hanya lebih rinci membahas penyelesaian seremonial dan tidak membahas secara holistik dan integralistik tentang penyelesaian sengketa dan persoalan-persoalan yang ada di tingkat kampung. Kedua SK ini selanjutnya akan dijadikan Peraturan Daerah Kabupaten Rejang Lebong, Akar Foundation dan AMA Bengkulu menyadari tentunya tidak mudah untuk menyusun struktur dan system peradilan adat yang dapat mengambarkan seluruh struktur peradilan adat yang dipunyai oleh komunitas adat yang ada di Rejang Lebong baik sturuktur social, tingkat perkembangan masyarakat dan derajat asimilasi serta integritasnya dengan system dari luar, hal ini menjadi sangat menentukan struktur dan system peradilan adat tersebut berjalan dan dihormati oleh para pihak. </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:left;" align="left"><span style="font-size:11pt;font-family:'Times New Roman';">Hal lain juga tentang luas dan sempitnya ruang hidup yang mampu dibangun oleh peradilan adat sangat terantung sejauh mana ia mampu menjawab problem legitimasi dan problem relasinya dengan hukum negara, problem legitimasi ini lebih merujuk pada sejauh mana peradilan ini mampu menjawab tuntutan keadilan pada tingkat komunitanya, sementara problem relasi dengan negara lebih merujuk pada pembagian yurisdiksi dan membangun kesepakatan-kesepakatan politik di daerah yang memungkinkan system peradilan adat bisa berjalan. </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:left;" align="left"><span style="font-size:11pt;font-family:'Times New Roman';">Kebutuhan akan institusi dan kelembagaan lokal serta peradilan adat ini selain adanya peluang yang diberikan oleh negara serta adanya jaminan bagi keseimbangan juga berawal dari kebutuhan masyarakat untuk menyalurkan aspirasi, mengembangkan diri, mengawas jalannya proses pembangunan dan pengelolaan sumber daya alam di atas tanah ulayat dan bertujuan untuk mensejahterakan masyarakatnya dan menjaga kelestarian lingkungan dan sumber daya alam. Tekat yang kuat juga untuk kembali kepada system peradilan adat di anggap juga sebagai respon terhadap runtuhnya legitimasi sitem peradilan nasional. Maka kegiatan ini adalah untuk menginisiasi dan membangun kembali system peradilan adat dengan membangun pondasi yang kokoh agar peradilan adat ini memiliki legitimasi yang kuat seperti: </span></p>
<ul>
<li><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;font-family:Symbol;"><span><span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"></span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:11pt;font-family:'Times New Roman';">proses politik untuk menguatkan system peradilan di selengarakan secara demokratik,</span></li>
<li><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;font-family:Symbol;"><span><span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"></span></span></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Times New Roman';">dan dalam implementasi dari system peradilan adat ini mampu menghasilkan putusan-putusan yang terpercaya dan dipatuhi oleh para pihak yang bersengketa dan para pihak lainnya.</span></li>
</ul>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/amarta.wordpress.com/139/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/amarta.wordpress.com/139/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/amarta.wordpress.com/139/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/amarta.wordpress.com/139/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/amarta.wordpress.com/139/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/amarta.wordpress.com/139/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/amarta.wordpress.com/139/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/amarta.wordpress.com/139/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/amarta.wordpress.com/139/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/amarta.wordpress.com/139/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/amarta.wordpress.com/139/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/amarta.wordpress.com/139/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=amarta.wordpress.com&blog=2119919&post=139&subd=amarta&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://amarta.wordpress.com/2008/03/18/peradilan-adat-rejang-dan-penomena/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c4905f7da5efedfba7c3f6a4ed33f30e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">akarfoundation</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bengkulu dalam Sejarah Maritim Indonesia</title>
		<link>http://amarta.wordpress.com/2008/03/13/bengkulu-dalam-sejarah-maritim-indonesia/</link>
		<comments>http://amarta.wordpress.com/2008/03/13/bengkulu-dalam-sejarah-maritim-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Mar 2008 04:55:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Akar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita dari Kampung]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://amarta.wordpress.com/2008/03/13/bengkulu-dalam-sejarah-maritim-indonesia/</guid>
		<description><![CDATA[http://www.metrobengkulu.com/?pilih=news&#38;aksi=lihat&#38;id=110 okRabu, 12 Maret 2008 
Oleh: Hakim Benardie Sabrie
*Penulis tinggal di Jakarta Timur
Kedatangan Bangsa Asing 
Perjalanan panjang sejarah maritim Indonesia hampir sama tuanya dengan perkembangan peradaban suku anak bangsa di Nusantara. Perjalanan panjang sejarah itu, telah memperkaya hasanah bahasa dan mewarnai budaya bangsa Indonesia.
Perkembangan peradaban suku bangsa maritim di Nusantara itu tidak terlepas dari berkembang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=amarta.wordpress.com&blog=2119919&post=122&subd=amarta&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';"><a href="http://www.metrobengkulu.com/?pilih=news&amp;aksi=lihat&amp;id=110">http://www.metrobengkulu.com/?pilih=news&amp;aksi=lihat&amp;id=110</a> okRabu, 12 Maret 2008 </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Oleh: Hakim Benardie Sabrie<br />
*Penulis tinggal di Jakarta Timur</p>
<p><b>Kedatangan Bangsa Asing</b> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Perjalanan panjang sejarah maritim Indonesia hampir sama tuanya dengan perkembangan peradaban suku anak bangsa di Nusantara. Perjalanan panjang sejarah itu, telah memperkaya hasanah bahasa dan mewarnai budaya bangsa Indonesia.<br />
Perkembangan peradaban suku bangsa maritim di Nusantara itu tidak terlepas dari berkembang masuknya suku bangsa lain ke Phã-mnalä-yû dengan membawa berbagai corak dan warna budaya daerahnya masing-masing.</p>
<p><b>Perahu Tradisional </b></span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Wilayah Indonesia secara, geo-ekonomi, geo-sosial dan budaya tidak terlepas dari pengaruh peradaban budaya bangsa-bangsa yang telah maju lebih dahulu. </span><span>Hal ini seperti peradaban pada bangsa Arab dan India yang berada disebelah barat, serta peradaban Cina yang berada di sebelah timur. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Negeri-negeri ini telah berkembang sejak ± 4.000 sM hingga pada abad ke- VII Masehi, dengan berbagai peradaban bangunan-bangunan yang terbuat dari tembok (batu alam dan batu bata), serta bangunan gowa (gunung) yang dirancang sebagai perumahan, pertanian dan perternakan. Termasuk pembuatan perahu sebagai mana yang juga diungkapkan secara rinci dalam kitab-kitab suci Taurat, Zabur, Injil dan Al-Qur’an<br />
Apa yang diceritakan dalam kita-kitab suci tentang peradaban manusia masa lalu, sebagiannya masih dapat dilihat dan disaksikan seperti Piramid dan kerangka jenazah Ramses II yang dikenal dengan nama Firaun dan banyak lagi lainnya. Di India, ditemukan berbagai Pogoda dan Candi peninggalan abad sebelum Masehi, serta Pagoda dan Tembok Besar Cina (The Great Wall of China) yang hingga sekarang masih tegak kokoh berdiri. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Bangsa Indonesia mungkin tidak akan pernah tahu dan mengetahui, kalau di bumi Nusantara ini sejak sebelum Masehi (sM), nenek moyang bangsanya telah memiliki peradababan dan budaya yang juga tinggi, perahu-perahu cadik yang mampu menyeberangi lautan dan candi-candi religius. Sementara informasi sesat yang berkembang hingga saat ini, telah sengaja dipupuk dan ditumbuh kembangkan oleh kolonial penjajah, agar bangsa ini tetap terkesan terbelakang dan tidak pernah ingin mengubah nasibnya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Hal itu tentunya dimaksudkan, agar kepentingan penjajah untuk menguasai dan menduduki Nusantara dapat berlanjut dan lebih lama lagi. Sementara anak bangsa telah diperdaya dengan berbagai issue serta kebohongan publik. Ini mengarah kepada pembodohan dan keterbelakangan, sebagai langkah dan strategi untuk dapat bercokol di negeri yang kaya akan sumber daya alam ini. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Mungkin kita tidak akan banyak mendapatkan informasi tentang bagaimana kondisi kehidupan nenek moyang bangsa Nusantara ini tempo dulu. Tentunya, bila saja tidak ada upaya Pemerintah Indonesia, untuk membuat terobosan dengan berbagai program sebagai upaya mengangkat dan meningkatkan kembali nilai-nilai semangat kemaritiman bangsa Indonesia. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Berdasarkan berbagai teori sosiologi – antropologi &#8211; arkeologi telah mengajarkan kepada kita bahwa, “Peradaban manusia itu selalu berawal dari kehidupan sekelompok manusia dipesisir pantai atau sungai. Selanjutnya berkembang menjadi komunitas masyarakat yang semula homogen, berubah menjadi heterogen. Dalam suatu masyarakat pergaulan yang lebih besar berbentuk bangsa (Nasional) dan selanjutnya berkembang menjadi antara bangsa-bangsa (Internasional)”. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Kedatangan bangsa-bangsa asing ini, juga tidak terlepas dari berbagai kepentingan-kepentingan. Secara geologi dan geografis negeri-negeri di Nusan-tara ini telah dikunjungi oleh bangsa-bangsa asing. Secara umum ada tiga bentuk alasan untuk itu. Pertama, mencari tambang emas. Kedua, perpindahan penduduk (Exsodus) akibat bencana alam. Baik vulkanis maupun tektonis, akibat terjangkitnya wabah penyakit, dan perang. Ketiga, meningkatnya hubungan perdagangan. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Perjalanan panjang sejarah negeri maritim Nusantara ini menunjukkan bahwa, ada dua negeri yang pernah dikunjungi bangsa India dan Cina pada eksodus pertama pada tahun 264 hingga 195 sM. Pendatang asing ini umumnya telah memiliki berbagai tingkat keterampilan dibidang kelautan, pertukangan, pertanian, serta memiliki seni budaya yang jauh lebih tinggi dari penduduk pribumi. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Negeri yang pertama dikunjunginya adalah Phalimbham di Provinsi Banten dan Lu-Shingshe di Provinsi Bengkulu. Dua negeri ini sama-sama banyak menghasilkan emas (pertama kali) yang ditemukan oleh bangsa pendatang di Nusantara. Bahkan jauh sebelum itu, dalam kitab Taurat (600 sM) mengisahkan, Nabi Sulaiman as pernah memerintahkan pelaut Phoenisia untuk berlayar keseluruh penjuru alam, mencari ophir (mencari emas). </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Kisah pencarian emas ini juga tertuang dalam kitab Hindhu di Hindhustan, pada sair Ramayana berbahasa sanskerta yang ditemukan pada tahun 72 Masehi atau 106 tahun setelah kelahiran Nabi Isa as. Pada sair Ramayana itu disebutkan, “Periksalah baik-baik Javadviva, yang mempunyai tujuh buah kerajaan, yaitu Pulau Emas dan Pulau Perak, negeri yang dihiasi pandai emas”. Tentang negeri Phalimbham dan Lu-Shiangshe kabarnya pulau itu amat subur, tanahnya banyak mengandung emas, mempunyai ibu negeri bernama Perak, dan pada sebelah barat negeri terdapat sebuah penyeberangan. Adapun tujuh kerajaan atau negeri dimaksud adalah:<br />
1. Phalimbham (Negeri yang berada di Provinsi Banten),<br />
2. Lu-Shiangshe (Negeri yang berada di Provinsi Bengkulu),<br />
3. Chalava atau Tarumanagara (Negeri yang berada di Provinsi DKI Jakarta),<br />
4. Kutei (Negeri yang berada di Kalimantan Timur<br />
5. Phã-mnalä-yû Tulang Bawang di Provinsi Lampung.<br />
6. Phã-mnalä-yû Crïviyäyâ (Sriwiyaya) di Provinsi Sumatera Selatan.<br />
7. Phã-mnalä-yû Crï-I?drâpurä Mi?angatämvàn di Provinsi Riau.</p>
<p>Jika mengacu kepada berita sair Ramayana ini, maka nampak jelas bahwa di Nusantara ini sekurang-kurangnya pada awal tahun Masehi telah ada negeri, atau setidak-tidaknya telah ada tujuh pemangku adat, kerajaan, sebagaimana tersebut. Tujuh negeri yang diketahui dalam sair Ramayana dimaksud, mungkin sekali adalah merupakan ibu negerinya, dan tidak tertutup pula kemungkinan masih banyak lagi negeri-negeri kecil yang belum sempat diceritakan dalam berita sair Ramayana itu.</p>
<p><b>Peta</b></span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Peta pelayaran kuno yang dibuat berdasarkan tulisan geograf Starbo (63 sM &#8211; 21 M), merupakan peta jalur pelayaran dari Eropa ke Cina, yang menyebutkan adanya rute pelayaran dunia melintasi Selat Sunda (Indonesia) untuk sampai kenegeri Cina. Hal yang sama juga diungkapkan dalam peta yang dibuat pada tahun 127 &#8211; 151 M oleh Claudius Ptolomeus. </span><span>Peta kuno ini ditemukan pada tahun 165 M, yang menyebutkan adanya “Pulau Emas“ di Nusantara ini. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Idrisi atau Edrisi (1099 – 1154 M) lahir di Ceuta, seorang ahli Ilmu Bumi (Geografi) bangsa Arab-Sepanyol masa pemerintahan Roger II. Risalah yang dibuatnya, merupakan kumpulan isi terpenting dari buku-bukunya terdahulu, juga merupakan gabungan dan lanjutan dari karya Ptolomeus dan Al Masudi tentang peta bumi dan pelayaran. Edrisi membuat risalahnya berdasarkan laporan-laporan asli yang dikirimkan oleh para peninjau, dikirimkan keberbagai negeri untuk menguji kebenaran bahan laporan tersebut. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Dengan perbandingan yang kritis, Edrisi telah menunjukan suatu pandangan yang sangat luas, dan memberikan pengertian mengenai kenyataan hakiki tentang kebulatan bentuk bumi. Ia juga berhasil menentukan sumber-sumber air sungai Nil yang berasal dari daratan tinggi khatulistiwa Afrika, termasuk berhasil membuat dari perak, konstruksi bulatan langit dan peta dunia dalam bentuk cakra.</p>
<p><b>Peta abad ke-XVII Masehi</b> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Sebuah peta pelayaran abad 1411 M atau 1333 Caka, ditulis diatas lempengan perunggu berhuruf Arab dan berangka tahun Hindhu, nama pembuatnya tidak jelas, namun ada tertulis Syaid Husein Al Saba. Pada peta ini masih menunjukkan adanya sebuah negeri Phalimbham (Sekarang Desa Panimbang) di daerah Pandegelang Propinsi Banten.<br />
</span><span>Negeri Naga atau Nagar (Kp. Naga Tangerang, Banten), Chalava (Kalapa) di Tanjung Priok Jakarta Utara Propivinsi DKI Jakarta sekarang. Negeri Banten yang dimaksud dalam peta itu adalah Pandegelang sekarang, serta negeri Banten sekarang yang dulunya dikenal dengan nama Laboh atau Labuhan. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Sementara Sarabon atau yang juga dikenal dengan sebutan Carabon atau Cirebon, tidak disebut-sebut sama sekali dalam peta tersebut. Negeri lainya yang juga disebut-sebut dalam peta itu adalah Chamara (Cemara), Muo (Mauk), Bebongor (Kemungkinan adalah Bogor). </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Peta pelayaran 1411 M (Merupakan peta pelayaran) yang hanya menyebut beberapa negeri yang disinggahi perahu layar pemiliknya. Di Pulau Sumatera hanya terdapat kota pelabuhan Pasee (NAD), Andripura (Indrapura, Riau), Manincabo (Padang, Sumbar), Lu-Shiangshe (Provinsi Bengkulu), Krui, Liamphon (Lamphong atau Lampung, Provinsi Lampung), Luzupara (Kemungkinan daerah Tulang Bawang atau Manggala), Lamby (Jambi), dan nama negeri Crïviyäyâ terletak di Musi Selebar. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Dalam peta dunia tahun 1553 M dibuat oleh Desellier atas permintaan Raja Henri II menyebutkanjuga adanya kota tua Phalimbham. </span><span>Hingga saat ini, peta itu masih tersimpan rapih di Museum Kota Praja Dieppe. Untuk dipeta lainnya adalah, peta yang dibuat oleh Petrus Bertius dan Jodocus Hondius pada tahun 1618 M dan peta tahun 1740 M yang diterbitkan Matthnum Seutter. Kedua peta terakhir ini masih mencantumkan nama kota Phalimbham yang berada di Provinsi Banten sekarang.</p>
<p>Sebagai perbandingan dan ilustrasi negeri-negeri di Indonesia tempo dulu itu, dapat dibaca pada peta 1618 M dan peta 1740 M tersebut. Peta Nusantara yang dibuat bangsa Eropa itu, kelihatanya telah membagi wilayah kepulauan ini yang terdiri dari Java Maior (Jawa Besar), Java Minor (Jawa kecil), disamping Berunai atau Borneo (Kalimantan). Java Minor terdiri dari pulau Madura, Baly, Celebes, Papoua, Maluku dan pulau-pulau kecil lainnya. Peta ini belum memasukan wilayah Irian Jaya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Di Jawa Barat terdapat negeri, 1. Phalimbham, 2. Bantam (Banten), 3. Bebongor (Bogor), 4. Nagar (Naga), 5. Befucar, 6. Iunculan, 7. Sura (Pandegelang), 8. Tanbara, 9. Tanionjava (Tanjuk Priok), 10. Jacatra (Jakarta), 11. Carwaon, 12. Monucaon (Pemanukan), 13. Dermayu (Indramayu), 14. Sarabon atau Carabon (Cirebon). Nama kota itu menurut ejaan bahasa Eropa, terdapat di Jawa Barat dan sebagian nama kota itu masih ada. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Untuk kota di Jawa Tengah dan Jawa Timur tercatat nama, 1. Tyoncktave (Karangampel), 2. Los Saros (Losari), 3.Tatagalle (Tegal), 4. Danma (Muara Demak), 5. Lappara (Jepara), 6. Mandalique (Metawar), 7. Paty (Pati), 8. Son (Sluke), 9. Can (Kragan), 10. </span><span>Tubaon (Tuban), 11. Siday (Sedayu), 12. Arof bay, 13. Brandan, 14. Surabaia (Surabaya), 15. Gericci (Gersik), 16. </span><span>Lortan (Paiton), 17. Luanna 18. Daya (Besuki), 19. Pabaryan (Pasir Putih), 20. Panaruca (Panarukan), 21. Balambiam ( Blambangan atau Banyuwangi), 22. Mataran (Jogjakarta). Nama kota itu tidak termasuk kota-kota yang berada di Madura dan Baly (Java Minor). </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Peta kuno Java Maior 1618 M, yang dibuat Petrus Bertius and Jodocus Hondius, menunjukkan adanya perkembangan dan pertumbuhan negeri (kota) baru di Pulau Jawa. Dalam peta Java Maior menunjukan, ada 33 buah negeri atau kota di Pulau Jawa. Di Jawa bagian barat, nama kota baru bermunculan diantaranya, Pandegelang, Banten, Munculan, Tanbara, Tonionjava, Jacatra (Jakarta), Monucoon, Dermayo (Indramayu), Tjoncktave, Sarabon (Carabon atau Cirebon) serta Kota Los Saros (Losari). Nama kota itu melengkapi nama-nama negeri sebelumnya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Peta tahun 1740 M yang dibuat Matthnum Seutter menyebutkan di Pulau Jawa negeri-negeri telah berkembang menjadi 50 kota, yang sebelumnya menurut Petrus Bertius and Jodocus Hondius hanya mencatat sebanyak 33 buah negeri. Selain itu dalam peta 1740 M, telah ada nama Kota Jakarta yang sudah berubah menjadi Batavia. Perubahan kota ini secara resmi terjadi tahun 1619 M, setelah penguasa Jakarta Pangeran Jayakarta Wijayakrama ditangkap dan diasingkan ke Jatinegara Kaum Jakarta Timur. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Bila kita dilihat dari peta yang ada itu, tampak dengan jelas bahwa rute pelayaran melintasi Selat Sunda telah lama dilakukan oleh pelaut-pelaut India, Arab (Asia dan Afrika) yang akan menuju ke negeri Cina. Mereka biasanya singgah dulu di Phalimbham dan pulau Panaitan serta Kota Perak yang berada di Provinsi Banten sekarang, sebelum meneruskan perjalanan pelayarannya ke negeri yang hendak ditujunya. Rute Laut merupakan salah satu rute perjalanan menuju Cina, disamping melalui darat. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Para Pedagang lebih banyak memilih rute laut dari pada darat karena pertimbangan keamanan. </span><span>Selain itu, rute darat menuju Cina biayanya lebih mahal dan barang yang dibawapun sangat terbatas jika dibandingkan melalui pelayaran. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Hal yang sama juga terjadi di Selat Malaka, dimana sejak dulu diketahu, kalau rute ini tidak aman (Karena prompak atau bajak laut) Thailand, Malayu dan bajak laut Cina di Nan Yang atau Nan Hai. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Lintas Selat Sunda kelihatannya lebih aman, karena rute ini banyak dilayari kapal layar pedagang-pedagang dari berbagai negara yang hendak menuju Phalimbham dan Tarumanagara. Kata Phalimbham atau Phalembhang di Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel), sering digunakan secara rancu oleh para peneliti atau penulis sejarah. Phalimbham yang berada di Provinsi Banten ini merupakan negeri yang pertama disinggahi oleh nenek moyang dinasti Tarumanagara, sedangkan Phalimbham atau Phalimbhang di Sumbagsel. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Nama ini pulalah yang membuat banyak penulis sejarah rancu untuk menentukan letak negeri Phalimbham yang ada di Sura, dengan Phalimbham atau Phalimbhang atau Palembang yang berada di Sumbagsel. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Nama Phalimbham yang dipakai Kerajaan Bhuddha Phã-mnalä-yû Crïviyäyâ (Sriwiyaya) Phalimbham, untuk nama sebuah negeri itu terjadi pada tahun 683 M. Ini setelah kerajaan Phã-mnalä-yû Crïviyäyâ ditumbangkan Kerajaan Tarumanagara dan Kerajaan Phalimbham Banten. Dua kerajaan dinasti Purnawarman ini, menamakan negeri di Sumatera itu, dengan nama Crïviyäyâ Phalimbham. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Sejak itu pula nama negeri Phã-mnalä-yû Crïviyäyâ berubah menjadi kerajaan Bhuddha Phã-mnalä-yû Crïviyäyâ (Sriwiyaya) Phalimbham. Karena itu tidak sedikit para peneliti dan penulis yang terjebak dengan nama dua negeri ini, sehingga tidak jarang mengidentikannya (Padahal letak dua negeri itu berbeda, satu negeri yang menaklukkan dan satu negeri yang ditaklukkan). </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Sebagaimana hal yang sama juga terjadi pada nama negeri Banten di Jawa bagian barat (Dulunya bernama Bantam atau Bantan), dengan Bantam yang ada di Kepulauan Riau. Kedua negeri ini mempunyai arti yang sama, yaitu “Sepuluh ribu pulau”, yang diambil dari bahasa Mon (Hyunan Cina kuno), atau sekarang kita menyebutnya dengan “negeri seribu pulau” untuk negeri Nusantara ini.</p>
<p><b>Geologi dan Geografi</b> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Secara geografis, Indonesia berada diatas tiga lempengan. pertama dilempengan Indo-Australia, Eurasia dan Pasifik. </span><span>Ini juga masih diapit oleh tiga lautan lagi, yaitu Lautan Hindhia, Lautan Pasifik dan Lautan Cina Selatan, dengan 125 gunung berapi aktif dan 4.873 buah sungai. </span><span>Dengan demikian, tidaklah mengherankan apabila negeri ini sangat rawan dengan berbagai musibah dan bencana. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Sejarah Maritim Indonesia mencatat bahwa, musibah besar yang pernah menimpa negeri ini pertama kali adalah musibah yang terjadi di pesisir selatan Provinsi Banten (Negeri Palimbam dan Panaitan) pada tahun 198 Masehi. Gempa diperkirakan berkekuatan 9,2 skala Richter, dalam sejarah disebutkan, hampir semua penduduk yang berada dipesisir Jawa Barat bagian Selatan, dan pesisir Bandar Lampung musnah (pralaya) ditelan gelombang. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Negeri inilah yang disebut sebagai Nusa Larang, terletak di daerah Gunung Tiga dalam prasasti Batu Tulis Bogor oleh dinasti Purana (Baca: Purnawarman). Sejarah menyebutkan sebagian penduduk yang selamat mengungsi ke negeri Kalapa (Jakarta sekarang). </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Musibah kedua terjadi di Tarumanagara (Negeri Kalapa atau Jakarta sekarang) pada tahun 690 Masehi, pralaya ini menghancurkan kerajaan besar Tarumanagara. Hanya sebagian penduduk saja yang dapat mengungsi kedarat (Bogor sekarang), dan sebagiannya mengungsi ke Kalingga (Kerajaan Kalinga Jawa Tengah) seusai pralaya.. Beberapa catatan menyebutkan, musibah kedua ini lebih dahsyat dari musibah yang semula di Palimbam dan Panaitan Banten, karena gelombang dan banjir telah dapat memisahkan beberapa daratan (Sekarang yang dikenal dengan sebutan Pulau Seribu).<br />
Musibah ketiga yaitu meletusnya Gunung Merapi di Jawa Tengah pada tahun 1006 Masehi, yang menghancurkan Kerajaan Mataram pada masa pemerintahan Raja Dharmawangsa. Dalam musibah ini disebutkan telah menewaskan seluruh hulubalang dan pengikut setia Raja Dharmawangsa, bahkan rajapun ikut binasa. Musibah Keempat gempa bumi yang terjadi pada tahun 1586 M, meletusnya gunung Kelud di Jawa Timur.<br />
Kelima, musibah yang terjadi pada tahun 1638 M, meletusnya gunung Raung di Jawa Timur. Keenam, pada tahun 1815 M, meletusnya Gunung Tambora di Sumbawa yang banyak merenggut korban dan harta benda tak terhingga. Ketujuh, musibah meletusnya Gunung Galunggung pada tahun 1822 M yang meratakan lahan pertanian dan rumah-rumah dilereng-lereng gunung, yang menelan ribuan jiwa manusia. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Kedelapan, musibah dahsyat lainnya adalah meletusnya Gunung Krakatau di Selat Sunda. Ini terjadi pada tahun 1883 M. Musibah dahsyat ini diikuti gelombang besar dan angin, menenggelamkan pesisir Bandar Lampung dan Teluk Betung, selain negeri-negeri yang berada dipesisir Banten (Provinsi Banten). </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Bukti-bukti kedahsyatan musibah gempa ini masih terlihat, dimana sebuah reruntuhan kapal yang terdampar sejauh 5 Km kedarat (Posisi reruntuhan kapal tersebut saat ini persis berada dibelakang lokasi Kantor Pemda Provinsi Bandar Lampung), yang oleh masyarakat sering disebut dengan “Sumur Putri”, dan disana terdapat air panas alam. Bencana Gunung Krakatau juga menyisakan sebuah pelambung rambu lalu lintas laut yang terletak di depan asrama Brigadir Mobil (Brimob) Teluk Betung. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Kesembilan adalah, musibah angin dan gelombang Tsunami dengan kekuatan 9 skala Richter yang memporakporandakan pesisir Provinsi Aceh dan Provinsi Sumatera Utara pada tanggal 26 Desember 2004.</p>
<p><b>Kedatangan Bangsa Asing.</b> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Eksodus pertama bangsa India ke Nusantara terjadi pada akhir tahun 264 hingga pertengahan tahun 232 sM (186 &#8211; 154 Caka) dan bangsa Cina 225 -216 sM (147 &#8211; 138 Caka). Adapun negeri yang mereka kunjungi pertama adalah negeri Phalimbham di Provinsi Banten dan Lu-Shiangshe di Provinsi Bengkulu, merupakan dua negeri yang sama-sama menghasilkan emas. Kata Phalimbham dan Lu-Shiangshe mempunyai arti yang sama yaitu mendulang atau melimbang emas, dua negeri yang disebut-sebut dalam syair Ramayana, sebuah naskah yang ditemukan pada tahun 72 Masehi di India.<br />
Negeri Phalimbham oleh pendatang juga disebut kata negeri Pha-sun-da-an. Kata Pha-sun-da-an diangkat dari bahasa Mon Hyunan Cina Kuno, akar kata Phattien (Pha) = daratan atau pulau atau sawah atau hari kedelapan. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Untuk kata (Sun) berarti kera atau monyet, dan kata (Da) menunjukkan besar, tempat, atau daerah, dan kata (An) merupakan kata akhiran, yang umumnya digunakan dalam bahasa Phã-mnalä-yû kuno, dan hingga kini masih tetap digunakan. Dengan demikian kata Pha-sun-da-an memiliki konotasi Pulau Monyet Besar atau masyarakat yang masih sangat primitif. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Kata Pha-sun-da-an itu dipakai oleh pendatang bangsa India 184 &#8211; 154 Caka dan Cina 147 &#8211; 138 Caka, untuk menunjukkan tempat atau negeri Phalimbham (Desa Panimbang sekarang) Pandegelang Provinsi Banten di Jabadiou atau Yavdvipha atau Javadviva (Indonesia). Bangsa Arab pada abad ke-VI dan VII M, menyebut negeri Nusantara dengan kata negeri diseberang lautan atau dengan kata Samudera. Negeri yang dimaksud dengan kata Samudera tersebut adalah Pulau Sumatera dan Pulau Jawa, dan orang-orang Indonesia yang datang ke Jazirah Arab waktu itu umumnya adalah berasal dari negeri-negeri dua pulau terbesar ini. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Pada awal abad ke-II M, negeri Phalimbam dan Pulau Panaitan mendapat musibah berupa gempa bumi yang amat dahsyat, musibah itu datang secara silih berganti seperti bencana tektonis dan vulkanis. Sumber gempa yang berpusat di Lautan Hindhia dan Gunung Krakatau di Selat Sunda telah memporakporandakan hampir seluruh negeri di pesisir pantai Provinsi Banten dan Bandar Lampung. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Bencana itu mungkin lebih dahsyat dari gempa bumi dan banjir yang pernah terjadi pada tanggal 23 Agustus 1883 M, menenggelamkan Bandar Lampung dan sebagian pesisir Provinsi Banten. Negeri Phalimbham merupakan tempat asal (Cikal bakal) rakyat negeri Chalava (Kalapa atau Jakarta), dan dalam perkembangan selanjutnya negeri itu menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Tarumanagara. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Wabah penyakit yang menyebar begitu cepat setelah musibah gempa bumi, telah menyebabkan banyak anak negeri yang mengungsi meninggalkan negeri Phalimbham dan Pulau Panaitan pindah ke negeri Kalapa. Negeri Phalimbham dan Pulau Panaitan yang ditinggalkan itu selanjutnya disebut sebagai negeri Tanah Larang (Nusa Larang) oleh dinasti Purana atau Purnawarman. Sebutan Nusa Larang itu juga tertulis dalam syair prasasti Prabu Siliwangi (Prasasti Batu Tulis Bogor), sebuah negeri yang pernah ditinggalkan oleh nenek moyang raja-raja Purnawarman. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Nama negeri Phalimbham itupun selanjutnya berubah, para pendatang asing menyebutnya dengan nama Banten (dalam beberapa peta kuno tertulis Bantem atau Bantam), pada awal abad ke-II M negeri yang dimaksud adalah negeri Pandegelang sekarang. Nama negeri Banten bagi sebutan Pandegelang itu tidak bertahan lama, dan pada akhir keruntuhan kerajaan Tarumanegara pada tahun 690 M negeri itu selanjutnya kembali berubah nama menjadi negeri Sura atau Surah, dan ada pula yang menyebutnya dengan kata Surakarta. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Kata Sura itu dipakai sebagai nama negeri, kemungkinan dikarenakan disana terdapat sebuah prasasti Munjul (batu bersurat) peninggalan karajaan Tarumanagara pada abad ke-V M di Pandegelang. Prasasti inilah yang menyebabkan anak negeri lebih senang menyebut negerinya dengan nama kata Sura atau Surah. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Pada masa awal penyebaran agama Islam di Tanah Pasundaan 1458 M, nama negeri Sura ini muncul dan dipakai kembali. Namun nama ini selanjutnya mengalami perubahan dan hingga sekarang bernama Pandegelang. Dengan demikian, nama negeri Banten itu sendiri sebenarnya adalah nama negeri Pandegelang sebelumnya, sedangkan nama negeri Banten sekarang dulunya adalah bernama negeri Laboh (Labuhan atau Pelabuhan). </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Sebagaimana juga terjadi pada nama negeri Chalava berubah menjadi Kalapa (Kelapa), selanjutnya berubah menjadi Jakarta (1527 M). Nama negeri Jakarta ini hanya bertahan hingga 1527 &#8211; 1618 M. Selanjutnya berubah menjadi Batavia yang diambil dari nama suku bangsa Jerman kuno BATAVIERZ yang berimigrasi ke Belanda. Suku bangsa ini umumnya adalah para pelaut-pelaut ulung, dan mereka pulalah yang datang ke Nusantara (Indonesia) sebagai pelaut bangsa Belanda dengan menggunakan kapal yang mereka beri nama Batavia, dan dari kata Batavia ini selanjutnya berubah menjadi kata Batawi atau Betawi. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Nama negeri Batavia ini bertahan sejak tahun 1618 hingga 1945, dan setelah proklamasi 17 Agustus 1945 nama kota Batavia selanjutnya berubah kembali menjadi Jakarta, dan hingga sekarang. Dengan demikian jelaslah bahwa di Jakarta tidak ada negeri yang bernama Sunda Kelapa. Nama negeri yang ada adalah Kalapa (Jakarta Kota sekarang), sebagai mana yang nyata-nyata disebutkan dalam Prasasti Padrao 1522 M sebagai Kalapa vasal Banten atau Jakarta vasal Banten.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Nama negeri Banten (Banten sekarang), sebelumnya hanya dikenal dengan sebutan Laboh (Pelabuhan). Sebutan nama itu kental terdengar disampaikan Fhathahillah saat tiba di Tanah Banten. Dalam naskah kuno disebutkan “ Kedatangan Fhathahillah ke Tanah Banten disambut pamandanya Sultan Maulana Hasanuddin Al Pasee di Laboh (Labuhan atau Pelabuhan) tahun 1521 M “. Namun nama Labuhan ini tidak populer.<br />
Selanjutnya justru yang lebih dikenal adalah dengan sebutan Banten oleh setiap pelaut yang singgah dan turun sauh dibandar itu, setelah benteng pertahanan kerajaan Islam Banten dibangun pada tahun 1524 &#8211; 1526 M di Laboh sebagai persiapan menghadapi perang dengan Portugis yang ingin menguasai Kapala, selanjutnya pusat pertahanan ini berfungsi sebagai pusat pemerintahan. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Nama negeri yang juga mengalami perubahan adalah Cirebon, nama negeri itu berasal dari kata Sarabon (berpencar dan berkumpul kembali disatu tempat, diambil dari bahasa Phã-mnalä-yû kuno) dan selanjutnya kata itu berubah menjadi kata Carabon, dan berubah pula menjadi kata Cirebon. Dengan demikian sangat naif kalau ada pendapat yang mengatakan bahwa nama negeri Cirebon itu berasal dari kata Cai Rebon (Cai = air, dan Rebon = udang-udang kecil atau halus). </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Perubahan dan penggunaan nama negeri sebagai mana tersebut diatas, juga terjadi pada nama negeri Tanjung Priok yang dulu disebut dengan Chandrabhaga, tetapi nama itu sekarang dipakai sebagai nama kota Bekasi. Nama ini diambil dari sebuah nama sungai yang dibangun pada masa kejayaan Kerajaan Tarumanagara (di Tanjung Priok, Jakarta Utara sekarang) dinasti Purnawarman, yaitu nama sungai Chandrabhaga, nama sungai ini tertera dalam Prasasti Tugu pada abad ke-V M. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Masih banyak lagi nama-nama negeri lainnya yang perlu diungkapkan, karena nama dan asal didirikannya suatu negeri itu sangat penting untuk diketahui dalam menelusuri kembali sejarah di Nusantara ini. Kekaburan tempat dan asal usul penduduk negeri merupakan salah satu penyebab kerancuan dalam penulisan sejarah yang terjadi selama ini. Karena negeri yang disebut-sebut dalam berbagai naskah kuno itu sudah tidak ada lagi. </span></p>
<p><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">Hilangnya suatu negeri bisa disebabkan karena telah berubah nama atau negeri itu hancur ditelan gempa, gelombang atau badai. Oleh karena itu peta akan sangat membantu penulis sejarah dalam mengetahui dan menentukan tempat-tempat yang dimaksud berbagai naskah kuno.</span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/amarta.wordpress.com/122/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/amarta.wordpress.com/122/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/amarta.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/amarta.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/amarta.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/amarta.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/amarta.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/amarta.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/amarta.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/amarta.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/amarta.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/amarta.wordpress.com/122/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=amarta.wordpress.com&blog=2119919&post=122&subd=amarta&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://amarta.wordpress.com/2008/03/13/bengkulu-dalam-sejarah-maritim-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c4905f7da5efedfba7c3f6a4ed33f30e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">akarfoundation</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ratu Samban berhak menjadi Pahlawan Nasional</title>
		<link>http://amarta.wordpress.com/2008/03/09/ratu-samban-berhak-menjadi-pahlawan-nasional/</link>
		<comments>http://amarta.wordpress.com/2008/03/09/ratu-samban-berhak-menjadi-pahlawan-nasional/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 09 Mar 2008 05:16:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Akar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita dari Kampung]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://amarta.wordpress.com/?p=88</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Hakim Benardie Sabri 
Belanda Balik Menyerang, Sejak peristiwa gugurnya dua pejabat kolonial Belanda pada tahun 1873, pemerintah kolonial Belanda tidak henti-hentinya mengejar dan mencari terus Mardjati alias Ratu Samban yang disebut-sebut sebagai pahlawan oleh anak negeri.
Laki-laki berperawakan besar dan tinggi dengan rambut pancang terurai ini tidak mudah diperdayakan Belanda. Setiap rakyat yang ditemui [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=amarta.wordpress.com&blog=2119919&post=88&subd=amarta&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal"><span>Oleh : Hakim Benardie Sabri </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Belanda Balik Menyerang, Sejak peristiwa gugurnya dua pejabat kolonial Belanda pada tahun 1873, pemerintah kolonial Belanda tidak henti-hentinya mengejar dan mencari terus Mardjati alias Ratu Samban yang disebut-sebut sebagai pahlawan oleh anak negeri.<br />
Laki-laki berperawakan besar dan tinggi dengan rambut pancang terurai ini tidak mudah diperdayakan Belanda. Setiap rakyat yang ditemui dan dimintakan keterangan tentang keberadaan Ratu Samban selalu saja bungkam (tutup mulut), bahkan mereka seolah-olah tidak mengetahui adanya peristiwa pembantaian yang terjadi. <span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Akibat gerakan perlawanan masyarakat ‘tutup mulut’ Belanda mendapat kesulitan untuk membedakan pemimpin yang dicari-cari itu dengan rakyat biasa, karena Ratu Samban memang pemimpin yang merakyat, dan apa yang diperjuangkannya memang untuk rakyat. Pernah suatu ketika (1887) Ratu Samban tertangkap oleh kolonial Belanda di daerah Napal Putih (Ketaun = Cat twon), dan dia dibawa ke Fort Marlborough (Benteng) , namun beberapa saat kemudian serdadu Belanda lainnya juga melaporkan (Pasukan lainnya) telah menangkap Ratu Samban beserta pengawalnya, maka terpaksa Mardjati yang asli itu dilepaskan. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Pada tahun 4 Desember 1888, kolonial Belanda mendapat berita bahwa Mardjati alias Ratu Samban berada di Bintunan setelah bersembunyi dan berpindah-pindah dari Ketahuan dan Lais. Maka pada tahun 1889 Belanda mengumumkan (Mengeluarkan maklumat) keseluruh negeri berisikan “Akan memberikan hadiah yang besar kepada siapa saja yang dapat menangkap Mardjati alias Ratu Samban”. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Tanggal 24 Maret 1889 (Pada tengah malam) penjahat nomor wahid yang dicari-cari kolonial Belanda ini ditangkap, dan di eksekusi diatas rakit, sebagaimana dua pejabat Belanda di eksekusi oleh Ratu Samban. Tokoh ini wafat menjalani hukum pancung dengan tangan terikat, dan dia dimakamkan oleh masyarakat di Desa Bintunan Kecamatan Batik Nau (sekarang). </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Dalam berbagai lagenda (sebagai bahan catatan) menyebutkan bahwa Mardjati adalah orang yang sakti mandraguna sehingga tidak mudah ditangkap, dan rakyat amat setia kepadanya sehingga tidak mudah diperdaya. Dalam kisah lainnya yang juga diceritakan secara berlebih-lebihan dalam lagenda, disebut-sebut Mardjati memiliki ilmu belut putih, sehingga badannya licin bagaikan belut jika ditangkap. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Sedangkan beberapa saksi menceritakan dalan lagenda bahwa. mereka melihat Mardjati tidak mempan ditembak dan ditusuk senjata tajam kolonial Belanda sewaktu membantai Asisten Residen dan kontroleur di Air Bintunan (Sungai Bintunan). </span><span>Peristiwa ini telah membuat Mardjari semakin disegani masyarakat Bengkulu Utara ketika itu.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Sudah saatnya pemerintah, untuk segera mengusulkan Mardjati alias Ratu Samban sebagai Pahlawan Nasional dari Provinsi Bengkulu. </span><span>Setidaknya ada pengakuan rakyat Bengkulu, yang ditetapkan berdasarkan Peraturan Daerah (Perda). Karena dia adalah pahlawan reformasi di masa penjajah, yang berjasa besar kepada rakyat kecil di Bengkulu Utara, dan gugur sebagai kusuma bangsa</span></p>
<p>Penobatan Gelar<br />
<!--[if !supportLineBreakNewLine]--><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal"><span>Ratu Samban adalah gelar/adok yang diberikan kepada seorang Pesirah (sekarang sama dengan kepala desa) oleh tua-tua masyarakat di desa (Marga) Bintunan Kabupaten Bengkulu Utara pada tahun 1874, seusai musim panen. Tanda penghargaan dan penghormatan itu diberikan kepada Mardjati yang dinilai telah berhasil membela kepentingan rakyat, dan sekaligus telah berhasil membunuh dua orang penguasa kolonial Belanda yaitu Asisten Residen H.Van Amstel dan Kontroleur E.E.W Castens pada 2 September 1873, saat hendak menyeberang Sungai Bintunan. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Dalam tragedi penyeberangan dengan menggunakan rakit (bambu yang diikat), dua pejabat kolonial H.Van Amstel dan E.E.W Castens didamping emapat (4) orang depati negeri Sembilan (sebutan untuk negeri Bintunan) dan salah seorangnya yang turut menyeberangkannya adalah depati Mardjati. Sedangkan tiga orang lainnya tidak disebutkan namanya, namun dapat diduga bahwa mereka adalah depati yang ditangkap Belanda pada tahun 1878. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Perihal senjata yang digunakan oleh Mardjati alias Ratu Samban, pada peristiwa pembantaian itu adalah parang tajam (bukan keris), dan saat korbannya luka (pejabat Belanda) maka langsung dibuang/ditenggelamkan ke sungai Bintunan. Peristiwa itu terjadi saat cuaca dalam keadaan usai hujan, sedangkan sungai dalam keadaan banjir (Arus air sungai deras). Sedangkan kedua petinggi Belanda itu mengharapkan sampai keseberang, dan akan bermalam di Bintunan (darat diseberang sungai), karena hari menjelang petang. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Berdasarkan berbagai literatur dan catatan sejarah pada tahun 1901 hingga 1913, serta berbagai catatan kolonial Belanda di Batavia (Arsip Nasional), hingga saat tulisan ini diturunkan penulis belum menemukan satupun berita yang menyebutkan bahwa ‘Belanda pernah mengirim pasukan sebanyak 1000 orang serdadu ke Bengkulu’. Karena tidak pernah ada pertempuran terbuka, baik yang langsung dipimpin oleh Ratu Samban ataupun yang lainnya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Ratu Samban bukanlah seorang panglima perang (Memiliki pasukan khusus tempur), tetapi sewaktu dia menyerang dua petinggi kolonial Belanda itu, dia disaksikan oleh ratusan warga yang menyambut kunjungan Asisten Residen H.Van Amstel dan Kontroleur Castens, yang sengaja dikerahkannya (Mardjati) untuk menyaksikan peristiwa pembantaian tersebut oleh depati Mardjati (sebelum menjabat Pasirah). </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Mardjati seorang depati yang selanjutnya menjadi Pasirah karena dinilai telah berjasa melindungi masyarakat dari beban pajak (Raaden = Pajak yang harus dibayarkan kepada pemerintah Kolonial Belanda) sebesar 30.000 Golden. Hal itu berdasarkan ketentuan pemerintah kolonial Belanda di Batavia tahun 1872, serta hasil pertemuan pemuka masyarakat dengan kontroleur Castens dan Asisten Residen H.Van Amstel.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> Beban pajak ini pulalah yang dirasakan amat berat oleh rakyat, khususnya yang berada Resort Bintunan. Pada tanggal 2 September 1873, dua pejabat penting ini mengadakan inspeksi kewilayah perkebunan rakyat, yang terkenal banyak menghasilkan kopi, lada, kopra, emas dan batu mulya diwilayah pesisir barat pulau Sumatera, yaitu Lais, Bintunan, Ketahun (Provinsi Bengkulu). </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Sumber-sumber sejarah Inggris maupun Belanda banyak menyebutkan tentang komoditi yang berasal dari tiga wilayah ini, daerah yang menghasilkan kopi dan lada terbesar, disamping kopra, emas dan batu muly.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> Sumber_ <a href="http://www.metrobengkulu.com/?pilih=news&amp;aksi=lihat&amp;id=52">http://www.metrobengkulu.com/?pilih=news&amp;aksi=lihat&amp;id=52</a> </span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/amarta.wordpress.com/88/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/amarta.wordpress.com/88/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/amarta.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/amarta.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/amarta.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/amarta.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/amarta.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/amarta.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/amarta.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/amarta.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/amarta.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/amarta.wordpress.com/88/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=amarta.wordpress.com&blog=2119919&post=88&subd=amarta&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://amarta.wordpress.com/2008/03/09/ratu-samban-berhak-menjadi-pahlawan-nasional/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c4905f7da5efedfba7c3f6a4ed33f30e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">akarfoundation</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pelurusan Fakta: Bengkulu Dalam Lintasan Sejarah</title>
		<link>http://amarta.wordpress.com/2008/03/05/pelurusan-fakta-bengkulu-dalam-lintasan-sejarah/</link>
		<comments>http://amarta.wordpress.com/2008/03/05/pelurusan-fakta-bengkulu-dalam-lintasan-sejarah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 05 Mar 2008 07:06:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Akar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita dari Kampung]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://amarta.wordpress.com/?p=86</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Hakim Benardie Sabrie
 Dunia Baru, Negeri Indonesia juga pernah disebut dengan kata Antara – Nusa (Nusantara), Jabadhiou atau Javadhvipha, sebagai mana nama negeri yang pernah diperintahkan Nabi Sulaiman as kepada pelaut Phoenisia, untuk mencari emas ke-negeri yang kaya itu. Negeri yang dimaksud adalah bernama Lu-Shiangshe di Provinsi Bengkulu atau Pha-Limbham di Provinsi Banten. 
Sebutan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=amarta.wordpress.com&blog=2119919&post=86&subd=amarta&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Oleh: Hakim Benardie Sabrie</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><span> </span>Dunia Baru, Negeri Indonesia juga pernah disebut dengan kata Antara – Nusa (Nusantara), Jabadhiou atau Javadhvipha, sebagai mana nama negeri yang pernah diperintahkan Nabi Sulaiman as kepada pelaut Phoenisia, untuk mencari emas ke-negeri yang kaya itu. Negeri yang dimaksud adalah bernama Lu-Shiangshe di Provinsi Bengkulu atau Pha-Limbham di Provinsi Banten. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Sebutan nama atau kata Nusa yang dipakai oleh para pedagang, penyebaran agama Hindhu, Bhuddha dan Islam yang datang ke Archipelago ini, untuk pertama kali dipakai di Tarumanagara pada awal abad ke-II Masehi, yang menceritakan tentang adanya negeri Nusa-Larang (Tanah Larangan) di Phalimbham dan Phanaitan (Provinsi Benten sekarang) oleh dinasti Purana atau Purnawarman. Selain itu kronik-kronik Arab, India dan Cihna menyebut negeri ini dengan istilah Phã-mnalä-yû atau Phã-mnalä-yë (Kepulauan bagaikan untaian tasbih). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kita sekarang mengenalnya dengan istilah yang lebih disingkat lagi yaitu Mnalä-yû (Mala-yu) atau Mnalä-yë (Mala-ye). Ada juga yang menyebut nama negeri ini dengan istilah “Pulau Harapan” atau dengan kata “Samudera” (Kata Samudera adalah sebutan bagi negeri yang berada diseberang lautan Arab dan India, yaitu Indonesia ini). Tetapi ada pula yang menyebutnya dengan “Malay  Archipelago” dan “Indian Archipelago”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> Sedangkan kata Indonesia pertama kali digunakan oleh J R Logan seorang peneliti Belanda tahun 1848. Sementara A. Bastian memakai kata itu tahun 1884. Selanjutnya kata itu populer dikalangan Antropologi Belanda dan bangsa Eropa lainnya. Kata “Indonesia” diambil dari terjemahan bahasa Eropa, yaitu kata INDUS + NESOS (INDUS berarti Hindhustan, dan kata NESOS berarti Pulau). </span><span>Kata NESOS berasal dari akar kata yang merupakan pinjaman dari bahasa Sanskerta (India), yaitu kata Nusa. Wilayah yang terbentang melingkar di Khatulistiwa ini pernah pula disebut oleh bangsa asing dengan istilah “Insulinde”, artinya “Pulau-pulau disebelah timur Indus (Insula = Pulau, Hindhustan)”. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Karena itu dalam perkembangan negeri di Nusantara selanjutnya akan nampak jelas, bahwa masih ada negeri-negeri lainnya yang tumbuh dan berkembang pesat pada masa itu meskipun nantinya tidak muncul menjadi suatu kerajaan yang besar dan kuat. Adapun negeri-negeri yang berkembang tersebut adalah sebagai berikut ; Negeri yang pertama sekali dikunjungi pendatang asing di Nusantara, negeri yang mereka sebut sendiri dengan kata Pha-Limbham dan Lu-Shiangshe (264 – 195 sM). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Negeri Pha-Limbham berkembang menjadi kerajaan Tarumanagara (negeri yang merupakan cikal bakal dari kerajaan dan raja-raja Tarumanagara pada abad ke-II M hingga tahun 690 M), dan di Kalimantan berdiri kerajaan Kutei. Di Sumatera negeri-negeri yang telah ada dan juga berkembang adalah kerajaan Bhuddha Phã-mnalä-yû Crïviyäyâ (Sriwiyaya) pada tahun 15 sebelum Masehi (sM), kerajaan Hindhu Phã-mnalä-yû Crï-Iňdrâpurä Miňangatämvàn dan kerajaan Hindhu Phã-mnalä-yû Tulang Bawang masing-masing telah ada pada tahun 10 sebelum Masehi (sM). Kerajaan Hindhu Phã-mnalä-yû Crï-Iňdrâpurä Miňangatämvàn di abad ke-XIV M pada masa pemerintahan Adityawarman (dinasti Mãulīvärmmaděvà) rajanya telah menganut ajaran Hindhu-Bhuddha (Syncretisme), dan raja ini tetap mengaku dirinya sebagai Mahapatih dari kerajaan Majapahit, dan Raja Phã-mnalä-yû inilah yang menyerang kerajaan Bhuddha Phã-mnalä-yû Crïviyäyâ. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Tujuh negeri yang disebutkan-sebut itu semuanya berada di pesisir pantai dan sungai. Namun perlu dijelaskan bahwa letak kerajaan Hindhu Phã-mnalä-yû Crï-Iňdrâpurä Miňangatämvàn dengan ibunegeri Crï-Iňdrâpurä adalah negeri yang di sebut-sebut dalam naskah kuno sebuah negeri yang terletak di muara sungai Kampar atau mungkin juga lebih tepat disebut negeri yang terletak menghadap kelaut (Kerajaan itu memiliki pelabuhan laut dan pelabuhan sungai). Dengan demikian jelaslah bahwa kerajaan yang dimaksud bukan negeri / Kota Siak Sri Indrapura yang ada sekarang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">Sumber_ <a href="http://www.metrobengkulu.com/?pilih=news&amp;aksi=lihat&amp;id=71">http://www.metrobengkulu.com/?pilih=news&amp;aksi=lihat&amp;id=71</a></span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/amarta.wordpress.com/86/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/amarta.wordpress.com/86/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/amarta.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/amarta.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/amarta.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/amarta.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/amarta.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/amarta.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/amarta.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/amarta.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/amarta.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/amarta.wordpress.com/86/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=amarta.wordpress.com&blog=2119919&post=86&subd=amarta&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://amarta.wordpress.com/2008/03/05/pelurusan-fakta-bengkulu-dalam-lintasan-sejarah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c4905f7da5efedfba7c3f6a4ed33f30e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">akarfoundation</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bengkulu Dalam Lintasan Sejarah</title>
		<link>http://amarta.wordpress.com/2008/03/05/bengkulu-dalam-lintasan-sejarah/</link>
		<comments>http://amarta.wordpress.com/2008/03/05/bengkulu-dalam-lintasan-sejarah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 05 Mar 2008 07:03:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Akar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita dari Kampung]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://amarta.wordpress.com/?p=85</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Hakim Benardie Sabrie 
Nama negeri Lu-Shiangshe (sekarang nama sungai Lusang) di Provinsi Bengkulu disebut dalam peta yang dibuat Strabo 63 sM- 21 M, seorang ahli Ilmu bumi bangsa Amasia Mesir, dan peta yang dibuat Claudius Ptolemaeus 127-151 M, seorang ahli ilmu bumi bangsa Yunani yang ditemukan 165 M. Claudius Ptolemaeus adalah putra kelahiran Iskandariah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=amarta.wordpress.com&blog=2119919&post=85&subd=amarta&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><span><span></span>Oleh: Hakim Benardie Sabrie </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Nama negeri Lu-Shiangshe (sekarang nama sungai Lusang) di Provinsi Bengkulu disebut dalam peta yang dibuat Strabo 63 sM- 21 M, seorang ahli Ilmu bumi bangsa Amasia Mesir, dan peta yang dibuat Claudius Ptolemaeus 127-151 M, seorang ahli ilmu bumi bangsa Yunani yang ditemukan 165 M. Claudius Ptolemaeus adalah putra kelahiran Iskandariah Mesir dan tinggal di Alexandaria, menyebutkan dalam peta adanya “Golzden Chersonese” Pulau Emas di Jabadiou, sebagai mana yang juga disebut dalam kitab Ramayana dengan istilah Yavdvipha atau javaviva. Pencari emas yang berlomba-lomba inilah nantinya banyak menyebar keseluruh pelosok negeri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Dua naskah kuno lainnya yang menceritakan tentang negeri Lu-Shiangshe, pertama didalam Kitab Taurat (Perjanjian Lama) yang ditemukan di negeri Syriah (Suriah) ± 350 sM. Kisah ini menceritakan bahwa “Nabi Silaiman as (± 600 sM) pernah memerintahkan pelaut Phoenisia untuk berlayar keseluruh penjuru dunia, mencari ophir (tambang emas)”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> Peta pelayaran kuno yang dibuat berdasarkan tulisan geograf Starbo (63 sM &#8211; 21 M) merupakan peta jalur pelayaran dari Eropa ke Cina, yang menyebutkan adanya rute pelayaran dunia melintasi Selat Sunda (Indonesia) untuk sampai ke negeri Cina. Idrisi atau Edrisi (1099 – 1154 M) lahir di Ceuta, seorang ahli Ilmu Bumi (geografi) bangsa Arab-Sepanyol masa pemerintahan Roger II. Risalah yang dibuatnya adalah merupakan kumpulan isi terpenting dari buku-bukunya terdahulu, juga merupakan gabungan dan lanjutkan dari karya Ptolomeus dan Al Masudi tentang peta bumi dan pelayaran. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Edrisi membuat risalahnya berdasarkan laporan-laporan asli yang dikirimkan oleh para peninjau yang dikirimkan keberbagai negeri untuk menguji kebenaran bahan laporan tersebut. Dengan perbandingan yang kritis Edrisi telah menunjukan suatu pandangan yang sangat luas dan memberikan pengertian mengenai kenyataan hakiki tentang kebulatan bentuk bumi. Ia juga berhasil menentukan sumber-sumber air sungai Nil yang berasal dari daratan tinggi khatulistiwa Afrika, dan dia berhasil membuat konstruksi bulatan langit dan peta dunia dalam bentuk cakra (Kedua-duanya terbuat dari perak). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Peta pelayaran 1411 M (merupakan peta pelayaran) yang hanya menyebut beberapa negeri yang disinggahi perahu layar pemiliknya. Di Pulau Sumatera hanya terdapat kota pelabuhan Pasee (NAD), Andripura (Indrapura, Riau), Manincabo (Padang, Sumbar), Lu-Shiangshe (Provinsi Bengkulu), Krui, Liamphon (Lamphong atau Lampung, Provinsi Lampung), Luzupara (Kemungkinan daerah Tulang Bawang atau Manggala), Lamby (Jambi), dan nama negeri Crïviyäyâ terletak di Musi Selebar. Peta lainnya yang dibuat oleh Petrus Bertius dan Jodocus Hondius pada tahun 1618 M dan peta tahun 1740 M yang diterbitkan Matthnum Seutter.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span class="judul"><span>Bangsa China Datang Tahun 225-216 SM</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span class="judul"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Di wilayah Lais, Ketaun dan Bintunan (baca: Peta zaman Belanda) disebutkan bahwa didaerah ini telah bermukim sebanyak delapan Kepala Keluarga (KK) etnis China (Cung Kuo Jen), 40 warga etnis China (Chi Au Sen), dan sejumlah keturunan dari keturunan etnis China (Chi Au Sen Se Pat Tay), memiliki aktifitas berdagang emas dan hasil bumi. </span><span>Mereka rata-rata memiliki keterampilan pandai emas (tukang emas yang membuat perhiasan), selain pedagang hasil bumi. Sedangkan penduduk lainnya adalah petani kebun yang makmur. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Jika perjalanan kehidupan penduduk ini kita lihat dari kilas balik (Flash back) sejarah negeri Bengkulu, maka bangsa China telah datang kenegeri ini sejak tahun 225-216 sebelum Masehi (sM) atau 147–138 Caka) yang berasal dari negeri Hyunan (China daratan). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Mereka inilah yang pertama kali mendirikan negeri bernama Lu-Shiangshe yang berarti sungai kejayaan atau sungai yang memberi kehidupan / harapan atau sungai emas. Sedangkan penduduknya, mereka menyebut diri dengan sebutan Rha-hyang atau Ra-Hyang atau Re-Hyang atau Re-jang. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kata Lu-Shiangshe ini selanjutnya berubah menjadi Lusang (Sungai Lusang?), sebagaimana juga kata Fort Marlborough berubah menjadi Malabero, dan di Jokya kata ini berubah menjadi Malioboro. Evolusi bahasa seperti ini di Bengkulu sangat banyak, termasuk kata Cat Twon menjadi Ketahun, dan Bin to Nine menjadi Bintunan, dan kata Bin to Hand menjadi Bintuhan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Sebelum pendatang ini tiba (225-216 sM atau 147-138 Caka) di Bengkulu (Wilayah Bengkulu Utara), memang telah ada penduduk Re-jang yang menghuni di sekitar daerah Lais, Bintunan dan Ketahun. Sedangkan pendatang baru, nampaknya merupakan generasi penerus dari penambang yang tiba lebih awal pada abad ke- III sebelum Masehi (sM)..<br />
Suatu hal yang menarik adalah ditemukannya mata uang China yang bertuliskan Chien Ma berangka tahun 421 Masehi di Bengkulu Utara (Pulau Enggano). Mata uang yang sama juga ditemukan di Criviyaya atau Criwiyaya (Baca: Palembang) dan di Tarumanagara (Baca : Jakarta). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Dari kata CHIEN MA inilah muncul kata Cha-Chien (Caci = uang dalam bahasa Rejang), Mo-Chien (Monce = uang dalam bahasa Bengkulu kota), Tha-Chien (Tanci = uang dalam bahasa Manna). Seorang bhiksu China bernama Fa-Hien atau Pa-Shien tiba di Nusantara pada tahun 414 Masehi dalam rangka kunjungannya ke negeri seribu pagoda India, dia singgah di- Criviyaya (Sriwiyaya) Palembang dan Tarumanagara (Jakarta). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Fa-Hien ini juga menceritakan tentang adanya pulau khayal, karena dia pernah transit (singah) di Pulau Enggano (Bengkulu Utara), Maladewa Srilangka dalam perjalanannya menuju India. Sebagai mana hal yang sama juga diceritakan Tome Pires dalam buku “Suma Oriental” ditulis pada tahun 1515, dan Pigafetta 1521 menyebutkan pulau Enggano dengan kata OCOLORE (Pulau yang dihuni oleh wanita-wanita saja). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span></span><span>Jika ditelaah dari kata Enggano maka kata ini diambil dari bahasa Mon (Hyunan China daratan) artinya rusa bertanduk. Ini menunjukkan bahwa wanita dipulau itu berdandan rambut berkepang (Sanggul) dua yang menonjol keatas, sebagai mana juga menjadi trend pada wanita China pada masa itu. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Sumber lain menyebutkan wanita-wanita dari Maladewa (Srilangka) juga banyak tinggal atau menjadi budak disana. Tentunya kita tidak tau persisnya bagai mana, namun cerita pulau Enggano sempat mendunia menjadi pulau Khayal. Ada pula yang melukiskan sebagai kerajaan yang hanya diperintah dan dihuni oleh wanita-wanita saja. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kedatangan etnis India tahun 264-232 sM, dan etnis China tahun 225-216 sM ke Nusantara (Pha-mnalayu) khususnya ke Bengkulu dan Banten (termasuk Jakarta), telah membuat goresan sejarah tersendiri pada masyarakat Bengkulu. Etnis China ini datang ke Nusantara (Pha-mnalayu) secara bergelombang, bersama dengan datangnya etnis India, mereka datang dan menyebar dari Lu-Shiangshe (Baca: Bengkulu), ke-negeri Phalimbam (Baca : Banten), negeri Da-ayak (Kalimantan, dan negeri Pone (baca : Sulawesi). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Selanjutnya berasimilasi dengan penduduk asli dan pendatang lainnya, hingga saat ini.<br />
Jika diperhatikan gelar yang diberikan masyarakat Bintunan kepada Pasirah Mardjati alias Ratu Samban, maka gelar ini jelas-jelas berbau bahasa China. Karena kata Sam berarti tiga (3), sedangkan Ban berarti Cheban atau sepuluh ribu (10.000). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Dengan demikian gelar kata RATU SAMBAN berarti; Ratu = Raja atau orang yang sangat dihormati, Samban = tiga puluh ribu. Gelar yang disandangnya ini secara jelas menunjukkan jasa pengorbanan yang diberikan Marjati kepada rakyat Bengkulu Utara, sesuai dengan beban pajak yang akan dipungut kolonial Belanda sebesar 30.000 Golden.q</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"> <span class="judul"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">Sumber_ <a href="http://www.metrobengkulu.com/?pilih=news&amp;aksi=lihat&amp;id=97">http://www.metrobengkulu.com/?pilih=news&amp;aksi=lihat&amp;id=97</a> </span></span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/amarta.wordpress.com/85/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/amarta.wordpress.com/85/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/amarta.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/amarta.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/amarta.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/amarta.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/amarta.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/amarta.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/amarta.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/amarta.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/amarta.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/amarta.wordpress.com/85/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=amarta.wordpress.com&blog=2119919&post=85&subd=amarta&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://amarta.wordpress.com/2008/03/05/bengkulu-dalam-lintasan-sejarah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c4905f7da5efedfba7c3f6a4ed33f30e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">akarfoundation</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Siyen Kutai</title>
		<link>http://amarta.wordpress.com/2008/02/23/siyen-kutai-2/</link>
		<comments>http://amarta.wordpress.com/2008/02/23/siyen-kutai-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 23 Feb 2008 07:06:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Akar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita dari Kampung]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://amarta.wordpress.com/?p=3</guid>
		<description><![CDATA[Lamun hari tukinang hari, Hari tukinang sedang hari tinggi, siamang tu sedang redawe, Kelik sedang pekik rami, Angin sedang gugur daun, Gururlah daun remacang mudo, Gugur daun repinang mudo, Lubuk sedang begenjo ijo,Ratu sedang bebayang kuning, Becalang mudik milir, Bibik sedang laburan jemur, Bujang juare sedang mericik tue ayam, Bujang gadis rau ketenun, Ilanglah lading [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=amarta.wordpress.com&blog=2119919&post=3&subd=amarta&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><span style="font-family:'Courier New';">Lamun hari tukinang hari, Hari tukinang sedang hari tinggi, siamang tu sedang redawe, Kelik sedang pekik rami, </span><span style="font-family:'Courier New';">Angin sedang gugur daun, Gururlah daun remacang mudo, </span><span style="font-family:'Courier New';">Gugur daun repinang mudo, Lubuk sedang begenjo ijo,</span><span style="font-family:'Courier New';">Ratu sedang bebayang kuning, Becalang mudik milir, Bibik sedang laburan jemur, Bujang juare sedang mericik tue ayam, </span><span style="font-family:'Courier New';">Bujang gadis rau ketenun, Ilanglah</span><span style="font-family:'Courier New';"> lading pertas tenun,</span><span style="font-family:'Courier New';">Ilang penyukit duri ladak,Baru teringet kepade pesan,</span><span style="font-family:'Courier New';"><span> </span></span><span style="font-family:'Courier New';">Ado</span><span style="font-family:'Courier New';"> pesan Wong Tue dulu Ade, </span></p>
<p><span style="font-family:'Courier New';">Lamun rejung kenyen suatu, </span><span style="font-family:'Courier New';">Rejung madak laut lepas, Lekap genap nuli redanan, </span><span style="font-family:'Courier New';">Riau rindau uli pekakas, Gereng kemas dede piagus, </span><span style="font-family:'Courier New';">Dedereng pengiran demak rauh, Amun be upi itu pinang idak beupi itu nibung amun betuli itu kudang, Idak betuli kudang badung, Kunang kauren nian datang,Kundang kurindu nian siba,</span><span style="font-family:'Courier New';">Namun muga, muga kerumo, </span><span style="font-family:'Courier New';">Warang kerume keberuge, </span><span style="font-family:'Courier New';"> </span><span style="font-family:'Courier New';">Tilik lah tetang wong desa, Lamun nak culo culo lah lage, </span><span style="font-family:'Courier New';"></span></p>
<p><span style="font-family:'Courier New';">Culo lage mato reganding, Nak culo nage nage ke laut, </span><span style="font-family:'Courier New';">Mato regading liman di hutan, Kabar ndak meruge adat care sirih pinang, Adat care pinang sukar di rube, </span><span style="font-family:'Courier New';">Lamun segalenye kurang dari tubuh, Lamun diwe bertulung duate berbatu, Wong pisak pacak bapit, </span><span style="font-family:'Courier New';">Baring miskin pacak kaye, Amun diwe idak bertulung, </span><span style="font-family:'Courier New';">Wong pisak tame pisak, Bareng miskin lame miskin, </span><span style="font-family:'Courier New';">Takele dina tekale, Tekale dina maso itu, </span><span style="font-family:'Courier New';">Betung betulis dengan tulisan awur bersurat dengan suratan, </span><span style="font-family:'Courier New';">Epe ditulis dengan betung, Ape disuret oleh aur, </span><span style="font-family:'Courier New';"> </span><span style="font-family:'Courier New';">Tiran</span><span style="font-family:'Courier New';"> ulung layang putiak, </span></p>
<p><span style="font-family:'Courier New';">ado disano, </span><span style="font-family:'Courier New';">Tiran</span><span style="font-family:'Courier New';"> ulung pandai membace,Layang putiak pandai menyurat, </span><span style="font-family:'Courier New';">Laju bepesan burung piran ulung, Amun cikundu ngadap keteluk, Besok kundu sare tangungan, </span><span style="font-family:'Courier New';">Kundu menengah jarang balik, Patah kundu hilang di ratau, </span><span style="font-family:'Courier New';">Abung cerite lamun jauh, Besaklah ikan lamun luput, </span><span style="font-family:'Courier New';">Ayam betabang senimar elang, Ikan dipangang tingal tulang, </span><span style="font-family:'Courier New';">Igak berigak padi masak, </span></p>
<p><span style="font-family:'Courier New';">Igak beragam badan tue, </span><span style="font-family:'Courier New';">Igak bedindang biduk anyut, Bepesan kedue dengan pesan, </span><span style="font-family:'Courier New';">Pesan burung layak putiak, Besili batu asah, </span><span style="font-family:'Courier New';">Gerenget tukanglah tibo, Idak ulah cari ulah, </span><span style="font-family:'Courier New';">Idak ban batu digale, Rumah ado cari podok, </span><span style="font-family:'Courier New';"> </span><span style="font-family:'Courier New';">Lamun orang pemanyek mati jatuh, Orang pedingin mati anyut, </span><span style="font-family:'Courier New';">Orang peibo ilang seurang, </span><span style="font-family:'Courier New';">Tang tilik lah tang, Tiliklah tang desa ninik mamak disini, </span><span style="font-family:'Courier New';">Desa serut laman sunyi, </span><span style="font-family:'Courier New';">Desa digepung oleh betung, </span><span style="font-family:'Courier New';">Desa disindang olih lalang, Rumah berarik tiang serik, </span><span style="font-family:'Courier New';">Satu adak tiang duduk, Peratin kurang perite, </span><span style="font-family:'Courier New';"></span></p>
<p><span style="font-family:'Courier New';">Bujang gadis kurang pengunyung.</span><span style="font-family:'Courier New';"> </span><span style="font-family:'Courier New';">Selebar ringgit sepangung, Gadis iluk nungu beruge, </span><span style="font-family:'Courier New';">Sude digepung dengan ringgit, Sude disindang dengan redai, </span><span style="font-family:'Courier New';">Ade anak bujang lumang, Kerimbo tenang, ndak merayap ke rimbo bano merang ke rimbo alas, Anak bujang kerimbo tenang, </span><span style="font-family:'Courier New';">Ibarat batu gulek idak beseding, batu pat dilipat jadi tige, </span><span style="font-family:'Courier New';">Anak bujang kerimbe tenang naik tebing turun tebing, </span><span style="font-family:'Courier New';">Naik gunung turun gunung, Nempuh hujan dengan panas, </span><span style="font-family:'Courier New';">Idak tentu malam dengan siang, </span></p>
<p><span style="font-family:'Courier New';">Malam peduman bulan bitang, </span><span style="font-family:'Courier New';"> </span><span style="font-family:'Courier New';">Siang peduman mate hari, </span><span style="font-family:'Courier New';">Anak bujang lumang kerimbe tenang betemu petemuan, </span><span style="font-family:'Courier New';">Temu endapat pendapatan, Temu telur kanyen sebiji, </span><span style="font-family:'Courier New';">Telu senayak seninang, Senayak di ujung jari, </span><span style="font-family:'Courier New';">Senindang di hati tangan,Stabik ucap sepakat,</span><span style="font-family:'Courier New';">Telur digengam rapat-rapat,Meretas menjadi burung empat, </span><span style="font-family:'Courier New';">Se bename burung elang, Due bename burung pungguk, </span><span style="font-family:'Courier New';">Tige bename burung tiung,Empat bename burung sawi.</span><b><span style="font-family:'Courier New';"><span> </span></span></b></p>
<p><b><span style="font-family:'Courier New';"><span></span></span></b><b><span style="font-family:'Courier New';">Rejong Burung empat</span></b><span style="font-family:'Courier New';"> </span><span style="font-family:'Courier New';"></span></p>
<p><span style="font-family:'Courier New';">Bepatun burung empat, Sebepatun dengan patun, </span><span style="font-family:'Courier New';">Bepatun lah burung elang, Lamun senulo burung elang, </span><span style="font-family:'Courier New';">Elang terbang melayang mgeser bumi, Muge ke langin langit ndak sape, turun kebumi, Upan segengam sukar makan, </span><span style="font-family:'Courier New';">Muge kelangit air setitik aus seminum, </span><span style="font-family:'Courier New';">Laju kesingen tumanak awan kasa, Kesian lapule burung elang, </span><span style="font-family:'Courier New';">Amun awat betake malang, Awat betake malang nian, </span><span style="font-family:'Courier New';">Patun kedue dengan patun,Bepatun burung punguk amun senulo burung punguk, Punguk merindu bulan, </span><span style="font-family:'Courier New';">Bulan tu idak merindu, Badan tubuh, menagislah burung punguk</span><span style="font-family:'Courier New';"> </span><span style="font-family:'Courier New';">Amun awat betake malang, Awat betake malang nian, </span><span style="font-family:'Courier New';">Kasianlah pule burung punguk, Patu ketige dengan patun patun burung tiung, Lamun senulo burung tiung, </span><span style="font-family:'Courier New';">Tiung besarang selenger pungur, Tiung merap pungur rebah, </span><span style="font-family:'Courier New';">Rambai sayap terbang layang, Pendek sayap terbang sayup, </span><span style="font-family:'Courier New';">Laju terbang lamur rayam, Menagis burung tiung, </span><span style="font-family:'Courier New';"></span></p>
<p><span style="font-family:'Courier New';">Amun awat betake malang, Awat betake malang nian, </span><span style="font-family:'Courier New';">Patun keempat dengan patun, Bepatun burung sawi, </span><span style="font-family:'Courier New';">Lamun senolu burung sawi, Setaun berujut, sebulan berajat, </span><span style="font-family:'Courier New';">Uju diwe putih kuning, Ujud duate jarang panau, </span><span style="font-family:'Courier New';">Kasianlah pule burung sawi, Lamun awat betake malang, </span><span style="font-family:'Courier New';">Awat betake malang tune, Serguni ditanam mati, </span><span style="font-family:'Courier New';">Sergaju ditanam layu, </span><span style="font-family:'Courier New';">Cendawan tangkap lepas dari tangan, </span><span style="font-family:'Courier New';">Sergujung di pijak lari, kasian lapule burung sawi. <span> </span><span> </span><span> </span><span> </span><span> </span><span> </span><span> </span><span> </span><span> </span><span> </span><span> </span><span> </span><span> </span></span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/amarta.wordpress.com/3/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/amarta.wordpress.com/3/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/amarta.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/amarta.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/amarta.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/amarta.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/amarta.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/amarta.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/amarta.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/amarta.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/amarta.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/amarta.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=amarta.wordpress.com&blog=2119919&post=3&subd=amarta&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://amarta.wordpress.com/2008/02/23/siyen-kutai-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c4905f7da5efedfba7c3f6a4ed33f30e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">akarfoundation</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>