<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
		>
<channel>
	<title>Komentar di: Dikecam! Papan Merek Mesjid Dicabut</title>
	<atom:link href="http://amarta.wordpress.com/2009/03/03/dikecam-papan-merek-mesjid-dicabut/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://amarta.wordpress.com/2009/03/03/dikecam-papan-merek-mesjid-dicabut/</link>
	<description>Aliansi Masyarakat Adat Rejang Tapus Pat Petulai</description>
	<lastBuildDate>Thu, 22 Oct 2009 00:55:51 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>Oleh: Eka "AMBUNG" Rakhmat</title>
		<link>http://amarta.wordpress.com/2009/03/03/dikecam-papan-merek-mesjid-dicabut/#comment-109</link>
		<dc:creator>Eka "AMBUNG" Rakhmat</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 01 Apr 2009 03:03:13 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://amarta.wordpress.com/2009/03/03/dikecam-papan-merek-mesjid-dicabut/#comment-109</guid>
		<description>Sebenarnya masalah perbatasan (teritorial) antara Kab. Lebong dengan Kab. Bengkulu Utara tak perlu di bawa ke arah konflik fisik, seperti yang di katakan oleh Basing Ado. Jangan mudah &quot;TERPROVOKATOR&quot; dengan hal-hal yang bersifat memecah belah, amati dan analisis dari berbagai aspek baru komentari. 
HATI boleh &quot;PANAS&quot;,tapi KEPALA tetap dingin. Duduk bersama antara Aparat pemerintah (Provinsi, Kab. Lebong dan BU) serta tokoh masyarakat yang ada di sekitar daerah yang menjadi &quot;konflik&quot; tersebut.
Mengapa demikian, antara penduduk Kab. Lebong terutama daerah Lebong Atas (Daed) dengan penduduk BU masih punya pertalian darah/asal-usul nenek moyang yang sama. Sebagai contoh, bahasa, seni dan budaya mempunyai persamaan yang besar. Jangan hanya karena KEPENTINGAN yang tak jelas juntrungannya, melibat masyarakat secara luas yang pada dasarnya tidak peduli dengan perbatasan dan jangan memperuncing serta membesar-besarkan masalah yang ada. Sebenarnya, masalah perbatasan inikan telah menjadi masalah yang lama, ketika Kab. Lebong masih bergabung dengan kabupaten Induk(Kab. Rejang Lebong). Namun sayang, waktu itu KADIRMAN, SH. sewaktu menjadi SEKDA Kab. Rejang Lebong tidak pernah melontarkan masalah perbatasan.
Dan juga sewaktu awal Kab. Lebong di definitifkan tidak pernah terbahas. Hal ini saya ketahui saat pulang kampung (ke Kelurahan Kampung Jawa) dan bertemu dengan tokoh-tokoh masyarakat Kampung Jawa, Desa Tunggang, Desa Lebong Donok dan Desa Gunung Alam, ini tidak terbahas. Ketika pada tahun 2002 sedang santer-santernya pemekaran/pembentukan Kab. Lebong, masalah perbatasan terabaikan. Sebelumnya tak ada masuk agenda padahal masalah perbatasan wilayah (teritori)sangat urgen untuk pengembangan potensi yang ada yang berujung kepada kesejahteran masyarakat. Tapi hal itu &quot;dilupakan&quot;. Koq sekarang pada RIBUT, berarti pembentukan Kab. Lebong karena KEPENTINGAN orang Lebong yang merasa PINTARkan dan &quot;haus&quot; kekuasaan ketika di tempat lain tak sanggup &quot;bersaing&quot;kan?   
Ini sebuah jawaban untuk Dang Basing Ado.
Wassalam Anok Jang Kampung Jawai Neak Ratau.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Sebenarnya masalah perbatasan (teritorial) antara Kab. Lebong dengan Kab. Bengkulu Utara tak perlu di bawa ke arah konflik fisik, seperti yang di katakan oleh Basing Ado. Jangan mudah &#8220;TERPROVOKATOR&#8221; dengan hal-hal yang bersifat memecah belah, amati dan analisis dari berbagai aspek baru komentari.<br />
HATI boleh &#8220;PANAS&#8221;,tapi KEPALA tetap dingin. Duduk bersama antara Aparat pemerintah (Provinsi, Kab. Lebong dan BU) serta tokoh masyarakat yang ada di sekitar daerah yang menjadi &#8220;konflik&#8221; tersebut.<br />
Mengapa demikian, antara penduduk Kab. Lebong terutama daerah Lebong Atas (Daed) dengan penduduk BU masih punya pertalian darah/asal-usul nenek moyang yang sama. Sebagai contoh, bahasa, seni dan budaya mempunyai persamaan yang besar. Jangan hanya karena KEPENTINGAN yang tak jelas juntrungannya, melibat masyarakat secara luas yang pada dasarnya tidak peduli dengan perbatasan dan jangan memperuncing serta membesar-besarkan masalah yang ada. Sebenarnya, masalah perbatasan inikan telah menjadi masalah yang lama, ketika Kab. Lebong masih bergabung dengan kabupaten Induk(Kab. Rejang Lebong). Namun sayang, waktu itu KADIRMAN, SH. sewaktu menjadi SEKDA Kab. Rejang Lebong tidak pernah melontarkan masalah perbatasan.<br />
Dan juga sewaktu awal Kab. Lebong di definitifkan tidak pernah terbahas. Hal ini saya ketahui saat pulang kampung (ke Kelurahan Kampung Jawa) dan bertemu dengan tokoh-tokoh masyarakat Kampung Jawa, Desa Tunggang, Desa Lebong Donok dan Desa Gunung Alam, ini tidak terbahas. Ketika pada tahun 2002 sedang santer-santernya pemekaran/pembentukan Kab. Lebong, masalah perbatasan terabaikan. Sebelumnya tak ada masuk agenda padahal masalah perbatasan wilayah (teritori)sangat urgen untuk pengembangan potensi yang ada yang berujung kepada kesejahteran masyarakat. Tapi hal itu &#8220;dilupakan&#8221;. Koq sekarang pada RIBUT, berarti pembentukan Kab. Lebong karena KEPENTINGAN orang Lebong yang merasa PINTARkan dan &#8220;haus&#8221; kekuasaan ketika di tempat lain tak sanggup &#8220;bersaing&#8221;kan?<br />
Ini sebuah jawaban untuk Dang Basing Ado.<br />
Wassalam Anok Jang Kampung Jawai Neak Ratau.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
