Ratu Samban berhak menjadi Pahlawan Nasional

Oleh : Hakim Benardie Sabri

Belanda Balik Menyerang, Sejak peristiwa gugurnya dua pejabat kolonial Belanda pada tahun 1873, pemerintah kolonial Belanda tidak henti-hentinya mengejar dan mencari terus Mardjati alias Ratu Samban yang disebut-sebut sebagai pahlawan oleh anak negeri.
Laki-laki berperawakan besar dan tinggi dengan rambut pancang terurai ini tidak mudah diperdayakan Belanda. Setiap rakyat yang ditemui dan dimintakan keterangan tentang keberadaan Ratu Samban selalu saja bungkam (tutup mulut), bahkan mereka seolah-olah tidak mengetahui adanya peristiwa pembantaian yang terjadi.

Akibat gerakan perlawanan masyarakat ‘tutup mulut’ Belanda mendapat kesulitan untuk membedakan pemimpin yang dicari-cari itu dengan rakyat biasa, karena Ratu Samban memang pemimpin yang merakyat, dan apa yang diperjuangkannya memang untuk rakyat. Pernah suatu ketika (1887) Ratu Samban tertangkap oleh kolonial Belanda di daerah Napal Putih (Ketaun = Cat twon), dan dia dibawa ke Fort Marlborough (Benteng) , namun beberapa saat kemudian serdadu Belanda lainnya juga melaporkan (Pasukan lainnya) telah menangkap Ratu Samban beserta pengawalnya, maka terpaksa Mardjati yang asli itu dilepaskan.

Pada tahun 4 Desember 1888, kolonial Belanda mendapat berita bahwa Mardjati alias Ratu Samban berada di Bintunan setelah bersembunyi dan berpindah-pindah dari Ketahuan dan Lais. Maka pada tahun 1889 Belanda mengumumkan (Mengeluarkan maklumat) keseluruh negeri berisikan “Akan memberikan hadiah yang besar kepada siapa saja yang dapat menangkap Mardjati alias Ratu Samban”.

Tanggal 24 Maret 1889 (Pada tengah malam) penjahat nomor wahid yang dicari-cari kolonial Belanda ini ditangkap, dan di eksekusi diatas rakit, sebagaimana dua pejabat Belanda di eksekusi oleh Ratu Samban. Tokoh ini wafat menjalani hukum pancung dengan tangan terikat, dan dia dimakamkan oleh masyarakat di Desa Bintunan Kecamatan Batik Nau (sekarang).

Dalam berbagai lagenda (sebagai bahan catatan) menyebutkan bahwa Mardjati adalah orang yang sakti mandraguna sehingga tidak mudah ditangkap, dan rakyat amat setia kepadanya sehingga tidak mudah diperdaya. Dalam kisah lainnya yang juga diceritakan secara berlebih-lebihan dalam lagenda, disebut-sebut Mardjati memiliki ilmu belut putih, sehingga badannya licin bagaikan belut jika ditangkap.

Sedangkan beberapa saksi menceritakan dalan lagenda bahwa. mereka melihat Mardjati tidak mempan ditembak dan ditusuk senjata tajam kolonial Belanda sewaktu membantai Asisten Residen dan kontroleur di Air Bintunan (Sungai Bintunan). Peristiwa ini telah membuat Mardjari semakin disegani masyarakat Bengkulu Utara ketika itu.

Sudah saatnya pemerintah, untuk segera mengusulkan Mardjati alias Ratu Samban sebagai Pahlawan Nasional dari Provinsi Bengkulu. Setidaknya ada pengakuan rakyat Bengkulu, yang ditetapkan berdasarkan Peraturan Daerah (Perda). Karena dia adalah pahlawan reformasi di masa penjajah, yang berjasa besar kepada rakyat kecil di Bengkulu Utara, dan gugur sebagai kusuma bangsa

Penobatan Gelar

Ratu Samban adalah gelar/adok yang diberikan kepada seorang Pesirah (sekarang sama dengan kepala desa) oleh tua-tua masyarakat di desa (Marga) Bintunan Kabupaten Bengkulu Utara pada tahun 1874, seusai musim panen. Tanda penghargaan dan penghormatan itu diberikan kepada Mardjati yang dinilai telah berhasil membela kepentingan rakyat, dan sekaligus telah berhasil membunuh dua orang penguasa kolonial Belanda yaitu Asisten Residen H.Van Amstel dan Kontroleur E.E.W Castens pada 2 September 1873, saat hendak menyeberang Sungai Bintunan.

Dalam tragedi penyeberangan dengan menggunakan rakit (bambu yang diikat), dua pejabat kolonial H.Van Amstel dan E.E.W Castens didamping emapat (4) orang depati negeri Sembilan (sebutan untuk negeri Bintunan) dan salah seorangnya yang turut menyeberangkannya adalah depati Mardjati. Sedangkan tiga orang lainnya tidak disebutkan namanya, namun dapat diduga bahwa mereka adalah depati yang ditangkap Belanda pada tahun 1878.

Perihal senjata yang digunakan oleh Mardjati alias Ratu Samban, pada peristiwa pembantaian itu adalah parang tajam (bukan keris), dan saat korbannya luka (pejabat Belanda) maka langsung dibuang/ditenggelamkan ke sungai Bintunan. Peristiwa itu terjadi saat cuaca dalam keadaan usai hujan, sedangkan sungai dalam keadaan banjir (Arus air sungai deras). Sedangkan kedua petinggi Belanda itu mengharapkan sampai keseberang, dan akan bermalam di Bintunan (darat diseberang sungai), karena hari menjelang petang.

Berdasarkan berbagai literatur dan catatan sejarah pada tahun 1901 hingga 1913, serta berbagai catatan kolonial Belanda di Batavia (Arsip Nasional), hingga saat tulisan ini diturunkan penulis belum menemukan satupun berita yang menyebutkan bahwa ‘Belanda pernah mengirim pasukan sebanyak 1000 orang serdadu ke Bengkulu’. Karena tidak pernah ada pertempuran terbuka, baik yang langsung dipimpin oleh Ratu Samban ataupun yang lainnya.

Ratu Samban bukanlah seorang panglima perang (Memiliki pasukan khusus tempur), tetapi sewaktu dia menyerang dua petinggi kolonial Belanda itu, dia disaksikan oleh ratusan warga yang menyambut kunjungan Asisten Residen H.Van Amstel dan Kontroleur Castens, yang sengaja dikerahkannya (Mardjati) untuk menyaksikan peristiwa pembantaian tersebut oleh depati Mardjati (sebelum menjabat Pasirah).

Mardjati seorang depati yang selanjutnya menjadi Pasirah karena dinilai telah berjasa melindungi masyarakat dari beban pajak (Raaden = Pajak yang harus dibayarkan kepada pemerintah Kolonial Belanda) sebesar 30.000 Golden. Hal itu berdasarkan ketentuan pemerintah kolonial Belanda di Batavia tahun 1872, serta hasil pertemuan pemuka masyarakat dengan kontroleur Castens dan Asisten Residen H.Van Amstel.

Beban pajak ini pulalah yang dirasakan amat berat oleh rakyat, khususnya yang berada Resort Bintunan. Pada tanggal 2 September 1873, dua pejabat penting ini mengadakan inspeksi kewilayah perkebunan rakyat, yang terkenal banyak menghasilkan kopi, lada, kopra, emas dan batu mulya diwilayah pesisir barat pulau Sumatera, yaitu Lais, Bintunan, Ketahun (Provinsi Bengkulu).

Sumber-sumber sejarah Inggris maupun Belanda banyak menyebutkan tentang komoditi yang berasal dari tiga wilayah ini, daerah yang menghasilkan kopi dan lada terbesar, disamping kopra, emas dan batu muly.

Sumber_ http://www.metrobengkulu.com/?pilih=news&aksi=lihat&id=52

About these ads

16 comments on “Ratu Samban berhak menjadi Pahlawan Nasional

    • Salam… Saya tertarik pada cerita ini. Kalo ada yang bisa bantu saya untuk mendapatkan info lebih lengkap tentang ratu samban… Saya tertarik untuk buat fiksi sejarahnya. Mudah2an ada yg respon walaupun cerita ini sudah sangat lama postingnya.

  1. Wah, terima kasih telah mengunjungi Blog kami, kita melihat banyak sekali perjuangan putra bengkulu yang tidak hanya mempertahankan identitas kebangsaan tetapi indentitas lokal dan itu perlu publist oleh kita-kita sehingga serpihan-serpihan cerita dan kisah bisa menjadi dokumen yang bisa diketahui oleh banyak kita..

  2. untuk data-data arsip yang saya punya, setelah peristiwa pembunuhan asisten residen san controluer, pemerintah Hindia Belanda mengirimkan tentaranya yang berasal dari Batavia, tebing tinggi, bukit tinggi, untuk mencari Pasirah Mardjati (Ratu Samban).

  3. Saya lahir di bintunan tetapi besar di bengkulu, sejak kecil saya sering mendengar cerita tentang panglima ratu samban dari bpak saya,bpak saya adalah cicit dr seorang pesirah pada zaman itu….
    dan saya suda 2 x diajak ziarah kemakam puyang ratu samban….
    saya sangat terkesan dengan cerita ini….
    sebenarnya saya kurang yakin akan cerita itu…
    karana saya hanya mendegar dr ayah saya…..
    maka saya encari cerita itu diinterney….
    yang saya sayang mengapa letak serta gambar makam sang ratu sampan tidak bsa saya temukan….
    apakah memang blum ada yang meliput langsung kesana,,,,
    sang panglima memang tak tak prlu pngakuan2 itu…
    tp kmi sebagai anak cu2 beliau sangat mengharapkan itu…..

  4. hari ini saya dan teman-teman ujian praktik ppl sebagai mahsswa smstr 7 di sdit iqra’ 1,, kebetulan materi yang teman saya ambil adalah ips kelas 5 tantang pahlwn nasional.
    kemudian dosen pembimbng sya menyarankan untuk mengembangkan mteri ini tdk hanya pahlawan dari daerah lain, tapi juga dari daerah bengkulu.
    saya teringat dengan cerita saat kecil ketika masih di argamakmur tentang pahlwn ratu samban yang dijadikan nama universitas ini..
    terimakasih informasinya,, saya semakin bangga dengan provinsi saya,,,
    semoga lain waktu saya juga bisa brkunjung ke bintunan dan merasakan atmosfer masa lalu dari perjuangan beliau,,,

  5. Salam… Saya tertarik pada cerita ini. Kalo ada yang bisa bantu saya untuk mendapatkan info lebih lengkap tentang ratu samban… Saya tertarik untuk buat fiksi sejarahnya. Mudah2an ada yg respon walaupun cerita ini sudah sangat lama postingnya.

  6. Stauq dr beberapa tetua, jg memuda, dan salah satunya kak Markisman, S.pi MM ratu samban t cewek. Dia dkenal dgn ratu semban k/punya selendang yg bisa ngontrol peluru meriam’a yg dr batu giling. Trus, yg d kubur d pulau sungai bintunan t selendang’a, makanya d bilang ‘Tepat’ bukan ‘kubua’ coz, diceritakan tubuh’a raib. Dan kepala penggalan yg d bwa ke batavia tertawa gt..
    Tp ca teak q kulo bah, teak nike ttuai teak ba si nyen..

  7. kenalkan saya hengky bambang supriyatno saya seorang film maker chusus dokumernter saya sangat tertarik untuk membuat film dokumenter hanya saja saya terkendala DANA” SIAPA YANG PUNYA DANA DAN BERMINAT BERKARYA BERSAMA BISA HUBUNGI SAYA DI hp 0811291990 trimakasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s