Sejarah Asal Usul Komunitas Adat Rejang

Posted on Februari 20, 2008. Filed under: Berita dari Kampung |

Suku bangsa Rejang yang dewasa ini bertebaran tentunya mempunyai asal usul mula jadinya, dari cerita secara turun temurun dan beberapa karangan-karangan tertulis mengenai Rejang dapatlah dipastikan bahwa asal usul suku bangsa Rejang adalah di Lebong yang sekarang dan ini terbukti dari hal-hal berikut :


  • John Marsden, Residen Inggris di Lais (1775-1779), memberikan keterangan tentang adanya empat Petulai Rejang, yaitu Joorcalang (Jurukalang), Beremanni (Bermani), Selopo (selupu) dan Toobye (Tubay).
  • J.L.M Swaab, Kontrolir Belanda di Lais (1910-1915) mengatakan bahwa jika Lebong di angap sebagai tempat asal usul bangsa Rejang, maka Merigi harus berasal dari Lebong. Karena orang-orang merigi memang berasal dari wilayah Lebong, karena orang-orang Merigi di wilayah Rejang (Marga Merigi di Rejang) sebagai penghuni berasal dari Lebong, juga adanya larangan menari antara Bujang dan Gadis di waktu Kejai karena mereka berasal dari satu keturunan yaitu Petulai Tubei.
  • Dr. J.W Van Royen dalam laporannya mengenai “Adat-Federatie in de Residentie’s Bengkoelen en Palembang” pada pasal bengsa Rejang mengatakan bahwa sebagai kesatuan Rejang yang paling murni, dimana marga-marga dapat dikatakan didiami hanya oleh orang-orang dari satu Bang dan harus diakui yaitu Rejang Lebong.

Pada mulanya suku bangsa Rejang dalam kelompok-kelompok kecil hidup mengembara di daerah Lebong yang luas, mereka hidup dari hasil-hasil Hutan dan sungai, pada masa ini suku bangsa Rejang hidup Nomaden (berpindah-pindah) dalam tatanan sejarah juga pada masa ini disebut dengan Meduro Kelam (Jahiliyah), dimana masyarakatnya sangat mengantungkan hidupnya dengan sumber daya alam dan lingkungan yang tersedia.

Barulah pada zaman Ajai mereka mulai hidup menetap terutama di Lembah-lembah di sepanjang sungai Ketahun, pada zaman ini suku bangsa Rejang sudah mengenai budi daya pertanian sederhadan serta pranata sosial dalam mengatur proses ruang pemerintahan adat bagi warga komunitasnya. Menurut riwayat yang tidak tertulis suku bangsa Rejang bersal dari Empat Petulai dan tiap-tiap Petulai di Pimpin oleh seorang Ajai. Ajai ini berasal dari Kata Majai yang mempunyai arti pemimpin suatu kumpulan manusia.

Dalam zaman Ajai ini daerah Lebong yang sekarang masih bernama Renah Sekalawi atau Pinang Belapis atau sering juga di sebut sebagai Kutai Belek Tebo. Pada masa Ajai masyarakat yang bekumpul sudah mulai menetap dan merupakan suatu masyarakat yang komunal didalam sisi sosial dan kehidupannya sistem Pemerinatahan komunial ini di sebut dengan Kutai. Keadaan ini ditunjukkan dengan adanya kesepakatan antara masyarakat tersebut terhadap hak kepemilikan secara komunal. Semua ketentuan dan praktek terhadap hak dan kepemilikan segala sesuatu yang menyangkut kepentingan masyarakat dipimpin oleh seorang Ajai. Walaupun sebenarnya dalam penerapan di masyarakat seorang Ajai dan masyarakat lainnya kedudukannya tidak dibedakan atau dipisahkan berdasarkan ukuran derajad atau strata.

Sungguhpun demikian pentingnya kedudukan Ajai tersebut dan di hormati oleh masyarakatnya, tetapi masih dianggap sebagai orang biasa dari masyarakat yang diberi tugas memimpin, ke empat Ajai tersebut adalah:

  • Ajai Bintang memimpin sekumpulan manusia yang menetap di Pelabai suatu tempat yang berada di Marga Suku IX Lebong
  • Ajai Begelan Mato memimpin sekumpulan manusia yang menetap di Kutai Belek Tebo suatu tempat yang berada di Marga Suku VIII, Lebong
  • Ajai Siang memimpin sekumpulan manusai yang menetap di Siang Lekat suatu tempat yang berada di Jurukalang yang sekarang.
  • Ajai Malang memimpin sekumpulan manusia yang menetap di Bandar Agung/Atas Tebing yang termasuk kedalam wilayah Marga Suku IX sekarang.

Pada masa pimpinan Ajai inilah datang ke Renah Sekalawi empat orang Biku/Biksu masyarakat adat Rejang menyebutnya Bikau yaitu Bikau Sepanjang Jiwo, Bikau Bembo, Bikau Pejenggo dan Bikau Bermano. Dari beberapa pendapat menyatakan bahwa para Bikau ini berasal dari Kerajaan Majapahit namun beberapa tokoh yang ada di Lebong berpendapat tidak semua Bikau ini bersal dari Majapahit. Dari perjalan proses Bikau ini merupakan utusan dari golongan paderi Budha untuk mengembangkan pengaruh kebesaran Kerajaan Majapahit, dengan cara yang lebih elegan dan dengan jalan yang lebih arif serta mementingkan kepedulian sosial dan menjunjung tinggi nilai-nilai luhur budaya lokal. 

Melalui strategi para utusan Menteri Kerajaan seharusnya tidak lagi berusaha untuk menyebarkan kebudayaan serta bahasa Jawa. Oleh karena itu golongan paderi Budha yang memiliki tindakan yang tenang dan ramah tamah, dengan mudah dapat diterima dan masyarakat Rejang. Terbukti bahwa keempat Biku tersebut bukanlah mempunyai maksud merampas harta atau menerapkan upeti dan pajak terhadap Raja Majapahit, namun mereka hanya memperkenalkan kerajaan Majapahit yang tersohor itu dengan raja mudanya yang bernama Adityawarman. Sewaktu mereka sampai di Renah Sekalawi keempat Biku tersebut karena arif dan bijaksana, sakti, serta pengasih dan penyayang, maka mereka berempat tidak lama kemudian dipilih oleh keempat kelompok masyarakat (Petulai) dengan persetujuan penuh dari masyarakatnya sebagai pemimpin mereka masing-masing.

  • Biku Sepanjang Jiwo menggantikan Ajai Bitang
  • Biku Bembo menggantikan Ajai Siang
  • Biku Bejenggo menggantikan Ajai Begelan Mato
  • Biku Bermano menggantikan Ajai Malang

Setelah dipimpin oleh empat Biku, Renah Sekalawi berkembang menjadi daerah yang makmur dan mulai produktif pertaniannya sudah mulai bercocok tanam, berkebun dan berladang. Sehingga pada saat itulah kebudayaan mereka semakin jelas dan terkenal dengan adanya tulisan sendiri dengan abjad Ka-Ga-Nga (sampai sekarang masih lestari dan di klaim menjadi tulisan asli Bengkulu).

Setelah keempat Biku terpilih untuk memimpin kelompok masyarakat mendapat sebuah tantangan dalam bentuk bencana wabah penyakit yang menyerang masyarakat. Bencana itu terjadi kira-kira akhir abad ke XIII, wabah penyakit yang banyak merenggut jiwa masyarakat tanpa memandang umur dan jenis kelamin. Menurut ramalan para ahli nujum setempat yang menyebabkan datangnya musibah itu adalah seekor beruk putih yang bernama Benuang Sakti dan berdiam di atas sebuah pohon yang besar di tengah hutan.

Untuk mencari jalan keluar atas bencana yang terjadi, keempat Biku itu bersepakatlah untuk mencari pohon besar tersebut dan segera menebangnya dengan sebuah harapan setelah ditebang dapat mengakhiri wabah yang terjadi. Setelah membagi tugas masing-masing mereka berpencar ke segala penjuru hutan dan akhirnya rombongan Biku Bermano sampai dan menemukan pohon besar yang mereka cari, mereka kemudian segera untuk menebang pohon besar itu, namun usaha mereka tidak berhasil menebang pohon tersebut karena semakin ditebang oleh kapak, pohon tersebut semakin bertambah besar, kejadian yang sama terjadi, setelah rombongan dari Biku Sepanjang Jiwo sampai di tempat yang sama dan mencoba untuk menebang pohon besar itu, disusul rombongan dari Biku Bejenggo tetapi pohon itu pun tidak juga roboh. Pada saat itu munculah rombongan terakhir yaitu Biku Bembo dan kepada mereka diceritakan kejadian aneh yang mereka alami dalam menebang pohon besar yang tidak mau roboh setelah ditebang bahkan pohon itu bertamah besar.

“Riwayat saat bertemu rombongan pimpinan Biku Bembo bertemu dengan ketiga rombongan di tempat ditemukannya pohon besar yang di atasnya ada beruk putih bernama Benuang Sakti berada terlontarlah kata-kata dalam bahasa Rejang: pro pah kumu telebong  yang berarti di sini kiranya saudara-saudar berada. Sejak peristiwa itu Renah Sekalawi bertukar nama menjadi Lebong”.

Setelah diceritakan kejadian yang terjadi kepada rombongan Biku Bembo, mereka bermusyawarah untuk mengatasi masalah yang terjadi itu dan bersepakat meminta petunjuk kepada Sang Hiang (Yang Maha Kuasa) supaya dapat mencari cara bagaimana menebang pohon besar itu supaya dapat ditebang. Cara yang dilakukan oleh keempat Biku itu adalah dengan betarak (bertapa), setelah betarak dilakukan mereka mendapat petunjuk pohon itu dapat ditebang kalau dibawahnya digalang/ditopang oleh tujuh orang gadis muda/remaja.

Setelah itu mereka bergegas menyiapkan segala sesuatu petunjuk yang didapat oleh Sang Hiyang termasuk bagaimana caranya mereka mencari akal supaya ketujuh gadis itu supaya tidak menjadi korban atau mati tertimpa oleh pohon besar  yang akan dirobohkan. Selanjutnya mereka menggali parit untuk menyelamatkan ketujuh gadis penggalang itu. Setelah pekerjaan membuat parit dan ketujuh  gadis siap untuk menggalang pohon yang akan dirobohkan, maka mulailah pohon besar itu ditebang dan sesungguhnya pohon itu roboh di atas tempat ketujuh gadis penggalang.  Parit yang dibuat tepat di tempat rebahnya pohon besar yang telah ditebang telah menyelamatkan ke tujuh gadis  dari maut dan terlindungi di dalam parit yang dibuat.

  • “Peristiwa yang diriwayatkan di atas dijadikan awal dari pemberian nama bagi petulai-petulai mereka sesuai dengan pekerjaan rombongan pemimpin masing-masing  dalam usaha menebang pohon besar dimana tempat bersemayam beruk putih Benuang Sakti”.
  • Petulai Biku Sepanjang Jiwo diberi nama Tubeui atau Tubai, asal kata dari bahasa Rejang “berubeui-ubeui” yang  berarti berduyun-duyun.
  • Petulai Biku Bermano diberi nama Bermani, asal kata ini dari bahasa Rejang “beram manis” yang berarti tapai manis.
  • Petulai Biku Bembo diberi nama jurukalang, asal kata dari bahasa Rejang “kalang” yang berarti galang.
  • Petulai Biku Bejenggo diberi nama Selupuei asal kata dari bahasa Rejang “berupeui-uoeui” yang berarti bertumpuk-tumpuk.

Maka sejak saat itulah Renah Sekalawi bernama Lebong dan tercipta Rejang Empat petulai yang menjadi Intisari dan asal mula suku bangsa Rejang. 

Kesepakatan yang di bangun setalah prosesi penebangan kayu Benuang Sakti ini semua rakyat di bawah pimpinan Bikau Sepanjang Jiwo di mana saja mereka berada di satukan di bawah kesatuan Tubey dan berpusat di Pelabai. Dengan kembalinya Bikau Sepanjang Jiwo ke Majapahit atau ada yang berpendapat ke bagian Majapahit Melayu yang berfusat di Pagar Ruyung, kepemimpinan Bikau ini kemudian di gantikan oleh Rajo Mengat atau Rajo Mudo Gunung Gedang yang kedatangannya dapat diperkirakan sekitar abad ke-15.

 

Baru setelah kepemimpinan Rajo Mengat ini yang digantikan oleh anaknya bernama Ki Karang Nio yang memakai gelar Sultan Abdullah akibat pertambahan jumlah penduduk dan kebutuhan untuk invansi wilayah, maka anak komunitas ini bertebaran dan membentuk komunitas-komunitas baru atas kesepakatan besar yang dilakukan di Lebong kemudian Petulai Tubey ini dipecahkan menjadi Marga Suku IX yang berkedudukan di Kutai Belau Saten, Marga Suku VIII di Muara Aman dan Merigi untuk pecahan Petulai Tubey di Luar wilayah Lebong.

 

Petulai Selupu tidak pecah dan tetap utuh walaupun anggota-anggotanya bertebaran ke mana-mana. Menurut riwayat Bikau Pejenggo yang mengantikan Ajai Malang ini berkedudukan di Batu Lebar di Kesambe yang merupakan wilayah Rejang, sedangkan Desa Administratif Atas Tebing include ke dalam wilayah adat Selupu Lebong yang merupakan wilayah desa yang berbatasan dengan wilayah adat Rejang Pesisir dan Desa Suka Datang berada dalam wilayah Marga Suku IX secara fisik berbatasan dengan wilayah Adat Bintunan Rejang Pesisir.

 

Sistem Kelembagaan Komunal/Adat

 

Dari resume yang ditulis di atas dapat diketahui bahwa asal usul suku bangsa Rejang dari Lebong dan berasal dari empat Petulai yaitu Jurukalang, Bermani, Selupu dan Tubey. Dari Tulisan Dr Hazairin dalam bukunya De Redjang yang mengutip tulisan dari Muhammad Husein Petulai di sebut juga dengan sebutan Mego.

 

Hal ini di perkuat juga dengan tulisan orang-orang inggris yang pernah di Bengkulu Marsden dan Raffles demikian juga dengan orang Belanda Ress dan Swaab menyebut juga perkataan Mego.

 

Petulai atau Mego ini adalah kesatuan kekeluargaan yang timbul dari sistem unilateral dengan sistem garis keturunan yang patrilinial dan perkawinan yang eksogami, sekalipun mereka terpencar dimana-mana. Sistem eksogami ini merupakan syarat mutlah timbulya Petulai/clan sedangkan sistem kekeluargaan yang patrilineal sangat mempengaruhi sistem kemasyarakatan dan akhirnya mempengaruhi bentuk kesatuan dan kekuasaan dalam masyarakat.

 

Pada zaman Bikau masyarakat di atur atas dasar sistem hukum yang di buat berdasarkan azas mufakat/musyawarah, keadaan ini melahirkan kesatuan masyarakat hukum adat yang disebut dengan Kutai yang dikepalai oleh Ketuai Kutai. Kutai ini bersal dari Bahasa dan perkataan Hindu Kuta yang difinisikan sebagai Dusun yang berdiri sendiri, sehingga pengertian Kutai ini adalah kesatuan masyarakat hukum adat tunggal yang geneologis dengan pemerintahan yang berdiri sendiri dan bersifat kekeluargaan.

 

Pada Zaman kolonial kemudian sistem kelembagaan dan pemerintahan adat ini oleh Assisten Residen Belanda J. Walland (1861-1865) kemudian mengadopsi sistem pemerintahan lokal yang ada di wilayah Palembang dengan menyebut Kutai atau Petulai ini dengan sebutan Marga yang dikepalai oleh Pesirah. Dengan bergantinya sistem pemerintahan ini Kutai di ganti dengan sebutan Dusun sebagai kesatuan masyarakat hukum adat secara teroterial di bawah kekuasaan seorang Kepala Marga yang bergelar Pesirah. (team AMARTA: Salim Senawar, Erwin S Basrin, Madian Sapani, Henderi S Basrin, Sugianto Bahanan, Hadiyanto Kamal, Riza Omami, Bambang Yuroto)

Make a Comment

Make a Comment: ( 7 so far )

blockquote and a tags work here.

7 Responses to “Sejarah Asal Usul Komunitas Adat Rejang”

RSS Feed for Aliansi Masyarakat Adat Rejang Tapus Pat Petulai Comments RSS Feed

Assalamualikum,.

uku tun jang, teak ku tun taba penanjung, inok ku tun sambe. hati hati ada kristenisasi terhadap suku redjang,.

++++qte ++++

Hari 28. Suku Rejang di Indonesia
From: e-DOA
Subject: [40-Hari-2006][28] Suku Rejang di Indonesia

—————- 40 HARI MENGASIHI BANGSA DALAM DOA —————-
———————————————————————-
Rabu, 11 Oktober 2006

SUKU REJANG DI INDONESIA
========================

Populasi Suku Rejang di Indonesia: 700.000 jiwa.
Muslim : 99,9%
Kristen : kurang dari 50 orang
Alkitab : belum diterjemahkan
Film Yesus : tidak tersedia bagi Suku Rejang
Gereja Rejang: belum ada

Suku Rejang (yang disebut juga dengan Djang) hidup di hutan tropis di
pegunungan bukit Barisan di Sumatera, pulau terbesar di Indonesia.
Hutan ini ditumbuhi Rafflesia, bunga terbesar di dunia (diameternya
hampir 1 meter). Pulau tropis Sumatera memiliki cuaca yang lembab dan
panas, walaupun di pegunungan cukup nyaman dan dingin.

Suku Rejang dibagi dalam 5 kelompok yang terletak di dataran tinggi
yang subur, Lembah Musi dan daerah pantai dekat Samudera Hindia. Untuk
berabad-abad, Suku Rejang terisolasi dari dunia sekitarnya. Bangga
akan sejarah mereka, mereka tidak tertarik pada kebudayaan lain dan
curiga terhadap orang luar. Baik pria maupun wanita berpakaian
tradisional batik yang berwarna-warni, disebut sarung atau kain.
Makanan utama mereka adalah nasi dengan sayur-mayur dan buah-buahan.
Hasil dari daerah ini termasuk beras, teh, kopi, minyak kelapa, kayu
eboni dan karet. Sebagian Suku Rejang bekerja di perkebunan dan yang
lain adalah pengrajin berpengalaman yang bekerja dengan kayu, metal,
kulit dan kertas.

Ukuran pedesaan Rejang bervariasi dari 15 – 900 rumah. Pedesaan yang
memiliki sistem irigasi memiliki lebih dari 4.000 orang yang tinggal
di dalamnya. Kepala desa dipilih oleh masyarakat. Setiap desa memiliki
sebuah balai desa di mana upacara tari-tarian dan perayaan diadakan.
Rumah tradisi Rejang dibuat dengan tiang-tiang sekitar 1,5 – 2 meter
di atas tanah. Memiliki serambi terbuka untuk menerima tamu. Dinding
luar rumah dihiasi oleh tiang-tiang mendatar yang diukir artistik dan
pilar-pilar yang indah warna-warni. Secara tradisional, seorang ayah
adalah kepala keluarga tetapi perjanjian pernikahan menentukan apakah
seorang anak akan menjadi milik keluarga sang ibu atau ayah atau milik
keluarga besar.

Pada mulanya, Suku Rejang melakukan praktek animisme. Mereka percaya
bahwa segala sesuatu yang alami, seperti batu, pohon dan binatang
memiliki jiwa yang tidak mati. Islam dibawa ke Sumatera oleh para
pedagang Muslim di akhir abad ke-13 dan sejak abad ke-20 seluruh Suku
Rejang, kecuali beberapa gelintir orang, sudah menjadi Islam. Tetapi
ritual animisme berperan penting dalam kehidupan sehari-hari. Sihir
dan okultisme dipakai untuk perlindungan dan untuk memerangi sakit
penyakit, ketidaksuburan dan para musuh. Malangnya, belum ada
terjemahan Alkitab yang tersedia dalam Bahasa Rejang, atau siaran
radio Kristen atau program TV. Beberapa misi lokal bekerja di antara
Suku Rejang, walaupun sampai saat ini mereka belum sepenuhnya
berhasil, tapi sudah ada sekitar 50 orang Kristen ada di antara suku
ini.

POKOK DOA

* Doakan agar Tuhan memanggil para pria dan wanita untuk bersaksi bagi
Kristus di antara Suku Rejang.

* Doakan agar Tuhan menjaga, menguatkan dan mendorong orang-orang
percaya Rejang yang seringkali hidup terisolasi di antara suku
mereka. Biarlah mereka menemukan keberanian untuk bersaksi bagi
Kristus di antara suku mereka.

* Mintalah kepada Tuhan untuk memanggil ahli bahasa untuk
menterjemahkan Alkitab ke dalam Bahasa Rejang.

* Doakan agar terjadi terobosan rohani sehingga banyak orang menjadi
terbuka bagi Injil.

POKOK DOA INDONESIA

* Rumpun Minangkabau, suku-sukunya: Bengkulu, Kerinci, Minanglabau,
Muko-muko, Pekal, Rejang.

* Kota-kotanya: Bengkulu, Padang, Bangko, sungai penuh, Muarabungo,
Solok Muao, Padang Panjang, Batusangkar, Payah Kumbuh.

e-Doa ———————————————————- I-KAN
Anda terdaftar dalam e-DOA [40-Hari] sebagai xxxxx(at)xxxxx.xxx
Untuk berlangganan:
Untuk berhenti :
Arsip 40 Hari Doa : http://www.sabda.org/publikasi/40hari/
———————————————————————-
Copyright(c) 2006 oleh e-DOA dan “MENGASIHI BANGSA DALAM DOA”

tulung udi sembea berita nak das gen bapak mama tamang, anak , peu ite

tulung api gi namen sejara Rindu ati ( Duatei)

Bang Frant saat ini AMARTA dan teman2 Akar Foundation sedang mengali adat Rejang terutama di luar wilayah Rejang (Lebong, Musi dan Kepahiang) Rindu Hati jika dilihat dari sejarah turun temurun berasal dari Komunitas Adat Selupu tapi kita belum bisa mempublis ini karena keterbatasan data yang ada….

Mak Johan
saudaraku.. sekarang kamipun tinggal di taba mulan.. puyang kami juga asal sekayun
tanya aja mak johan pasti kenal aku..

thank infonya

thanks info nya,.

coba anda main kepada saudara Johan Di Desa taba Mulan, Dia banyak mengenal sejarah redjang,. beliau asalnya Sekayun. dan Tinngal disalah satu Wedana yang mana banyak Pesirah yang mampir dan bercerita.

Pendokumentasian tentang suku rejang yang mencakup sejarah dan adat istiadat, dll. memang sangat penting dan dibutuhkan.
Tulisan yo sangat baes ngen menarik, semoga pahyo tulisan yo lebiak lengkap igai.


Where's The Comment Form?

    About

    Aliansi Masyarakat Adat Rejang Tapus Pat Petulai

    RSS

    Subscribe Via RSS

    • Subscribe with Bloglines
    • Add your feed to Newsburst from CNET News.com
    • Subscribe in Google Reader
    • Add to My Yahoo!
    • Subscribe in NewsGator Online
    • Komentar-komentar terakhir pada seluruh tulisan dalam RSS
    • Subscribe in Rojo

    Meta

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...