Komunitas Adat Bermani Ilir dan Persoalan

Bermani Ilir merupakan salah satu komunitas adapt yang berada di Kabupaten Kepahiang yang secara Administratif berada di 3 wilayah Kecamatan yaitu Bermani Ilir, Tebat Karai dan Seberang Musi. Komunitas adat ini juga merupakan bagian dari komunitas adat yang menerima dampak dari pengelolaan sumber daya alam yang ekploitif dan deskruktif. Akibat nyata yang dirasakan adalah beberapa kali banjir banding yang dirasakan oleh masyarakat Desa Cinta Mandi, erosi tanah di sepanjang Sub-Das Kemumu dan Langkat.

Sebagai Kabupaten Baru Kabupaten, isu-isu degradasi lingkungan kurang begitu mendapatkan perhatian yang serius dari para Pemangku Kebijakan di wilayah ini, kebijakan daerah di arahkan pada pembenahan infrasturktur pemerintahan dan politik serta penertiban administrasi. Sehingga yang di rasakan oleh masyarakat adat adalah keterbatasan akses informasi dan beran politik untuk terlibat langsung dalam semua tahapan pembuatan kebijakan baik perencanaan, pengawasan maupun proses akuntabilitas.

Persoalan yang muncul di Kabupaten Kepahiang selain hal tersebut di atas adalah menyangkut hak ‘pengusaan’ (land tenure) dan pemanfaatan sumber daya alam yang disebabkan perbedaan acuan antara hukum adat yang berlaku di komunitas dengan peraturan perundangan Negara.

Bermani Ilir sebagai wilayah adat juga berada di wilayah Administratif Kecamatan yang merupakan salah satu Kecamatan yang berada di Lingkup Kabupaten Kepahiang memiliki Luas 704,57 Km², dengan jumlah Penduduk 30.041 Jiwa, hamper 95 % penduduknya bermata pencarian sebagai petani Perkebunan Rakyat dengan tanaman Kopi, Jahe, dan Palawija yang sangat tergantung atas kondisi dan kesuburan tanah secara alami. Secara garis besar komunitas ini berada di bagian hilir Sub DAS Kemumu dan Sub DAS Langkat, yang mempunyai kawasan hilir berada di Hutan Lindung Balai Rejang Register 6.

Sebagai daerah yang berada di wilayah pegunungan yang rawan longsor, dengan kemiringan dan jenis tanah yang ada menunjukkan bahwa tenaga potensi air yang ada termasuk kedalam kategori tinggi sehingga daya rusak (erosivitas) dan pelimpasan (run off) juga tinggi, hal ini juga dapat dilihat dari bagaimana interaksi faktor lingkungan yaitu faktor iklim (suhu, kelembaban, hujan, angin, sinar matahari), faktor tanah/edafik (geologi, bahan dasar tanah, morfologi, topografi ) dan faktor vegetasi serta faktor manusia dengan pola budi daya lahan pertanian monokultur, ladang terbuka dengan tanaman musiman sejenis serta tanpa upaya pencegahan erosi (strip cropping, terasering) di wilayah tersebut merupakan ancaman terhadap keseimbangan ekologis dan kualitas lingkungan.

Di wilayah Bermani Ilir ini kemunduran kesuburan tanah dan erosi, terjadi karena beberapa hal, 1) tidak tersedianya tanaman usia panjang di lahan menyebabkan proses dekomposisi bahan organik alami dalam tanah tidak terjadi, dimana tidak terdapat input proses penyuburan tanah secara alami (daun-daunan dan bahan organik lainnya). 2) Tidak tersedianya unsur organik dalam tanah juga menyebabkan hilangnya fungsi lain yang berguna seperti mengikat air agar tidak mudah dievaporasikan dan diperkolasikan.

Penyebab rendahnya penguasaan teknik budidaya tanaman dapat dipandang dari dua segi yaitu 1) kondisi sosial budaya dan 2) letak wilayah yang berkaitan dengan partisipasi pemerintah desa beserta Dinas terkait.

Sebagian besar masyarakat di kawasan perbukitan termasuk masyarakat adat dengan tingkat pendidikan rendah dan ini berimplikasi langsung pada daya analisa terhadap lingkungan. Pengelolaan lahan pertanian secara tradisional merupakan adopsi turun-temurun akibat transfer pengetahuan kearifan lokal yang tidak sempurna disamping sebagai Kabupaten Baru yang sedang menata diri sehingga lebig fokus pada pembanguan inprastruktur politik kepemerintahan sehingga kurangnya perhatian pemerintah maupun dinas terkait terhadap kebutuhan asistensi dan transfer teknologi dan informasi mengenai pengelolaan lahan dan lingkungan (hutan dan lahan).

Rendahnya tingkat pemanfaatan lahan karena pemilihan pola tanam (cropping pattern), pola monokultur dan manajemen penanaman (crop manajemen), tidak sesuai dengan kondisi lahan sehingga kurang terlindung dari kerusakan, mengakibatkan rendahnya produktivitas lahan. Sementara secara general Kabupaten Kepahiang memiliki Luas Hutan 36.644,58 Ha dengan perincian di peruntukan untuk kawasan produksi 18.322,27 Ha, peruntukan untuk kawasan Konservasi seluas 3,2 Ha, Hutan Wisata 8.515 Ha dan Hutan Lindung 9.804,11 Ha.

Dari kondisi dan luasan wilayah hutan tersebut seyogjannya ada intensif yang jelas yang di berikan kepada sector pertanian rakyat, kebijakan ‘kakaonisasi’ di Kabupaten Kepahiang sejauh ini belum bias menjawab persoalan di atas baik persoalan yang di hadapi masyarakat adat sehubungan dengan kebutuhan pertanian maupun persoalan konservasi yang akan mengancam secara langsung wilayah adapt terutama di sepanjang Sub DAS Kemumu dan Sub DAS Langkat.

Proses pemberdayaan masyarakat untuk membangun kembali inisiatif local menjadi penting untuk dilakukan untuk menekan proses degradasi lingkungan, manfaatn ekonomis yang berangkat dari kondisi dan karateristik social budaya dan lingkungan masyarakat adat terutama masyarakat adat Bermani Ilir. (team AMARTA: Salim Senawar, Erwin S Basrin, Madian Sapani, Henderi S Basrin, Sugianto Bahanan, Hadiyanto Kamal, Riza Omami, Bambang Yuroto)

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s